“Hasrat” (untuk kembali)

Posted: 4 Oktober 2010 in Uncategorized

 

 

Apa yang harus dilakukan untuk menusuk sepi ?

Membunuhnya dengan berlahan, lalu berjalan sambil lalu untuk tidak pernah mengenangnya lagi. Tidak pernah menciptanya lagi dan tidak pernah didengarnya lagi.

Aku rindu padamu sahabat, cerita-cerita tentang kita, duduk dipinggir kolam disudut sekolah itu sambil menyanyikan lagu-lagu ciptaan kita sendiri, sebuah lagu untuk mengenang kita “hasrat”.  Atau bermain ayunan layaknya anak-anak kecil kurang bahagia, tapi kita terus menciptakan lagu-lagu. Lagu untuk dikenang disebuah sekolah tua.

Apa yang harus dilakukan jika airmata mengalir deras, mengingat kenangan-kenangan, meruntuhkan segala harapan. Aku rindu padamu sahabat, saat kita mulai menghitung bintang-bintang, dan berharap satu diantara bintang terjatuh, agar kita bisa berdoa kepada Tuhan. Bahwa saat-saat seperti itu tidak pernah dapat dipisahkan, tapi kita tetap harus berpisah.

Aku rindu dinginnya gunung-gunung yang pernah kita taklukkan, menginjakkan kaki kita diantara ciptaan Tuhan yang paling tinggi di dunia tersebut, bukan karena kita pongah, tapi karena kita patut mensyukuri apa yang sudah kita lewati bersama selama ini, dan kalian. Masih dihatiku sahabat.

Aku rindu, menciptakan sebuah lagu (lagi) bersamamu, di sudut kamar asrama yang sepi karena, sahabat yang lain sedang beristirahat di rumahnya masing-masing, sedang aku ? tidak punya rumah dikampung halaman ku sendiri, rumahku hanya sekolah seluas 18 hektar di pinggir kota padang – bukit tinggi.

Menciptakan lagu lagi bersama-mu. Merenung  panjang.

Lalu “hasrat” tercipta.

“waktu trus berlalu,

Iringi langkahku, tuk melepaskan semua rasa ragu.

Dalam hati ini, selalu tersimpan kata tuk kembali kepadamu.

Mungkin suatu hari ku’kan kembali tuk mewujudkan semua rasa mimpi.

Terbesit sebuah sinar kerinduan, yang tersimpan dalam hatiku

 

Aku benci kamu

Bukan berarti aku tak sayang

Aku rindu kamu

Walau berjuta kata maki didalam hati

 Untukmu…..

 

(Boy &  Gondan, INS kayu tanam,sumatera barat, 2000)

 

 Aku rindu memetik bunga melati dipohon-pohon mahoni untuk aku letakkan lagi dibangku yang biasa kita duduki, untuk bercerita, bahwa suatu hari nanti, setelah aku pergi dari sekolah ini, masih ada kenangan yang terus tersimpan, bernama persahabatan.

Aku rindu panggilan “khunyuk” yang ditujukan pada diriku disetiap paginya untuk mengingatkanku bahwa apel pagi akan segera dimulai. Dan laki-laki paruh baya membawa-bawa rotan segera ingin memukul kaki ku, tapi tak pernah dilakukannya.

Aku rindu usapan laki-laki paruh baya itu dikepalaku, dengan menatap tajam sambil berkata ;

“nak, kelak jika kamu sudah tidak ada disini, untuk menyongsong masa depan yang lebih baik, maka kembali lah lagi, pintu sekolah ini selalu terbuka untukmu.”

Aku rindu pada “hasrat” yang ingin membawaku pulang ke sana, kesekolah yang banyak mengajarkan aku tentang banyak hal. Meskipun Cuma mayatku yang akan pulang.

Hadiah untuk sekolahku tercinta

Institut Nasional Sjafei, Sumatera Barat 

30-Oktober-1926-2010

 

Iklan
Komentar
  1. Ari berkata:

    suka kata2 indah keknya nih mas…
    heheheh
    salam kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s