Arsip untuk Oktober, 2009

POTRET

Posted: 7 Oktober 2009 in Uncategorized

“Ayolah, sudah setengah jam kita disini, kamu masih saja tidak beranjak, aku bosan dengan spot begini terus, bisa kita cari spot yang lain ?”. keluhmu

“Iya sebentar, gambar langit sorenya kita tunggu biar sedikit lebih gelap,”

Kamu tetap saja menggerutu, mengomeli diri sendiri, sementara aku masih saja asik memotret, siluet-siluet senja, burung-burung yang sengaja mampir di ranting-ranting kering diatas pohon sambil bernyanyi, meski aku tidak pernah tahu, mereka menyanyi atau menangis. Tapi aku benar-benar menikmatinya.

“Lagian, kenapa sih punya hobi memotret, trus kenapa kamu engga sekolah photography aja ?” “Ya gak tau, kenapa suka banget sama photography.”

“Tapi kalau hobi begini engga perlu ajak-ajak aku kan ? harus ikutin kamu keliling sana-sini, buat mencari spot yang bagus untuk kamu ambil.”

“Aku mengajakmu, supaya kalau aku bosan sama spot yang ada, kamu bisa aku foto.”

“Alah, palingan foto aku buat nakutin tikus di rumah, iya kan !”

“Ya enggalah, buat nakutin kucing lebih pantes.”

Tiba-tiba kamu memukul pelan pundakku, ada rasa menjalar disini, tapi dimana aku juga tidak tahu.

“Ayo kita cari spot-spot yang lain, mungkin ada yang lebih menarik dari ini.” Ujarku, sambil memotret dirimu, dilatari siluet senja yang mungkin enggan untuk turun di ujung langit-langit sana.

Kita mulai mencari tempat-tempat yang lain, berjalan berdua. Ada yang lain saat itu, kamu kalungkan tanganmu, dipergelangan tanganku. Tiba-tiba ada yang terhentak, dimana ? aku juga tidak tahu.

“Nanti kamu janji ya, kamu mengirimkan semua foto-foto aku.”

“Iya, nanti pasti aku kirimkan lewat mail, makanya kalau di foto jangan cemberut terus.”

Sekali lagi, kamu memukul pundakku, sambil menyandarkan kepalamu.

***

Sebuah café dipinggir danau.

“apa yang membuat kamu tertarik dengan photography ?”

Kamu memecahkan lamunanku, saat aku mulai menikmati lentik matamu, yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

“Awalnya Cuma dokumentasi aja, habis itu merasa suka dengan dokumentasi-dokumentasi semasa aku SMA, yang aku kumpulkan. Aku tertarik dengan sebuah foto-foto saat itu, melihatnya, lalu mencoba membayangkan sedang apa yang kita lakukan saat proses pengambilan gambar tersebut, mengingatnya dan terus mengingat, lalu kadang-kadang tersenyum kecil, kalau-kalau ada kejadian yang lucu saat pengambilan gambar sebuah foto tersebut.”

“Hanya itu aja ?”

“Sejarah, pastinya. Aku selalu merasa setiap manusia pasti punya ceritanya masing-masing, setiap individu mempunyai kisah yang mungkin saja susah untuk dilupakan, lalu foto tersebut merekam semuanya. Sakit, pahit, manis, semua terekam dalam sebuah foto bukan ?”

“kenapa tidak di videokan saja, kita bisa menikmatinya lebih dari sebuah foto.”

“Foto, seperti mencoba menegurku, untuk tidak melupakan apa yang pernah terjadi dalam hidupku, dalam kisahku, juga dalam hatiku.”

“Dalam hatimu ?”

“hmm ,.. iya.. iya,.. persisnya seperti itu.”

“maksudnya ?”

Aku diam, lalu sesekali mengambil potret dirimu dengan mata yang lelah, tapi entah kenapa aku merasa kamu begitu lain malam itu.

“maksudnya ?, aku tidak mengerti.”

“banyak yang kamu tidak mengerti tentang kita, maksudku tentang aku.”

“makanya kasih tau dong, percuma aja aku selalu ada dekat denganmu.”

“nanti.. !”

“Aneh ya,..kita berdua.”

“Apa ?”aku kembali bertanya

“iya, kita aneh.”

“Maksudnya ?”

“kita bisa sama-sama terbuka, bisa sama-sama bicara, bahkan bisa sama-sama merasakan apa yang saling kita rasakan. Tapi diantara kita engga pernah ada yang bisa mengungkapkan apa maksudnya.”

“Kita ??”

“iya kita,..”

“Ada apa dengan kita ?”

“Aku ngerasa kamu menyimpan sesuatu yang sampai hari ini aku tidak pernah tahu apa yang kamu simpan dalam pikiranmu, aku juga bingung, kenapa aku juga enggan mempertanyakan padamu, mungkin kamu merasa nyaman untuk menyimpannya sendiri dan tidak pernah berbagi denganku, ya mungkin suatu saat kamu bisa menceritakannya kepadaku.”

Aku gugup, hmmm.. tunggu dulu, aku seperti terlihat bodoh. Culun atau apa namanya saat kamu mengatakan hal itu. seperti ada yang ingin di ucapkan, tapi.. tapi… ahh.. aku mengambil kamera kesayanganku, membidiknya tepat kearah wajahmu, kamu berusaha mengelak, lalu tersenyum.TEPAT !! aku memotretmu, diheningnya malam, aku memotretmu diantara gemerlapnya lampu-lampu jalan, lampu-lampu taman, dan lampu-lampu kolam. Aku memotretmu, tepat saat senyum bibirmu terlihat. Aku memotretmu sekali lagi, untuk aku simpan didalam hati…

***

Disebuah pintu gerbang…

“Makasih ya untuk ngebuat kaki ku pegel-pegel, nemenin kamu mengambil gambar-gambar itu, makasih ya untuk makan malamnya, makasih untuk semuanya.”

“Oh ya, sama-sama, aku pulang ya.”

“hmm tunggu dulu…” Kamu menarik lenganku, membuka sesuatu dari tasmu lalu mengeluarkan sesuatu. Sebuah kertas, iya sebuah kertas kecil.

“ini untukmu, mungkin lebih tepatnya untuk hasil potretmu, yang kamu simpan dalam hati.”

Aku seperti ingin teriak dalam hati. Bagaimana dia bisa membaca kalimat-kalimat yang mengalir dalam hatiku.

Segera ku tutupi ke gugupan ini.

“Selamat malam…”

“Aku pulang, selamat malam.”

Laju mobil, begitu cepat, tapi terasa sangat lambat bagiku. Aku buka secarik kertas ungu, tertulis sebuah puisi.

“Aku telah bernyanyi untukmu Tapi kau tidak juga menari Aku telah menangis di depanmu Tapi kau tidak juga mengerti Haruskah aku menangis sambil bernyanyi”

Untukmu, menemani hasil potret yang kamu simpan dalam hati….

Habis itu, yang ada hanya riak-riak kecil yang menggelitik disini…..

Boy Hidayat

7-October-2009

Iklan