Arsip untuk Februari, 2013

Hanna,Jun

Boy hidayat
0606054411

Pada masa Orde baru, respon militer mempunyai peranan dalam menekan demokrasi dan melakukan monopolitik, hal ini meliputi kebijakan yang kontradiksi yang terjadi di dalam praktik di lapangan. Beberapa pelaku kibajakan, membuat suatu perubahan untuk melunakan aspek –aspek yang menekan dan mengadaptasi kebijakan akomodir. Sementara yang lain melihat tuntutan demokrasi sebagai ancaman kekuasaan dan memperkuat kontrol militer.

Dalam bab ini membahas mengenai kesalahan pemerintahan dan setelah kejatuhan rezim Soeharto, berakhirnya pemerintahan Soeharto tidak membuat perseterun didalam tubuh militer berakhir , hal ini mempengaruhi terjadinya konflik didalam tubuh militer itu sendiri malahan menjadi semakin kuat. Dan hal ini membawa pengaruh terhadap kuatnya pemerintahan sipil di era masa kejatuhan rezim Soeharto. Dalam pembahasan ini merupakan lanjutan dari bab sebelumnya yang membahs perseteruan antara wiranto dengan menantu Soeharto yaitu Prabawo, yang terjadi sejak pertengahan tahun 1990-an. Selanjutnya kita akan membahas bagaimana akhir dari kejatuhan pemerintahan Soeharto dan bagaimana fungsi legalitas dan bagaimana pemerataan penbangunan terjadi. Yang lebih signifikan kepada proses reformasi dwifungsi ABRI. Dan hubungan antara militer dan pemerintahan sipil pasca Soeharto.

Teror dan Dialog : kejatuhan Soeharto dan turunnya Prabowo

Keputusan untuk memotong subsidi minyak, mengakibatkan protes dari massa, yang terjadi di kota besar seperti di Medan Sumatra Utara, dimana masa merusak dan mengincar usaha milik orang cina.sminggu setelah kejadian itu, pada tanggal 12 may, terbunuhlah 4 mahasiswa trisakti oleh penembak misterius dari kalangan kepolisian yang tidak diketahui siapa pelakunya. Penembakan ini dilakukan atas instruksi dari para petinggi militer dan kepolisian seperti ; Mayor Jenderal Hamami nata, Prabowo dan mayjen Sjafrie Sjamsoedin. Banyak yang meyakini bahwa pelaku penembakan adalah pasukan penembak jitu dari kalangan militer.

Pelanggaran Hak Azasi juga terjadi di Solo Jawa Tengah, Surabaya dan Palembang, Sumatera Selatan. Komnas HAM yang berdiri dan bergabung untuk untuk menemukan fakta yang terjadi mengenai pelanggaran azasi manusia , membentuk team pada tanggal 13-15 may (TGPF) juga melakukan investigasi dan akhirnya menemukan 5 kasus serupa yang terjadi di Medan, Jakarta, Solo, Surabaya dan Palembang.

Dalam hasil laporan yang direkomendasikan sebagai bahan investigasi menemukan Prabowo dan Sjafrie, saksi mata mengungkapkan bahwa setiap kerusuhan dan penculikan semuanya adalah hasil dari rekayasa dari kesatuan Kopassus dengan memobilisasi kumpulan geng atau dikenal dengan nama preman yang di organisir untuk memprovokasi dan menyerang etnis cina dan lokasi tempat tinggal maupun tempat bisnis mereka.

Dalam menghadapi kerusuhan yang terjadi wiranto tidak berada dalam elit pasukan yang dibawah kontrol dari Sjafrie,Muchdi dan Prabowo. Wiranto menemukan kesatuan dibawah para Jenderal untuk menghentikan kerusuhan secara lebih tenang, dan dia menggunakan pasukan marinir untuk menenangkan keadaan di Jakarta.

Hal yang kontras terjadi dimana kalangan jajaran dibawah Wiranto, yang tidak melakukan pelanggaran persetujuan dalam dialog, dan mengikuti dialog dengan para demonstran, seperti Mahasiswa dikampus-kampus dan mengikuti rapat-rapat yang diadakan oleh para aktivis penentang pemerintahan rezim saat itu. Saat itu di utus Kassospol Letnan Jenderal. Soesilo Bambang Yudhoyono, adalah salah satu tentara intelektual / karir . dia turut serta dalam barisan depan untuk menenangkan keributan tersebut. Pada tanggal 16 May, satu hari setelah kerusuhan di Jakarta dia mengikuti pertemuan di Universitas Indonesia yang dihadiri oleh para mahasiswa, aktivis dan para jenderal seperti Kemal Idris, Kharis suhud dan Bambang Triantoro dari YKPK, pertemuan membahas seputar pengunduran diri dari Soeharto, dan secara mengejutkan bahwa Yudhoyono akan mengevaluasi dan menampung aspirasi masyarakat dan harus didengarkan oleh ABRI dan pemerintahan.

Iklan

I. PENGANTAR

Dalam kajian Pemikiran Politik Anarkisme, Keberadaan sebuah Negara beserta otoritasnya adalah suatu bentuk pengekangan kebebasan dan eksploitasi kehidupan manusia. Oleh karena itu, Negara beserta perangkatnya haruslah dihilangkan. Upaya yang tak mudah untuk merubah keadaan yang sudah mapan dengan hadirnya Negara, namun, kaum Anarkis meskipun memiliki cita-cita utopia untuk menghancurkan Negara, masih tersisa sedikit pemikiran perlawanan yang anti kemapanan dan anti kapitalisme.

Hal inilah yang kemudian masih tetap berkembang hingga masih kini, kaum Anarko Punk adalah sekelompok manusia yang memiliki ideologi Anarkisme dalam memperjuangkan tujuan hidupnya. Seiring dengan perkembangan zaman terjadi kesamaran pemaknaan akan Anarko-Punk atau Punk itu sendiri. Perilaku yang ”nyeleneh” seringkali melekat dipikiran masyarakat awam terhadap kehidupan anak Punk. Fenomena Punkers ternyata menjadi sebuah sub-budaya masyarakat perkotaan yang termarginalisasi oleh kehidupan yang penuh kemapanan.

Yang menjadi kerangka permasalahan dalam makalah ini adalah :
• Bagaimana Fenomena yang terjadi pada kaum Anarko-Punk pada masa dahulu dan masa sekarang ?
• Bagaimana pandangan kaum anarko-punk terhadap otoritas negara ?

II. PEMBAHASAN

II.1 PEMIKIRAN POLITIK ANARKISME
Sebelum membahas fenomena Anarko-Punk di dunia, kami terlebih dahulu memulai dengan penjelasan mengenai pemikiran politik anarkisme secara umum.

Anarkisme adalah teori politik yang berasumsi bahwa segala bentuk pemerintahan bukanlah sesuatu yang dikehendaki dan diperlukan manusia, yang diperlukan manusia adalah sebuah masyarakat yang didasarkan pada kerjasama yang bersifat sukarela diantara individu maupun kelompok-kelompok social.
Zeno merupakan filusuf Yunani Kuno yang merumuskan Anarkisme, Ia menolak intervensi dan segmentasi Negara dan mendukung adanya kedaulatan hokum moral individual. Anarkisme berkembang diabad pertengahan dengan tokohnya Voltaire sebagai filusuf yang menentang adanya otoritas gereja, sampai abad pencerahan (Renaissance), Dimana pemikiran politik anarkisme mencapai ke titik puncak. Filusuf abad pencerahan, JJ. Rousseau, mengemukakan gagasan
“ back to Nature” , yaitu suatu keadaan dimana tidak terdapat dominasi, hirarki dan struktur sosial yang dinilai membelenggu manusia. Manusia bebas berkehendak dan melakukan apa yang menjadi tuntutan nuraninya.
Pada abad 18 adalah William Godwin, filusuf pertama yang menulis sejarah anarkisme. Godwin mempunyai pandangan bahwa eksistensi sebuah Negara dengan segala aturan hukumnya sesungguhnya merupakan lembaga politik yang memperbudak dan membelenggu rakyat. Godwin menyadari bahwa sebab-sebab “penyakit social” dapat ditemukan bukanlah dalam bentuk Negara, tetapi karena adanya Negara itu.
Piere Joseph Proudhon adalah orang pertama yang mengklaim dirinya adalah kaum Anarkis. Ia sejalan dengan pemikiran Godwin bahwa pemilik harga adalah sebuah perampokan, para pengumpul harta kaum kapitalis dinilainya sebagai rmpok masyarakat. Proudhon menempatkan dirinya sebagai “counter” terhadap liberalisme klasik
Peter Kropotkin merupakan anarkis yang muncul pada abad 19. Dia adalah penganut Proudhon yang secara tegas menolak prinsip – prinsip Liberalisme Klasik dan para penganut pasar bebas. Anarkisme bagi Kropotkin adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai diantara manusia dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia. Sedangkan Mikhael Bakunin adalah seorang pencipta gerakan anarkisme modern yang ingin memusnahkan semua prinsip otoritas dan kenegaraan yang selama ini telah memperbudak, mengeksploitasi dan menghancurkan manusia.
Jadi, secara keseluruhan, anarkisme merupakan paham yang percaya bahwa segala bentuk Negara dan pemerintahan serta otoritas yang dimilikinya adalah suatu lembaga yang melakukan penindasan dan eksploitasi terhadap kehidupan manusia. Oleh karena itu, Negara beserta otoritas dan perangkatnya harus dihancurkan. Anarkisme juga tidak menghendaki adanya kapitalisme yang lahir dari ideology liberalisme.
Dalam perkembangannya, terutama akhir tahun 1950-1960-an, di Negara-negara barat, Anarkisme menjadi daya tarik kaum intelek. Berbagai pergerakan dianggap sebagai pemicu gerakan sosial yang makin meluas dan meruncing. Tidak hanya terbatas sebagai sebuah gerakan “civil rights” tapi telah berkembang menjadi gerakan umum menentang struktur elitisme dan gerakan kritik terhadap gaya hidup materialisme masyarakat industri baik di Negara kapitalis maupun komunis. Anarkisme demikian menjadi identik dengan gerakan “counter culture” yang sangat popular dikalangan anak muda, mahasiswa, dan kelompok kiri.

II.2 KELAHIRAN ANARKO – PUNK di DUNIA KONTEMPORER

Punk, merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Punk juga berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Anarko-punk adalah bagian dari gerakan punk yang dilakukan baik oleh kelompok, band, maupun individu – individu yang secara khusus menyebarkan ide-ide anarkisme, dengan kata lain, anarko – punk adalah sebuah sub budaya yang menggabungkan musik punk dan gerakan politik anarkisme.
Keterlibatan kaum Punk dalam ideologi anarkisme memberikan warna tersendiri bagi pemaknaannya karena kaum punk memiliki gerakan yang khas untuk menunjukkan keinginan dalam menyampaikan inspirasinya. Meskipun di beberapa Negara – Negara di dunia muncul fenomena punk, namun tidak semua punk di identikan dengan anrkisme, banyak juga orang yang mengaku sebagai kaum punk tapi mereka adalah penganut kapitalisme. Padahal anarko-punk sendiri adalah kelompok yang anti kemapanan dan anti kapitalisme. Mereka tidak menginginkan adanya intervensi Negara dalam kehidupan masyarakat.
Punk muncul dan berkembang sebagai hasil kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu di dominasi musisi ock mapan seperti The beetles, Rolling stone dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati, namun sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan dan protes demonstran terhadap kejamnya dunia, masalah ekonomi, keuangan, dan kapitalisme yang dipicu oleh kemerosotan moral elit politik yang telah menimbulkan kehancuran masyarakat miskin yang mengakibatkan pengangguran dan meningkatnya kriminalitas telah membentuk sikap pemberontakan bagi anak muda di dunia. Punk berusaha menyindir para pengusaha dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar.
Gerakan Punk berasal dari Negara yang memiliki kebijakan – kebijakan demokrasi palsu kapitalis. Hal yang membuat kapitalisme dibenci adalah masalah-masalah yang diciptakannya, sehingga menjadi target utama para punkers politik. Kurangnya perumahan yang menciptakan tuna wisma, eksploitasi di tempat-tempat kerja merupakan hasil dari system yang dibangun atas dasar kerakusan. Kapitalisme hanya membuat sebagian orang dapat merasakan kemewahan hidup. Dan prinsip memaksimalkan keuntungan telah menghancurkan lingkungan hidup manusia maupun ekologis sebagai akibat dari eksploitasi yang mengabaikan hak-hak hidup. Kekecewaan dan keterpinggiran kaum punk tak ubahnya sebagai protes yang selalu menggaung di benak masyarakat, terlebih lagi pada Negara.
Kaum Punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang. Punk juga merupakan gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan ”we can do it ourselves” atau ”Do it Your self (DIY). Penilaian Punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik – lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial, dan bahkan masalah agama.
Hampir semua Punkers percaya akan prinsip Anarkis untuk sama sekali tidak menggunakan pemerintahan resmi atau pengatur serta menghargai kebebasan dan tanggung jawab individu.
Dibalik idealisme yang dipaparkan oleh kaum Anarko-Punk terdapat keunikan yang juga dimiliki oleh mereka yang disebut Punkers.Punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir anak-anak Punk bisa dibilang ”nyeleneh”, style yang mereka perkenalkan dihadapan publik cukup menarik perhatian, seperti potongan rambut mowhak ala suku Indian, diwarnai dengan warna – warna terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju lusuh. Bahkan prilaku yang anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan krimal kerap menjadi predikat mereka yang disebut Punkers.
Gerakan Punk bermula dari negara-negara yang memiliki kebijakan – kebijakan kapitalisme. Bicara tentang Punk tidak akan terlepas dari kata Anarkisme. Ideologi Anarkisme yang pernah diusung-usung oleh band-band Punk gelombang pertama (1972-1978) diantara lain SEX PISTOLS dan THE CLASH telah merubah kaum Punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers) daripada sekedar pemuja rock ’n roll. Ideologi anarkisme dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat maupun industri musik. Kegagalan Reagenomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia Punk pada saat itu. Band-band Punk gelombang kedua (1980-1984) seperti CRASS,CONFLICT, dan DISCHARGE dari Inggris, The EX dan BGK dari Belanda, MCD dan DEAD KENNEDYS dari Amerika Serikat juga menjadikan kaum Punk sebagai Rebellious thinkers karena kaum Punk memaknai Anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian mereka tidak menginginkan adanya pengekangan dalam bentuk apapun. Band – band tersebut telah merubah Punk dari berandalan Rock ’n Roll menjadi para pemberontak yang berfikir. Semangat ini yang akhirnya menghasilkan ribuan anak-anak muda diseluruh dunia dengan bangga menyebut diri mereka ” anarkis” dan mulai secara sehat menunjukan ketidaksukaan akan rezim-rezim pemerintahan yang ada diseluruh dunia.
Biasanya anarkis Punk tersebut cukup puas dengan lingkaran teman-teman mereka sendiri serta menolak menyebarkan anarkisme dengan scope yang lebih luas. Sikap ini dapat di intepretasikan sebagai suatu konsepsi bahwa dirinya adalah anarkis tetapi tidak menerima fakta bahwa orang lainpun dapat mengatur diri mereka sendiri. Dengan tujuan-tujuan menuju ketidakadaan pemerintahan, kekerasan oleh para anarkis sama sekali tidak mencerminkan pernyataan anarkis yang selama ini menentang kekerasan yang dilakukan dalam politik praktis. Hal ini merupakan alasan jelas bagi para anarkis untuk mengadopsi sikap-sikap anti kekerasan ? Karena adanya perbedaan jumlah kekuatan antara Punk dan Counter Culture Freaks dengan pemerintah yang mereka hadapi di semua negara di dunia. Kesadaran bahwa sangat tidak mungkin menggulingkan pemerintah sendiri apalagi mengharapkan warga negara status quo membantu dalam mencapai tujuannya.
Kekerasan terhadap otoritas seringkali dipahami dalam berbagai sudut pandang yang bertentangan, kekerasaan terhadap properti telah menjadi statement yang umum dari pihak yang menginginkan perubahan. Hal ini dapat dilihat dari tindakan para punkers dari segi lingkungan hidup seringkali mengacu pada tindakan – tindakan pengrusakan properti. Contoh – contoh gerakan yang dilakukan antara lain : para Punkers di Belanda menghancurkan stasiun bensin SHELL dengan molotov karena keterlibatan mereka mengeksploitasi Afrika Selatan. Belum lagi Punk diseluruh penjuru dunia menghancurkan laboratorium penyelidikan yang menggunakan binatang sebagai percobaan, serta properti – properti pendukungnya, billboard seringkali dirusak dan diganti untuk menyampaikan pesan – pesan politik.
Beralih dari tindakan – tindakan yang dilakukan oleh Punk Anarkis yang penulis sebutkan diatas kebanyakan muncul kontroversi didalam kehidupan masyarakat. Para anarkis Punk kelihatan banyak sepakat dengan hal-hal yang biasa diperjuangkan oleh para kaum radikal, liberal, kiri yang menginginkan adanya kebebasan. Memperjuangkan hak-hak wanita, kesamaan, rasial dan hak-hak hidup. Meskipun demikian, persamaan – persamaan ini tidak dapat berarti kaum anarko punk tidak mencela grup-grup tersebut, karena pada kenyataannya Anarkisme sangatlah berlawanan dengan sayap kiri maupun sayap kanan. Anarki adalah satu-satunya bentuk pemikiran politik yang tidak mencari keuntungan atau berusaha mengontrol orang lain lewat kekerasan.
Gaya hidup, ideologi danperilaku anak-anak Punk seringkali dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat dan pemerintah. Lirik-lirik lagu Punk bercerita tentang jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat. Akibatnya Punk dicap sebagai musik rock n’ roll aliran kiri. Sehingga tidak mendapat kesempatan untuk tampil diacara televisi, perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.
Bagi para intelektual apalagi orang awam sangat sulit melihat gerakan Punk sebagai kekuatan yang serius bagi revolusi. Penggambaran Punk yang dilakukan media sebagai Punk Rocker adalah seorang yang biasa memakai drugs, mabuk dan merusak diri, suka berkeliaran dijalanan dan melakukan berbagai tindakan kriminal telah melemahkan posisi Punk dalam masyarakat dan justru dianggap sebagai satu ancaman politik.
Walaupun begitu buruk citra anarko-punk dimata masyarakat dan Pemerintah, namun hal ini tidak menyurutkan gelombang baru Anarko-Punk untuk melakukan perubahan dan tindakan selama kurun waktu 80-an hingga 90-an. Anarchist Youth Federation (di Minnesota, Tenessee, California dan Manyland), Twin cities (dari Mineapolis) Anarchist Federation, Cabbage Collective (Philadelphia), Tools Collective (Boston) ; Positive Force (Wshington DC) serta banyak lagi organisasi – organisasi lain telah melakukan banyak kegiatan seperti pertunjukan dan acara pengumpulan dana bagi tujuan – tujuan yang baik untuk orang – orang yang membutuhkan.

II.3 FENOMENA PUNK dan ANARKISME di INDONESIA

Berbicara mengenai Sub-Kultur (budaya pinggiran) diperkotaan Indonesia, yang menjadi pilihan sebagian anak muda Indonesia adalah Punk. Banyak Punker di Indonesia mempunyai kemandirian dan tidak bergantung pada orang lain. Namun yang sangat perlu dikaji kembali, apakah gerakan – gerakan Punk Indonesia memiliki semangat atau ideologi yang sama dengan Punk generasi pertama di Inggris yang anti kemapanan (kapitalisme) dan tidak menginginkan adanya pengekangan dari negara maupun masyarakat.
Berbekal etika Do it Yourself (DIY), beberapa komunitas Punk dikota – kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung Yogyakarta dan Malang, merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut distro. Mereka tidak hanya menjual kaset dan CD namun juga memproduksi dan mendistribusikan T-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik telinga dan pembuatan Tatoo. Semua produk dijual terbatas, dalam kerangka filosofi Punk, distro adalah implementasi, perlawanan terhadap prilaku konsumtif anak-anak muda pemuja Levis, Adidas, Nike, Celvin Klein dan barang-barang bermerk luar negeri lainnya. . band-band Anarko-Punk yang cukup populer di Indonesia antara lain : MARJINAL dan Bunga Hitam, MARJINAL sendiri mengaku sebagai kelompok anti militer dan anti perang (anti kekerasan). Mereka yang tergolong Counter Culture menganggap bahwa politik akan bisa berjalan seimbang dengan punk karena tanpa ada politik Punk tidak akan pernah lahir.
Di Indonesia sendiri istilah anarkis atau anarkisme digunakan oleh media massa untuk menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal menurut para pecentusnya yaitu William Goldwin, Piere Joseph Proudhon, dan Mikhael Bakunin, anarkisme adalah ideologi yang mengkehendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa Negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri. Hukum dan peraturan Negara seringkali bersifat pemaksaan sehingga membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab pada pilihannya sendiri.
Kekecewaan anak-anak Anarko-Punk terhadap otoritas Negara dan Kapitalisme ternyata tidak sepenuhnya berkembang di Indonesia layaknya kaum Anarko-Punk di Inggris maupun Amerika. Punker di Indonesia banyak kehilangan essensi dan ideologinya. Banyak anak-anak muda yang menganggap dirinya ”Punkers” namun sebenarnya Punk hanya menjadi kedok bagi anak-anak muda untuk lari dari permasalahan yang muncul pada keluarga, lingkungan ataupun sekolah. Ada juga Punk hanya menjadi simbol bahwa mereka berasal dari kalangan menengah ke bawah saja yang ingin mendapatkan perhatian dari orang lain. Selain itu, sebagian anak-anak yang menamakannya Punkers sebenarnya tidak mengetahui apa tujuan mereka, hal ini karena pada dasarnya mereka memasukkan diri hanya untuk bergaya dan sekedar stylish ataupun menjadi Punker’s hanya karena ikut-ikutan teman dan lingkungan tempat mereka bergaul. Hal ini yang kemudian mengaburkan nilai-nilai Punk masa kini dan dulu.
Punk di Indonesia yang mulai kehilangan esensi dan tujuan mulai menciptakan kebencian dan konflik dalam kehidupan sosial disekitarnya, bukan lagi pemikiran-pemikiran untuk menentang Kapitalisme dan otoritas Negara. Fenomena Punk di Indonesia memunculkan presepsi masyarakat awam banwa punker di Indonesia lebih sering nongkrong diperempatan jalan raya, ngamen, mabuk dan meminta uang kepada orang – orang yang berlalu lalang dijalanan. Punkers di Indonesia mungkin hanya memiliki pandangan dan pemikiran paling dasar yaitu ”anti kemapanan”, belum mencapai aspek pemikiran sosial dan politik. Hal ini mungkin dikarenakan kurangnya tingkat pendidikan para ”Street Punkers” yang mungkin juga disebabkan karena kondisi ekonomi yang kurang mendukung.

Lain halnya dengan Punk kalangan mahasiswa yang biasa disebut dengan ”Student Punkers” , diantara mereka semua hanya beberapa saja yang memahami nilai-nilai Punk sebenarnya, baik dari segi kemapanan maupun kritik sosial dan politik yang dilakukannya, termaksuk Punk yang memiliki ideologi anarkism. Punkers di Indonesia yang kehilangan dan mungkin juga belum memahami gerak langkah mereka kerap kali justru menjadi ”perpanjangan tangan” kapitalisme karena banyak dari ”Student Punkers” membeli aksesoris Punk justru di Mall ataupun toko-toko yang menganut kapitalisme, mengecat rambutnya di salon, bahkan ada juga seorang yang mengaku Punkers tapi pada saat kuliah berkendaraan mobil mewah. Padahal, Punk yang sebenarnya adalah simbol anti kemapanan dan perlawanan terhadap kapitalisme.
Fenomena Punk di Indonesia yang merupakan Sub-Kultur memang perlu dikaji ulang, karena penulis merasa, banyak hal yang sudah bergeser dari fenomena Punk yang diusung oleh Punk generasi pertama dan kedua yang di Inggris berorientasi mengkritik kehidupan sosial politik dan negara. Kekecewaan mereka pada pemerintah dan tatanan sosial masyarakat yang tidak berpihak kepada kaum – kaum marginalitas telah melahirkan konflik yang bersifat personal namun kemudian merambah dalam kehidupan bernegara. Punkers masa kini dapat dilihat sebagai pelarian atau hanya sebuah trend gaya anak muda saja. Ataupun juga dipahami murni sebagai sebuah aliran musik atau genre yang digandrungi banyak anak muda di dunia pada umumnya.
Untuk memahami kenyataan yang terjadi terhadap keberadaan anak-anak Punk memang perlu ditekankan kembali sesuai kondisi, Anarko Punk merupakan sub-culture yang menggabungkan musik punk dengan gerakan politik anarkisme. Kelompok ini melatakan ideologi anarkisme sebagai bagian dari pemikiran hidup mereka. Berbagai tindakan Anarko-Punk memang cenderung anarkis seperti yang selalu diberitakan oleh media dan menciptakan pikiran negatif masyarakat terhadap mereka. Namun, kita juga tidak bisa mengesampingkan fakta bahwa ada punk yang tidak membaca sejarah dan harus mempromosikan bentuk-bentuk kapitalisme di muka bumi ini.
III. KESIMPULAN

Anarkisme merupakan paham atau pemikiran politik yang tidak menginginkan adanya intervensi negara dalam kehidupan manusia. Anarkisme mengajarkan bahwa manusia bisa hidup dalam masyarakat dimana tidak terdapat paksaan dalam bentuk apapun. Suatu kehidupan tanpa paksaan secara alami berarti kemerdekaan. Kemerdekaan berarti kebebasan dari tekanan dan ancaman, suatu kesempatan untuk menuju kehidupan yang paling sesuai dengan keinginan manusia. Oleh karena itu, kaum anarkis tidak menginginkan adanya negara ataupun otoritasnya.
Fenomena anark-punk muncul ditahun 1970-an sebagai gerakan anak-anak muda yang merasakan kekecewaan terhadap bentuk dan otoritas negara. Pengekangan negara terhadap kehidupan manusia telah menjadikan hidup dan mental kaum anarko-punk lahir sebagai gerakan counter culture yang memiliki jiwa pemberontak. Ideologi anarkisme merupakan satu-satunya ideologi yang pantas mereka pegang sebagai pondasi dalam menentang pemerintah. Namun, seiring dengan waktu ternyata telah menjadi perubahan. Banyak anak-anak muda yang menganggap dirinya Punkers namun mereka justru tidak tahu makna yang telah dibangun para pendahulunya. Punkers modern saat ini bukanlah Punk dengan ideologi Anarkisme, tapi Punk yang lahir karena kondisi perekonomian keluarga yang menjadi pelarian untuk menghindari kenyataan hidup. Punk masa kini juga lahir dari kondisi ”ikut-ikutan” supaya terlihat gaya dan menarik perhatian orang lain.
Perubahan kondisi ini mungkin juga disebabkan kenyataan bahwa tujuan anarkisme yang tidak menginginkan adanya negara adalah sebuah utopia. Kenyataan yang sulit untuk menghancurkan sebuah sebuah negara dan otoritasnya karena pada dasarnya negara ada karena masyarakat. Menginginkan adanya keteraturan. Gerakan – gerakan protes yang dilakukan kaum anarko punk sampai saat ini belum mampu menghancurkan negara, yang muncul kemudian adalah pandangan negatif masyarakat terhadap keberadaan anak Punk yang dianggap ugal-ugalan.