Untuk papa, dan kisah yang tak terlupakan

Posted: 6 Januari 2012 in Uncategorized

Hari ini, setahun yang lalu. Papa pergi meninggalkan kami sekeluarga. Pergi sangat jauh sekali, di tempat yang tidak bisa kami jangkau sampai tiba waktunya nanti, papa pergi dengan senyuman yang indah, dengan harum tubuh yang wangi, dan dengan menggenggam tangan pasangannya tercinta. Mama.

 

Aku terdiam, aku terpaku, apa mau dikata, sebenarnya hatiku hancur, remuk dan jatuh berkeping-keping. Tapi aku salah. Itu adalah jalan terbaik buat papa, beliau pergi dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya.

 

Aku terharu, aku sedih namun aku juga bahagia, papa pergi menghadap Sang Khalik dengan senyuman bahagia, seolah-olah papa memang menanti kepergiannya dan sangat yakin bahwa disana papa akan menemukan tempat yang lebih indah dari dunia.

 

Beliau ikhlas pergi untuk selamanya…

 

Sebelum papa pergi dan jauh sebelum papa mengalami sakit ginjal. Aku dan papa sering sekali pergi bersama, entah untuk jalan pagi ataupun untuk bermain tennis. Itu kebiasaan kami.

 

Aku juga masih ingat ketika kami duduk-duduk di warung kopi sambil memesan indomie dan telur setangah matang, papa selalu menyelipkan pesan-pesan nya kepadaku. Anak laki-laki tertua.

”makanya makan jangan banyak – banyak, masa setiap jalan pagi kalah terus sama papa?” Papa menegurku.

Memang setiap kali jalan pagi dengan papa, aku selalu kalah beberapa langkah dengan papa, beliau selalu saja berada di depanku saat berjalan.

 

Papa juga sering bilang. ”hidup itu harus cekatan, harus mampu menahan letihnya hati.”

Entah apa maksud papa, namun setelah kepergiannya aku baru menyadarinya.

 

Sewaktu papa masih hidup dan sehat, aku juga sering sekali memergoki papa yang sedang diam-diam melihat ku dalam – dalam, aku hanya saja pura-pura tidak tahu dan tidak melihat. Aku berfikir itu Cuma pandangan biasa seorang ayah kepada anaknya. Semakin sering papa melakukan itu semakin aku penasaran apa yang ada di pikiran papa. Di kemudian hari, saat-saat terakhir papa, beliau akhirnya mengatakan.

”papa sering melihat kamu, memperhatikan kamu diam-diam. Papa Cuma berfikir dan bangga sama kamu, papa bukan seorang sarjana, tapi anak papa seorang sarjana politik, papa bukan aktivis kampus yang sering punya kegiatan dikampus, tapi anak papa punya segudang kegiatan dikampus, dan yang lebih papa bangga lagi kamu bisa bekerja sambil kuliah, dua hal yang memerlukan kerja keras untuk menuju hasil yang maksimal, papa bangga”

 

Aku Cuma bisa tersenyum bangga, tapi bukan bangga dengan diriku sendiri. Justru aku tersenyum bangga karena papa.

Dalam hati terucap ; ”Papa salah, aku tidak pernah bangga dengan apa yang aku jalani sekarang ini, aku juga tidak pernah merasa pintar karena aku seorang sarjana dan papa bukan seorang sarjana, aku juga tidak merasa hebat ketika papa mengetahui bahwa aku bekerja di sebuah perusahaan, aku malah lebih bangga kepada papa, seorang yang bukan sarjana tapi mempunyai tiga orang anak yang ke semuanya sarjana. Aku malah lebih bangga kepada papa, bukan seorang sarjana tapi mampu menjadi pengusaha yang mempunyai anak buah dimana-mana. Sedangkan aku ? Cuma karyawan biasa.

Aku jadi ingat ketika pertama kali aku masuk perguruan tinggi negeri tekemuka di Negeri ini, papa mengatakan ”di kuliahin bukan buat kerja sama orang ya ?!, tapi buat buka usaha” bahkan sampai hari ini pun masih belum terwujud cita-cita tersebut.

 

Hari ini setahun yang lalu, di sebuah ruang IGD RS FATMAWATI, papa membisik kan sesuatu ke telingaku, di saat nafasnya mulai terengah-engah, disaat nafas berada di ujung tenggorakan, disaat malaikat pencabut nya berada di atas kepala papa dan mengelus-ngelus kepala beliau.

”jangan cepat menyerah, jangan cepat menyerah, jangan cepat menyerah.. jaga mama, belahan jiwa papa, dan jangan pernah menangis dalam kesusahan, karena Allah tidak pernah diam, solat solat dan solat, tempat terbaik kamu untuk mengadu, bukan dengan manusia, tapi hanya dengan Allah, papa sudah melihat tempat yang sangat indah, papa sudah di tunggu oleh laki-laki yang sangat tampan. Kuatlah dalam menjalani hidup dan yakinlah Allah tetap bersama kamu. Papa akan menunggumu disana.”

 

Lalu papa pergi dengan senyuman yang paling indah yang pernah aku lihat, yang belum pernah aku lihat.

 

Hari ini satu tahun yang lalu, papa di jemput malaikat penunggu surga, untuk kembali menghadap Allah SWT, dengan tersenyum papa pergi ke pangkuan Allah SWT, aku tidak perlu mengucapkan selamat jalan papa, karna aku yakin papa tidak akan pergi kemana-mana, tetap disini, dihati kami. Papa hanya menunggu kami di surga, untuk berkumpul kembali bersama.

Amin Ya Rabb…

 

6-januari -2012

Untuk papa, dan kisah yang tak terlupakan

Boy hidayat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s