Ayu…

Posted: 22 Februari 2010 in Uncategorized

“Kita selalu menyeleksi masalah dengan logika..”

Itu antara aku dan kamu, jika kita bertemu bukan ? kamu juga yang selalu bilang, “Mas, kadang-kadang perasaan itu bisa mengalahkan logika”.

Entah kapan aku mengenal kamu, Ayu. Seorang sahabat yang mengajarkan banyak hal dalam hidup aku, peperangan antara logika, perasaan dan bahwa cinta itu adalah logika itu sendiri.  Kamu menyadarkan banyak hal, bahwa selama ini aku terlalu membuang waktu untuk hal yang tak penting, “menunggu seseorang, dengan sebuah ketidakpastian, adalah hal yang paling bodoh mas.” Itu katamu.

Kamu tidak pernah tahu Ayu, setiap kali kita berdebat, diskusi, atau apa namanya aku tidak pernah tahu. Aku selalu melihat matamu dalam-dalam, mencoba membaca pikiranmu, menerka-nerka logikamu, dan yang paling penting, mencoba menyentuh sisi lainmu. Sebuah perasaan ; itu yang tidak pernah kamu ketahui.

Sebuah kenyamanan yang akan kita bangun, sebagai teman berbagi, sebagai teman menerka-nerka perasaan masing-masing. Ah.. kamu menyentuh sisi lainku.

Hal yang paling berani yang pernah kita bicarakan, adalah sebuah pengkhianatan !, kamu masih ingat ? disebuah kereta tempat dimana kita biasa berdiskusi sambil ditemani oleh kegaduhan “barang rongsokan” itu. Tapi aku menemukan hal yang baru setiap kali aku bertukar pikiran denganmu.

Aku : mari kita bicara tentang ingkar janji.

Kamu : yah, semua bisa mengingkari janji jika tidak pernah tahu komitmen yang dibangun

Aku : janji akan di ingkari jika kita menemukan “kenyamanan” lain dalam hati kita. Kenyamanan yang tidak pernah bisa kita temukan pada pasangan, pada belahan jiwa, pada cinta yang dimiliki.

Kamu : lalu kenapa mencintai jika tidak ada sebuah kenyamanan ?

Aku : kamu pernah merasakannya bukan ?

Kamu : maksudmu ?

Aku : nyaman berada disamping seseorang yang sebenernya tidak pernah ada dalam hati kita. Karena sebuah keadaan. Kamu tahu? Sebuah kondisi akan bisa merubah semuanya. Termasuk berkhianat !

Kamu : masa ? aku tidak percaya

Aku : tanyakan saja pada hatimu, suatu saat kamu juga akan menyadari hal tersebut.

Tiba-tiba kamu diam untuk waktu yang cukup lama. Percikan hujan mulai menempel di sela-sela jari kaki kita berdua.

Kamu : aku suka sekali hujan mas, hujan membawa pikiranku entah kemana, ada ruang yang kosong yang seakan terisi jika aku mendengarkan suara gemericik hujan.

Aku : ruang yang kosong ? seharusnya tidak akan pernah ada ruang yang kosong dalam hatimu, seharusnya tidak pernah ada gemericik hujan dalam hatimu, jika kamu sendiri bisa mendengarkan suara yang lain, suara-suara yang tidak pernah bisa kamu dengar, tulisan-tulisan yang tidak pernah kamu baca.

Ayu, seorang sahabat yang masih belum menyadari banyak hal, yang masih sulit membedakan “rasa coklat” atau “rasa kacang”, padahal kedua-duanya sangat sulit dihilangkan dari mulut. Seperti kita, ada nadi yang berdetak, namun tak pernah terungkap.

19-Feb-2010

Boy Hidayat

Untuk Ayu.

Iklan
Komentar
  1. misbahul munir berkata:

    bang boy, saling link yuk, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s