Arsip untuk Juni, 2013

1-Januari-2011.
Saat itu aku pulang kerumah sehabis merayakan tahun baru dengan teman-temanku, ku dapati rumah tak ada satu orangpun, aku langsung menelpon mama. Mama bilang “papa sedang berobat ke kebon jeruk Jakarta, mungkin papa akan menginap di depok, karena tidak mungkin pulang lagi ke bogor, terlalu jauh kasihan papa” ujar mama.

Oh, saat itu aku pikir ada sesuatu yang penting yang harus sampai papa berobat hari itu juga. Ternyata papa berobat rutin. Aku tidak punya firasat apapun.

Tengah malam (2-januari-2011)
Tiba-tiba telephone genggam mama berbunyi, aku terjaga. Pikirku orang gila mana yang menelpon malam-malam begini kalau ternyata tidak penting sekali, kulihat layar handphone, di sana tertera nama kakakku.

“cepat panggil mama, papa mau dibawa ke rumah sakit PMI !”
“DARI DEPOK !!???” ujarku
“Iya, papa sesak napas !”

Segera kubangunkan mama, lalu kami menuju ke rumah sakit PMI Bogor.

Papa, adalah sosok yang tangguh, bahkan terlalu tangguh. Beliau terlalu menganggap “remeh” penyakit yang sedang di idapnya sehingga terkadang, papa sedikit “bandel” untuk memakan makanan yang sebenarnya justru menjadi pantangan terbesarnya.

“Bapak harus masuk IGD, bu.” Kata seorang dokter kepada mama
Aku dan kakakku segera mencarikan IGD untuk papa, namun di kota bogor semua IGD penuh, papa harus dilarikan ke rumah sakit fatmawati.
***
5-Januari-2011
Papa pernah berpesan kepadaku, “kamu sebagai anak laki tertua, punya tanggungjawab besar terhadap keluarga, setelah nanti papa tidak ada, persiapkan mental adalah hal yang paling penting, urus keluarga, jaga mama, pasangan jiwa papa yang selalu menenami papa sedih dan senang selama 31 tahun ini, lalu carilah pendamping hidup yang baik, yang sholeh, yang mampu menemanimu baik susah maupun senang.”
“iya pa”
“mungkin papa tidak akan bisa melihat pernikahanmu nanti, maka banggakanlah keluarga besar atas pernikahanmu”
“iya pa, itu masih lama”
“tapi papa mau itu terjadi”
“pasti pa”
“kenalkan papa, pada cucu-cucu papa, meskipun papa sudah tidak ada”
“iya pa”

Pesan itu adalah pesan terakhir papa sebelum beliau koma.

6-Januari-2010 pukul 13.30 WIB
Papa sedang kritis, alat Bantu pernapasan sudah masuk kedalam mulutnya, aku tidak pernah tega melihat papa dibeginikan, mungkin papa sakit, tapi mungkin akan lebih sakit lagi jika alat tersebut dicabut.

Aku terus menemani papa, membisikan kalimat Allah… Allah SWT setiap detik nya di kuping beliau, terus beristighfar ditelinga papa, sesaat aku sempat membisikan ke telinga beliau, sambil memegang tangannya ;
“Pa, anak manapun tidak akan pernah rela di tinggalkan oleh papanya tercinta, tapi aku sadar pa, papa bukan Cuma milik, mama pasangan jiwa papa, bukan Cuma milik kami, anak-anak papa. Tapi papa juga milik Allah SWT, yang Maha Punya Segalanya, jika papa ingin pergi menghadap Sang Khalik, kami ikhlas pa, karena papa akan menemukan tempat yang Indah disana, bernama surga pa, semua tanggungjawab papa sudah ada di pundak ku pa, anak laki-laki terbesar dari garis keturunan papa, papa yang tenang ya, mama akan kami jaga seperti papa menjaga mama.”

Tiba-tiba, tangan papa menggenggam tanganku erat. Meskipun dengan keadaan lemah, beliau mengangguk, untuk yang terakhir kalinya.

Pukul 14.00 WIB
Papa menutup mata untuk selamanya, namun senyum di bibirnya menandakan bahwa beliau bahagia di alam sana, atau mungkin sudah melihat kami disini dari surga, senyum terakhir papa, adalah kado terindah yang pernah aku miliki.

Ini untukmu pa, dan aku tahu senyuman itu adalah kado terindah darimu pa…
10-Jan-2011
Kado ulang tahunku dari papa

Iklan

Kabar itu aku dengar dari beberapa sahabat semasa kuliah di FISIP UI, bahwa sahabat lama ini sedang sakit. Lama memang kami tidak pernah bertemu sejak lulus dari kuliah. Namun kami tak pernah putus komunikasi, beberapa bulan ini memang aku jarang menegurnya baik via media sosial atau hanya sekedar di contact blackberry messenger kesibukan menggerogoti tali silaturahmi kami.

Mericka Agnetta, kami lebih senang memanggilnya dengan panggilan C’ka. Saat itu ketika aku tanya, kenapa harus C’ka ? dia Cuma menjawab kenapa tidak ? lalu pergi begitu saja meninggalkan senyuman yang ramah. Sikapnya yang selalu baik dan ceria membuat kami para sahabatnya nyaman selalu bila di dekatnya, canda-canda kecil kadang dia lontarkan.

Mericka Agnetta, salah satu sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Sahabat yang membiarkan aku untuk terus mencari tahu tentang dirinya, tentang misterinya dan tentang, si kupu-kupu mungil yang saat itu aku begitu menggilainya.

Pernah kali pertama aku berbincang serius dengan dirinya, saat aku tahu salah satu tulisan puisiku hilang di mading dan entah siapa yang merobeknya. Iya, salah satu puisiku, “Kupu-kupu mungil” hilang entah kemana.
“Aaaah sial, siapa sih yang suka ngerobek-robek karya orang?”
Timor, salah satu sahabat ku datang.
“hey, tenang jenderal ada apa ini ?”
“Puisi ku di robek mor !”
Kami sedang asik berdebat tiba-tiba Mericka datang menghamipiri.
“Ada apaan sih ?”
“aku menulis puisi di mading C’ka, hilang entah siapa yang mengambilnya, atau jangan-jangan ada orang yang sirik sama aku nih!”
“tenang.. memang kamu yakin di robek orang ?”
“buktinya engga ada ?, ya yakin lah, pasti ada orang yang engga suka sama ku karena aku menulis nya untuk si “dia”.”
“Yakin ?” C’ka coba meyakinkan bahwa memang pikiranku salah.
“Yakin !”
“Gimana kalau ternyata puisi itu hilang dan di robek oleh seseorang yang ternyata adalah orang yang kamu maksud, dan untuk menyimpan nya sebagai kenangan?”
Aku diam… entah bahagia atau C’ka hanya untuk membahagiakan. Setelah itu C’ka pergi meninggalkan senyuman diantara aku dan Timor.
Belakangan Aku baru tahu, ternyata “dia” memang tidak pernah menyimpan dan merobek puisi ku yang ada di mading saat itu. C’ka hanya menghiburku.

C’ka, entah apa yang membuatnya begitu menarik untuk di perbincangkan oleh kami, tapi buatku dia adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. C’ka seperti jangkar berdiri dengan satu kaki, tapi bisa berputar begitu hebat menjangkau kami semua, datang saat kami sedang berlinang air mata, tapi kami tak pernah mengetahuinya kapan air matanya mengalir di pipinya. C’ka sosok yang aku kenal perempuan cerdas dengan hobi bermain musik, bahkan aku pernah membuatkan nya satu puisi untuknya ;
Lagu malaikat kecil

“ Aku ingin melihatmu menjentikkan jari
Diatas piano, mengalunkan lagu-lagu jiwa
Yang tak tersentuh ….
Menyusun tiap baitnya diatas syair
Nyanyikan dengan suaramu yang indah ….
Agar aku tahu…
Lagu rindu yang telah dinyanyikan
Oleh “malaikat kecil” yang selalu tersenyum”

Boy
Wisma mulia
2007
Dedicated from c’ka (temen kuliahku di Politik UI)

C’ka jugalah yang membuat ide untuk saling menukarkan skripsi yang kita buat, katanya untuk kenangan bahwa kita sama-sama berjuang menyelesaikan ini semua.
C’ka yang selalu aku lihat di kantin Takor, di bangku paling sudut dibawah tangga sambil mendengarkan musik dan benyanyi sendirian, membaca makalah-makalah kampus dan begitu mempesona di mata para laki-laki.
Sahabat ku Timor pernah bilang sesuatu tentang Mericka Agnetta, bahwa C’ka adalah jelmaan bidadari yang terduduk diam di sudut kantin kampus dengan anggun dan memecahkan kekecewaan hati para laki-laki yang melihatnya dan tiba-tiba luluh tak bergeming karena pesonanya. Berlebihan memang, tapi aku akui, itu benar sekali.
Mericka Agnetta pula yang terdiam saat mengetahui bahwa sidang pertamaku gagal, lalu dia menghampiri “ini bukan akhir segalanya kan ?” tersenyum mencoba meyakinkan ku lalu pergi kembali, setelah itu aku bangkit.
C’ka dibalik sayapmu mungkin kami tak pernah mengetahui apa yang kamu rasakan sekarang, dibalik sayapmu mungkin kamu menyeka air matamu sendirian, dengan dalih bahwa ini semua dirimu yang menjalani nya. Dibalik sayapmu pula, kamu tidak bisa melihat bahwa kami para sahabatmu amat sangat peduli kepadamu, kami para sahabatmu, tak ingin melihat malaikat kecil kami berurai air mata sendirian, kami sahabatmu hanya ingin kamu duduk disini, memainkan irama-irama lagu dengan piano dengan segala keindahanmu.
Mericka agnetta, baru-baru ini kamu berjanji kepadaku akan mengajarkan malaikat kecilku nanti bermain piano ?
C’ka Anak ku bilang melalui bundanya, “ayah, eratkan pegangan tangan ayah dan bunda untuk mama C’ka ya, supaya mama C’ka kuat menjalani apa yang harus mama C’ka jalani. Ayah, aku ingin sekali duduk berdua dengan nya, memainkan piano, menyanyikan lagu-lagu rindu, untuk ayah, bunda, dan untuk mama C’ka”
Untuk itu C’ka. Teruslah bersama kami….

Untuk Mericka Agnetta
Sahabat kami,
Berjanjilah terus bermain piano untuk kami