Kamu, lingkari tanganmu dipergelangan tanganku

Posted: 28 Desember 2009 in Uncategorized

“Sejak kapan, kamu menyayangiku ?”. Pertanyaan bodoh yang akhirnya aku sesali, melontarkan pertanyaan itu kepadamu. Padahal aku tahu persis, perempuan tidak menyukai sikap “keragu-raguan” perempuan juga tidak suka pertanyaan yang mengarahkan dirinya bahwa apa-apa yang sudah mereka berikan dianggap belum bisa menjawab pertanyaan “keragu-raguan” seorang laki-laki.

“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung hatimu.”

Kamu hanya tersenyum, melihat mataku dalam-dalam. Di sebuah kereta yang membawa kita pulang, untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama aku tidak pernah berjalan-jalan dengan seorang perempuan dan menonton film di sebuah bioskop, hanya dengan kamu.

“Sejak aku melingkarkan tanganku dipergelangan tanganmu.”

Cuma itu jawaban yang aku terima darimu. Sebuah jawaban yang sangat bijak. Karena sejak hari kamu menjawab pertanyaanku, kamu selalu melingkarkan tanganmu di pergelangan tanganku.

Sejak hari itu juga, dan di hari-hari berikutnya. Kamu berhasil memadamkan “rasa curiga” yang berlebihan didalam hatiku. Curiga, karena aku selalu bersikap untuk terus memakai logika, tanpa mengimbanginya dengan perasaan. Sebuah perasaan, yang sekarang baru aku sadari, bahwa itu membuatmu nyaman.

Kamu juga sering berpamitan melalui pesan pendek yang kamu kirimkan kepadaku.

“Aku mau potong rambut, boleh tidak ?”

“Aku mau nonton futsal, boleh ?”

“Aku mau, makan. Kamu sudah makan ?”

Pesan-pesan pendek ini yang menghantam hatiku bertubi-tubi, pesan ini pula yang mencairkan “logika” keras ku terhadapmu. Dan kamu berhasil menaklukannya.

Namun ada hal yang benar-benar membuatku porakporanda terhadapmu, sikap mu yang ingin belajar, ingin mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui, dan sebelum kamu bertanya kepada orang lain, kamu bertanya kepadaku terlebih dahulu. Saat itu aku baru mengetahui, aku begitu berarti untukmu. Setidaknya sekarang ini.

Kamu juga menjawab saat aku tanyakan, “mengapa kamu bertanya padaku terus, Tanya saja ke orang lain yang lebih tahu”. Kamu  menjawab ; “Sebelum aku percaya atas jawaban orang lain, aku harus percaya kepada jawabanmu terlebih dahulu.”

Kamu juga yang menepiskan bayangan masa lalu kita berdua, kamu selalu bilang ; “kita dipertemukan karena banyak kesamaan di masa lalu yang kita jalani, Mungkin Tuhan sengaja mempertemukan  kita berdua. Agar kita bisa sama-sama mengobati, dan belajar.”

 Kamu, iya kamu !

Yang masih saja melingkarkan tanganmu dipergelangan tanganku.

Yang mungkin suatu saat akan memeluk tubuhku, entah untuk sebuah keabadian, atau mungkin untuk sebuah perpisahan.

 

Boy Hidayat

28-december-2009

“catatan akhir tahun”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s