Kisah laki tua di tengah pasar

Posted: 17 Agustus 2009 in Uncategorized

Ini duka tak terbendung
Ini luka tak terobati,..
Dalam sepi dalam sunyi.
Aku sendiri tak pernah di hargai

Dulu berlari mengangkat senjata
Demi merah putih.
Dulu meringis menahan sakit
Demi proklamasi

Lalu benteng-benteng pertahan diri
Semakin ter kikis dan rubuh.
Aku sunyi
Demi merah putih

Ini duka tak terbendung
Ini luka tak terobati
Jika terus masih di jajah-dan terus di jajah
Bukan tak cinta pada bangsa
Tapi badan sudah tak berdaya

“Apa kata dunia ?”
Jika negeri ini masih susah
Dulu makan pakai ubi di tengah hutan
Tapi sekarang malah tak dapat makan sama sekali

Bukan perang penyebabnya
Bukan tanah subur yang terjajah lagi
Hanya karna anak bangsa yang sudah tak perduli

Jika tubuh ini masih berdaya
Aku siap angkat senjata
Jika tubuh ini sudah tak keropos
Aku rela di garis terdepan

Mati lebih dulu
Daripada di jajah melulu…
Bukan untuk aku
Hanya untuk anak – cucu bangsaku

Ini duka tak terbendung
Ini luka tak terobati
Ketika merah putih bersih
Sudah tak di hormati

Dulu, lusuh pun kain itu
Kami bangga, kami hormat
Merah darah kami
Putih cinta kami
Dalam satu kesatuan

Kini hanya simbol
Yang tak pernah dihargai
Se-keji itukah zaman ?

Jika tahu seperti ini,
Mungkin aku memilih mati sebelum menikmati kemerdekaan
Mimpiku merdeka manis
Mimpiku merdeka sejahtera
Tapi maut malah makin mendekati

Ini luka yang tak terbendung
Ini luka yang tetap tak terobati….

Boy hidayat
16-agustus-2009
Kisah laki-laki tua bercerita, membuat malu diriku yang menderita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s