Arsip untuk Juni, 2011


Malam itu, aku dan mama, sedang membereskan baju-baju yang tergantung didalam gudang, tempat dimana kami biasa menggantungkan baju-baju keluarga kami.

“Sudah banyak yang tidak terpakai nih nak.” Ujar mama…

“Iya ma, ini juga baju nya udah mulai kecil ma.” Ujarku.

 

Begitu banyak baju yang kami pilih, yang kami rasa sudah tidak layak lagi akan kami pakai, baju yang ke kecilan, baju yang sudah lusuh, atau baju-baju yang memang benar-benar tidak terpakai lagi. Terkadang mama terlalu resik, sehingga baju “kumel” sedikit saja sudah dibilang tidak layak pakai. Itulah Mama, untuk hal seperti ini memang perfeksionis.

 

Disaat sedang memilih baju tersebut. Kami menemukan beberapa baju batik peninggalah almarhum papa, peninggalan yang sangat berharga untuk kami.

“ini siapapun yang pakai, tidak akan muat lagi nak” begitu mama bilang saat menunjukan salah satu baju batik milik papa. Tapi mama memutuskan tidak membuangnya.

 

Disaat aku memilih-milihkan baju, baju koko berwarna coklat itu. Iya baju tersebut, terselip sesuatu baju tersebut agak berat di sisi kantong bagian sebelah kanannya.

“ma, apa ini ya ?” ujarku

Mama membolak-balikkan baju tersebut.

“Ini kantongnya mana sih?” sambil membolak-balikkan lagi baju itu.

“Astagfirulloh..” mama tersentak.

Ku menemukan sebuah kacamata peninggalan papa, dan uang sebesar Rp. 22,000-. Uang peninggalan papa, untuk yang terakhir kalinya. Utuh.

 

 

Kurang dari satu bulan sebelum papa meninggal.

 

“Ma…mama… liat kacamata papa engga sih ma? “

“yang mana pa ?” jawab mama.

“itu loh yang baru aja dibeli, warna hitam dia, ndak salah taruh kok papa, benar itu benar papa sudah taruh kok”

“papa salah naro kali pa ?” jawab mama.

“hey anak bujang ? bantuin papa mencari kacamata !” perintah papa.

 

Aku dengan sedikit malas, sambil mencoba untuk bermanja-manja dengan papa berdiri dan “bergelayutan” pada pundak papa.

“ papa mah kebiasaan, naro apa-apa lupa.”

“namanya juga udah tua” balas papa.

“biasanya kan papa taruh disebelah peci hitam papa diatas televisi”

 

Papa memang punya kebiasaan unik, ini sudah mulai aku sadari sejak aku masih duduk di kelas satu sekolah dasar, dan entah kapan papa memulainya. Setiap pengajian subuh papa pulang kerumah selalu saja, menaruh peci hitamnya beserta kacamata baca beliau diatas televisi. Kebiasaan ini terus dilakukannya sampai beliau wafat.

 

“ketemu engga ? kata papa

“engga pa” ujarku

“mencari apa-apa kalau tidak serius mana bisa ketemu anak bujang” kata papa.

Aku Cuma bisa senyum-senyum sendiri, mendengarkan papa menegurku.

 

“huuh, gimana nanti kalo mencari jodoh?”

“itu lain pa. “ jawabku.

“tapi kamu harus melihat memakai “kacamata” hatimu nantinya ketika memilih seseorang” pesan papa.

“ma, anaknya tuh.. mencari apa-apa asal engga ketemu sudah begitu aja ditinggalin, kebiasaan”

Mama hanya senyum-senyum sendiri.

 

“nanti, kalo kacamata papa ketemu, simpan baik-baik ya. Ada uangnya tuh, bilang sama bibi, kalau mencuci lihat-lihat dulu, siapa tahu ketemu” pesan papa.

“iya pa” jawab mama.

“udah sini mana kacamata mama, papa pakai dulu, hey bujang ambilkan kacamata mama” perintah papa kepadaku.

 

Lima bulan setelah kepergian papa….

 

Kacamata, baju koko, dan uang terakhir papa sebesar Rp. 22,000-. Masih utuh didalam kantong baju koko coklat tersebut.

 

“nanti, kalo kacamata papa ketemu, simpan baik-baik ya” itu yang teringat di benakku. Pesan papa terakhir untuk kacamata dan baju koko kesayangannya.

 

Pa, semua masih dalam ingatan, pa semua masih dalam kenangan, dan tidak akan ada yang berubah.

 

Lalu aku dan mama menyimpan semua nya dengan keadaan baik, bersama kenangan yang telah kami lalui bersama laki-laki terhebat yang dengan pundaknya, dengan tangannya, dengan kasih sayang yang tidak pernah di ucapkannya, namun di buktikan dengan cara mendidik kami.

Pa, inilah peninggalan kasih sayang papa…..

 

20-may-2011

Ini peninggalanmu pa, yang paling berharga.

Boy Hidayat

SEMOGA…

Posted: 17 Juni 2011 in Uncategorized

 

Kamu, semoga saja bisa menghangatkan untuk selamanya. Seiring dengan waktu yang semakin lama mendewasakan kita.

Kamu, semoga saja bisa mengurai satu persatu, masalah ini, pertikaian ini, dan bagaimana menyelesaikannya.

Kamu, semoga masih bisa diharapkan untuk duduk bersamaku bersanding disana…

Disana, diatas perjanjian suci.

Aku memendam rindu, menyebutkan namamu untuk menjadi pendamping hidup.

Adakah perjalanan ini mendewasakan kita ?

Kamu, semoga saja, semakin mengerti, bahwa jalan yang kita tempuh bukan jalan yang mudah.

 

Kamu, semoga saja masih ingin bersanding denganku…

Kamu, semoga memang perempuan yang selama ini aku pilih, untuk hidup, untuk mati, untuk bersama.

 

Kamu, semoga…

 

12-may-2011

Boy Hidayat,

Semoga cita-cita ini terwujud