Arsip untuk Januari, 2012

Hendra : eh temen kita yang itu (menuju arah budi) ternyata guru taekwondo loh

 

Gue : eh yang bener  ? tau darimana lo ?

 

Hendra : iyak waktu itu gue ketemu dia gitu, eh tiba-tiba dateng beberapa orang cium tangan ke dia, trus gue tanya anjrit hebat banget lo ? *sambil cengir-cengir*

”Ah elo bisa aja, itu murid gue !”

 

Villa : gue mau ikutan dong dimana ya ??

 

Gue : Banyak kali vill !!

 

Villa : gue mau ikutan, api yang engga ada tonjok-tonjokan muka ya, ada ngga ? *villa sambil ngaca  dan gue mulai mempertanyakan orientasi sex nya*

 

Hendra : MENDINGANMAIN CATUR SONO LO  !! #muka gondok#

 

Pertanyaan gue ; ”EMANG ADA IKUT BELADIRI ENGGA ADA TONJOK-TONJOKAN ????

 

 

Iklan

GALAU MAU KEMANA-MANA TAKUT

Posted: 24 Januari 2012 in Uncategorized

“Pake taksi dirampok, pake angkot diperkosa, pake busway pelecehan, pake bajaj gemeter, JALAN KAKI DI TABRAK XENIA”

 

itulah tulisan yang gue tulis di twitter gue. Di Indonesia ini semua nya serba salah, seperti yang gue bilang. Kalo pake taksi sekarang takut di rampok, mau pake angkot ngeri diperkosa (meskipun expetasinya, gue cowo dan kayaknya jarang cowo diperkosa maho) mau pake bajaj, kendaraan yang lebih mirip ama binatang purba ini, juga sempet buat gemeter dari ujung kaki sampe ujung kepala. Mau Jalan kaki ?? ditabrak ama si gembrot april  imoet.

 

Seharusnya pemerintah bukan hanya sekedar memberikan fasilitas buat masyarakat, namun juga memberikan himbauan kepada masyarakat agar tertib dijalanan, tertib bagi pengguna kendaraan bermotor, dan tertib bagi pejalan kaki. Banyak kok, kita temuin hak-hak pejalan kaki di ambil oleh para pedangang kaki lima, dan itu di biarkan oleh penegak hukum, malahan ada pungli yang ikut mensejahterakan para penegak hukum, “uang keamanan” lebih penting daripada nyawa pejalan kaki.

 

Kalo kita lihat di Malaysia, kita sudah kalah beberapa langkah oleh bangsa tersebut, padahal dulu Malaysia banyak belajar dari Indonesia. Namun kenapa sekarang malah terbalik ya ? mentalitas masyarakat Indonesia juga sudah tidak di ragukan lagi SANGAT-SANGAT BOBROK jadi ya kejadian yang begini-begini ini yang menjadi pembuktian bahwa masyarakat Indonesia bodoh. meskipun tidak semua.  Neng April ini salah satunya, manusia paling bodoh yang pernah gue temuin. dengan bangga nya, dia keluar dari mobil dan santai habis menggilas 9 orang dan menyebabkan tewas.

 

mau dibawa kemana bangsa ini ya ? dengan mentalitas seperti itu??

Hari ini, setahun yang lalu. Papa pergi meninggalkan kami sekeluarga. Pergi sangat jauh sekali, di tempat yang tidak bisa kami jangkau sampai tiba waktunya nanti, papa pergi dengan senyuman yang indah, dengan harum tubuh yang wangi, dan dengan menggenggam tangan pasangannya tercinta. Mama.

 

Aku terdiam, aku terpaku, apa mau dikata, sebenarnya hatiku hancur, remuk dan jatuh berkeping-keping. Tapi aku salah. Itu adalah jalan terbaik buat papa, beliau pergi dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya.

 

Aku terharu, aku sedih namun aku juga bahagia, papa pergi menghadap Sang Khalik dengan senyuman bahagia, seolah-olah papa memang menanti kepergiannya dan sangat yakin bahwa disana papa akan menemukan tempat yang lebih indah dari dunia.

 

Beliau ikhlas pergi untuk selamanya…

 

Sebelum papa pergi dan jauh sebelum papa mengalami sakit ginjal. Aku dan papa sering sekali pergi bersama, entah untuk jalan pagi ataupun untuk bermain tennis. Itu kebiasaan kami.

 

Aku juga masih ingat ketika kami duduk-duduk di warung kopi sambil memesan indomie dan telur setangah matang, papa selalu menyelipkan pesan-pesan nya kepadaku. Anak laki-laki tertua.

”makanya makan jangan banyak – banyak, masa setiap jalan pagi kalah terus sama papa?” Papa menegurku.

Memang setiap kali jalan pagi dengan papa, aku selalu kalah beberapa langkah dengan papa, beliau selalu saja berada di depanku saat berjalan.

 

Papa juga sering bilang. ”hidup itu harus cekatan, harus mampu menahan letihnya hati.”

Entah apa maksud papa, namun setelah kepergiannya aku baru menyadarinya.

 

Sewaktu papa masih hidup dan sehat, aku juga sering sekali memergoki papa yang sedang diam-diam melihat ku dalam – dalam, aku hanya saja pura-pura tidak tahu dan tidak melihat. Aku berfikir itu Cuma pandangan biasa seorang ayah kepada anaknya. Semakin sering papa melakukan itu semakin aku penasaran apa yang ada di pikiran papa. Di kemudian hari, saat-saat terakhir papa, beliau akhirnya mengatakan.

”papa sering melihat kamu, memperhatikan kamu diam-diam. Papa Cuma berfikir dan bangga sama kamu, papa bukan seorang sarjana, tapi anak papa seorang sarjana politik, papa bukan aktivis kampus yang sering punya kegiatan dikampus, tapi anak papa punya segudang kegiatan dikampus, dan yang lebih papa bangga lagi kamu bisa bekerja sambil kuliah, dua hal yang memerlukan kerja keras untuk menuju hasil yang maksimal, papa bangga”

 

Aku Cuma bisa tersenyum bangga, tapi bukan bangga dengan diriku sendiri. Justru aku tersenyum bangga karena papa.

Dalam hati terucap ; ”Papa salah, aku tidak pernah bangga dengan apa yang aku jalani sekarang ini, aku juga tidak pernah merasa pintar karena aku seorang sarjana dan papa bukan seorang sarjana, aku juga tidak merasa hebat ketika papa mengetahui bahwa aku bekerja di sebuah perusahaan, aku malah lebih bangga kepada papa, seorang yang bukan sarjana tapi mempunyai tiga orang anak yang ke semuanya sarjana. Aku malah lebih bangga kepada papa, bukan seorang sarjana tapi mampu menjadi pengusaha yang mempunyai anak buah dimana-mana. Sedangkan aku ? Cuma karyawan biasa.

Aku jadi ingat ketika pertama kali aku masuk perguruan tinggi negeri tekemuka di Negeri ini, papa mengatakan ”di kuliahin bukan buat kerja sama orang ya ?!, tapi buat buka usaha” bahkan sampai hari ini pun masih belum terwujud cita-cita tersebut.

 

Hari ini setahun yang lalu, di sebuah ruang IGD RS FATMAWATI, papa membisik kan sesuatu ke telingaku, di saat nafasnya mulai terengah-engah, disaat nafas berada di ujung tenggorakan, disaat malaikat pencabut nya berada di atas kepala papa dan mengelus-ngelus kepala beliau.

”jangan cepat menyerah, jangan cepat menyerah, jangan cepat menyerah.. jaga mama, belahan jiwa papa, dan jangan pernah menangis dalam kesusahan, karena Allah tidak pernah diam, solat solat dan solat, tempat terbaik kamu untuk mengadu, bukan dengan manusia, tapi hanya dengan Allah, papa sudah melihat tempat yang sangat indah, papa sudah di tunggu oleh laki-laki yang sangat tampan. Kuatlah dalam menjalani hidup dan yakinlah Allah tetap bersama kamu. Papa akan menunggumu disana.”

 

Lalu papa pergi dengan senyuman yang paling indah yang pernah aku lihat, yang belum pernah aku lihat.

 

Hari ini satu tahun yang lalu, papa di jemput malaikat penunggu surga, untuk kembali menghadap Allah SWT, dengan tersenyum papa pergi ke pangkuan Allah SWT, aku tidak perlu mengucapkan selamat jalan papa, karna aku yakin papa tidak akan pergi kemana-mana, tetap disini, dihati kami. Papa hanya menunggu kami di surga, untuk berkumpul kembali bersama.

Amin Ya Rabb…

 

6-januari -2012

Untuk papa, dan kisah yang tak terlupakan

Boy hidayat

Kepada siapa ?

Posted: 2 Januari 2012 in Uncategorized

Aku seperti berjalan dibanyak persimpangan. dibanyak tikungan dan diantara kebimbangan. Kegalauan hati yang kian memuncak membuat aku muak dengan hidup  sendiri. memaki keadaan yang terjadi, atau bahkan menangis tersedu-sedu, dan parahnya tangisan itu cuma dalam hati.

 

berlari ke sana, tetap tak ada tujuan

berlari ke sini, ditempat yang tidak pernah aku kenal.

dan akhirnya aku terjatuh, menangis sendirian.

 

lalu…?

bisakah mereka merasakannya ?

bisakah mereka mendengarkannya ?

tetap tidak.

 

aku seperti berjalan disebuah lorong yang gelap, sangat gelap.

takut pun tak berarti, berani pun malu-malu.

kepada siapa berpegang ?  kepada siapa bersandar ?

atau aku memang di takdirkan tidak boleh mengeluh ?

 

Di saat malam, cuma air mata yang jatuh saat aku berdoa

atau…

Di saat malam, cuma air mata yang jatuh membasahi bantal.

itu tetap air mata kan ?

air mata kesepian, yang mencari keramaian

air mata kegundahan yang berharap ketenangan.

 

lalu bisakah kau menghapus air mata itu ?

bisakah kau melihat dalam-dalam isi hatiku?

tidak ada luka disana, tapi tetap menangis

tidak ada perih disana, tapi tetap menangis

 

bisakah kau menghapus air mata itu ?

 

aku butuh diberi kesempatan.

bukan kesenangan

aku butuh diberi waktu untuk bicara

bukan cuma mendengarkan.

aku butuh bercerita

bukan cuma menuliskan cerita

kepada siapa ?

kepada angin ?

kepada hujan ?

kepada matahari ?

kepada bulan ?

atau…

tetap kepada air mataku sendiri ?

 

bicaralah sesukamu.

dan biarkan perkataan mu mulai me- sayat-sayat hatiku

berteriaklah sesukamu

dan biarkan telingaku pekak hingga berdarah mendengarkan teriakan mu

 

sekarang..

apa aku boleh bicara ?

apa aku boleh berteriak ?

atau aku harus kembali menangis ?

dan cuma malam yang tahu.

 

aku juga butuh di dengarkan

dan bukan didengarkan hanya oleh malam

aku juga butuh bercerita

dan bukan bercerita kepada jangkrik yang terus bernyanyi – nyayi dimalam hari

 

aku juga butuh jarimu menyeka air mata ini

dan bukan jariku yang menyeka air mata ini melulu.

 

kepada siapa ?

kepada bayangku sendiri aku bicara

kepada siapa ?

kepada tangisku sendiri aku tersedu

 

aku cuma ingin cepat “pulang….”

pulang kepada siapa ?

kepada …………………………………………?????

aku tetap tidak tahu jawabannya

 

 

Boy hidayat

2-Januari-2012

puisi awal tahun, kepada siapa ?