Arsip untuk Agustus, 2009

Reason of Love

Posted: 17 Agustus 2009 in Uncategorized

Cinta, seperti kumpulan sekotak permen karet yang berwarna-warni, seperti coklat cair atau batang yang ditengahnya di isi berbagai aneka rasa, kacang, strawberry, atau sejenisnya. Bahkan lebih jauh, sebagian orang memandang, cinta adalah kumpulan-kumpulan materi yang ternilai, yang bisa dihitung atau yang bisa dijumlahkan kelipatannya, semakin besar kelipatan “harga” maka akan semakin besar rasa cinta.

Jadi jangan salahkan jika aku selalu beranggapan, “cinta harus punya alasan..” bohong, jika mencintai seseorang tanpa alasan apapun. Hidup ini berwarna, dan harus diwarnai, merah putih, jingga, hitam, orange, atau biru, semua butuh biaya yang mahal ! “logika telah merusak segalanya !” kemurnian berfikir tentang perasaaan, terlalu berfikir tentang kemurnian sebuah ketulusan, logika selalu mengatakan,.. tidak akan pernah ada ketulusan yang tidak akan pernah dibayar, manis !.

“Aku salah, dan benar-benar salah..” mengenal dirimu, menyayangi dirimu. Ketidakberdayaan membuat logika semakin ganas berfikir, ketidakmampuan membuat “Nilai cinta” sebenarnya telah hilang. Aku salah, lalu harusnya aku telah kalah.

Lalu kalau bicara cinta, dan tidak ada sangkut pautnya dengan sebuah “nilai”, mengapa harus ada yang terluka ? mengapa harus ada yang kecewa ? cinta itu Cuma tembok besar yang menghadang, memisahkan semua perbedaan, hitam di sebelah kiri, lalu putih disebelah kanan.
Cinta itu sebenarnya adalah jurang yang sangat dalam, jika masuk kedalamnya jangan pernah berharap untuk bisa keluar.

Cinta itu cermin, mengikuti setiap gerak langkah kita, cinta itu gema, bersautan antara panggilan satu dengan panggilan yang lain. Dan harusnya cinta tidak akan pernah ada yang bertepuk sebelah tangan. Kita yang membuatnya tidak bergema, kita yang membuatnya tidak bergerak, kita yang membuatnya tidak pernah bertepuk. Menimbulkan bunyi yang indah.

Prespektif cinta yang benar-benar salah, yang telah aku pahami.

***
“Menikah itu menyatukan dua perbedaan yang teramat dalam,”
“Iya, aku yakin, tapi ibarat berperang, jangan pernah ada di garis terdepan, jika kita tidak mempunyai senjata yang layak, begitu juga menikah, bagaimana bisa dikatakan siap jika kita tidak punya apa-apa ?”
“iya, tapi kita punya cinta kan ?, perasaan yang kuat antara kita berdua,”
“Menikah tidak makan cinta, sayang.” Ujarku
“Tapi, dari cinta juga, yang akan menguatkan dirimu untuk memberikan nafkah bukan ?”

Aku diam, “Tapi, dari cinta juga, yang akan menguatkan dirimu untuk memberikan nafkah bukan ?” . ucapan itu membuat diriku bingung memutuskan sesuatu, sebuah perjalanan yang baru, yang akan aku jalani didepan nanti…

“Ada Tangan-Nya, yang membantu saat kita jatuh, ada cinta-Nya, yang selalu melindungi saat kita lupa, antara satu dengan yang lainnya, Ada Ikhlas-Nya, yang menjaga kamu, aku, dan mungkin anak-anak kita nanti, dikemudian hari, lalu apa yang kamu takutkan ?”

“Takut tak bisa membahagiakanmu..”

“kenapa ? jangankan besok, setahun, dua tahun, jika kita menikah. Hari ini pun aku sudah sangat bahagia denganmu, apalagi jika kita menikah ?”

Dia terus me-yakinkan, bahwa esok akan ada cerita yang lebih baik, akan ada cinta yang lebih baik, dibalik perjanjian suci bernama pernikahan. Dia terus me-yakinkan, bahwa menikah adalah cara terbaik menjaga cinta yang kita miliki.

“Cinta harus punya alasan sayang, itu yang selalu kamu bilang bukan ? itu juga sebabnya salah satu alasan kamu untuk segera menikahiku bukan ? maksudku, seharusnya..”

Aku diam, lalu berdoa dalam hati ;
“Ya Tuhan, jika memang dia tulang rusukku yang hilang yang selama ini aku cari dalam setiap sujudku dan doaku, maka jadikanlah mahar terbaik ini, untuk menjadikannya halal bagiku, mencintai dia selamanya..amien”

Boy hidayat
17-Agustus-2009
Dalam setiap malam-malam doaku

Iklan

Kisah laki tua di tengah pasar

Posted: 17 Agustus 2009 in Uncategorized

Ini duka tak terbendung
Ini luka tak terobati,..
Dalam sepi dalam sunyi.
Aku sendiri tak pernah di hargai

Dulu berlari mengangkat senjata
Demi merah putih.
Dulu meringis menahan sakit
Demi proklamasi

Lalu benteng-benteng pertahan diri
Semakin ter kikis dan rubuh.
Aku sunyi
Demi merah putih

Ini duka tak terbendung
Ini luka tak terobati
Jika terus masih di jajah-dan terus di jajah
Bukan tak cinta pada bangsa
Tapi badan sudah tak berdaya

“Apa kata dunia ?”
Jika negeri ini masih susah
Dulu makan pakai ubi di tengah hutan
Tapi sekarang malah tak dapat makan sama sekali

Bukan perang penyebabnya
Bukan tanah subur yang terjajah lagi
Hanya karna anak bangsa yang sudah tak perduli

Jika tubuh ini masih berdaya
Aku siap angkat senjata
Jika tubuh ini sudah tak keropos
Aku rela di garis terdepan

Mati lebih dulu
Daripada di jajah melulu…
Bukan untuk aku
Hanya untuk anak – cucu bangsaku

Ini duka tak terbendung
Ini luka tak terobati
Ketika merah putih bersih
Sudah tak di hormati

Dulu, lusuh pun kain itu
Kami bangga, kami hormat
Merah darah kami
Putih cinta kami
Dalam satu kesatuan

Kini hanya simbol
Yang tak pernah dihargai
Se-keji itukah zaman ?

Jika tahu seperti ini,
Mungkin aku memilih mati sebelum menikmati kemerdekaan
Mimpiku merdeka manis
Mimpiku merdeka sejahtera
Tapi maut malah makin mendekati

Ini luka yang tak terbendung
Ini luka yang tetap tak terobati….

Boy hidayat
16-agustus-2009
Kisah laki-laki tua bercerita, membuat malu diriku yang menderita

“Perlu sedikit “Tamparan”dihatinya agar dia mengetahui, bahwa kamu ada disisinya, mas.”

Sebuah catatan kecil, aku anggap sebagai pesan dari seorang sahabat yang berarti buatku, mungkin dia benar, atau mungkin juga dia salah. Aku tidak pernah tahu.
Sebuah “Tamparan” dihatinya, mungkin itu yang tidak pernah sanggup aku lakukan, membuatnya sadar bahwa selama ini aku ada disisinya, membuatnya sedikit berfikir, bahwa selama ini akulah tempat segala keluhannya tertumpah.

Sebuah “tugas” penting yang harus aku lakukan, sebenarnya aku juga tahu bahwa mungkin hal itu tidak akan pernah sanggup aku lakukan. Membuat “tamparan-tamparan” kecil dihatinya bertubi-tubi seperti tugas yang sangat berat untukku. Lagipula apa susahnya membuat hal-hal kecil yang sedikit menyadarkan dia, bahwa ingin sekali merebut hatinya ?

Kadang-kadang aku berfikir, apa yang harus dilakukan lagi untuk menunjukkan bahwa memang mengatakan sebuah perasaan itu tidak mudah bagiku, mengatakan kejujuran perasaan itu bagai mengangkat seonggok batu yang sangat berat. Aku Cuma terlalu takut, menerima sedikit kenyataan bahwa menikmati cinta yang bertepuk sebelah tangan itu, terlalu menyakitkan. Kejadian ini berulang – dan terus berulang.

Sampai saat fase ini mulai dijalani, aku bosan…
Bosan menunggu kamu bicara, bosan menunggu waktu yang tepat, bosan menunggu bahwa suatu hari nanti, kamu akan meletakkan hatimu berdampingan dengan hatiku, bukan untuk selamanya, tapi untuk saat ini saja.

Aku bahkan tidak pernah punya mimpi merebut hatimu, ber-angan terlalu jauh bahwa suatu saat kita akan menapaki jalan bersama, apalagi bergandengan tangan. Untuk sekedar “menampar” hatimu yang masih bisu saja belum aku lakukan.

Seharusnya, “Misi penting” ini bisa aku jalani dengan baik, sebagai seorang laki-laki pada umumnya, atau mungkin aku harus banyak belajar, kepada “bajingan-bajingan” tengik itu, belajar bagaimana merangkai kata-kata, menjadi sebuah kalimat yang indah, sampai akhirnya sebuah kata yang sangat singkat meluncur cepat dari mulutku, “aku suka padamu”.
Bodohnya aku. Lagi apa susahnya mengatakan tiga suku kata yang sangat singkat itu, meluncur dari bibirku, dan ketika sudah kamu dengarkan, aku pura-pura lupa bahwa aku pernah mengucapkan tiga suku kata itu, agar malu tak mulai menjalar diseluruh tubuhku, jika memang kamu tidak menginginkannya.

Ketika tigapuluh menit aku punya waktu yang panjang untukmu, aku masih saja tidak bisa merangkai kata, mulai besok aku harus kursus bagaimana mengatakan tiga suku kata itu ; hanya sekedar mengucapkan ; “Aku suka padamu”.
Arrgghh… lagi-lagi gugup menyerang, menyerbu hebat diriku, menembaki hati dan mengunci bibir ini.

Aku ditertawakan, oleh hati ini, oleh waktu yang terus berputar, atau oleh dirimu, yang sudah melihat gelagat bahwa ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Aku harus benci tentang semua ini, tentang bagaimana jujurnya perasaan kepadamu.

Baiklah, sekarang bagaimana aku harus mengatakannya kepadamu ? bagimana aku menemukan waktu yang tepat ? bahwa kamu benar-benar ingin mendengarkan tentang semua ini ? atau haruskah aku mengatakannya hanya lewat puisi-puisi ? tidak ! aku ingin belajar mengatakan tiga suku kata itu.

Mungkin benar, harusnya aku sudah mulai “Menampar” hatimu sejak dulu, bukan dalam waktu dekat dan singkat, tapi salahkah jika perasaan ini hadir baru-baru ini ?

Ini hanya permainan merangkai sebuah kata untuk bicara kepadamu, ini hanya sebuah pelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan ini hanya pelajaran menentukan waktu dalam sebuah angka-angka matematika, menemukan waktu yang tepat, menyusun bahasa yang singkat dan jelas, dengan sejelas-jelasnya, untuk menunjukkan bahwa aku ingin sekali kamu tahu perasaan ini.

Tapi lagi-lagi, aku diam, aku bisu, aku tidak berkutik didepanmu. Saat melihat matamu, melihat senyummu, dan membuat semuanya, lidahku gugup dan terus gugup tak bergerak. Tapi hati ini memaksa, “cepat katakan !”
Lagi-lagi bodohnya aku !!

Membuatmu sadar, bahwa aku selalu ada saat kamu butuh, membuatmu mengerti bahwa aku mengorbankan banyak waktu saat kamu ingin mencuri waktukku yang seharusnya bukan untukmu, itu bisa aku lakukan. Tapi membuatmu sadar ini semua untukmu, misi tersulit yang pernah aku jalani.

“Aku akan menjadi badut, agar membuatmu selalu tersenyum saat kamu sedih
Aku menggenggam tanganmu, saat dingin mulai menjalar, lalu menular penyakit untukmu,
Aku mampu berjalan, menjagamu disaat malam gelap.
Tapi aku belum mampu untuk mengatakan; aku senang padamu.”

Perlu berapa “tamparan”-kah yang akan kulayangkan dihatimu, agar kamu mulai tersadar aku menunggumu untuk waktu yang cukup lama dan membosankan. Perlu berapa “tamparan”-kah, yang akan ku layangkan dihatimu, agar kamu mulai terhentak dan membaca pikiranku.

Kamu tidak membutuhkan apa-apa, kamu hanya menunggu “bisu hati” ini, untuk bisa mengatakan sesuatu kepadamu, untuk bisa jujur padamu.

Plaaak !!, ini sebuah “tamparan” untukmu…
Agar kamu mengetahui sedikit saja, bahwa aku ada disisimu.
Plaaak !!, ini sebuah “tamparan” untukmu…
Agar kamu segera mengganti status kita, dari sahabat terbaik, menjadi yang “lebih baik…”

Plaaak !!, ini sebuah “tamparan” untukmu…!!
Masihkah kamu tidak mengerti ??

Boy Hidayat
13-Augustus-2009

Aku disini untukmu…

Posted: 14 Agustus 2009 in Uncategorized

Coba beri sedikit waktu, dan sisakan untukku. Maka aku akan membuat kamu terbiasa dengan apa yang ingin aku lakukan kepadamu. Supaya kamu terbiasa, supaya kamu cepat berfikir. Lalu cepat mengambil keputusan. Tidak kah kamu lelah ? Coba sambut apa yang ingin aku berikan kepadamu, lalu kamu akan merasakan apa yang tidak pernah kamu rasakan dari laki-laki lain yang mencoba merebut hatimu.

Aku tidak berikan mawar, aku tidak berikan pelangi. Aku hanya ingin ada saat kamu ada. Bahkan aku tidak suka merayu, seperti laki-laki bodoh lainnya, membohongi diri sendiri, mengatakan kamu cantik, buatku kamu biasa saja. Itu sebab aku luluh lantak karenamu…

Aku juga tidak punya lagu sendu untuk ku mainkan kepadamu, supaya kamu merasa kasihan, lalu mulai mencintaiku. Buatku tidak berguna sama sekali. Aku Cuma ingin menyempurnakan keinginan-keinginan kamu yang sederhana, lalu mulai menyanggupinya tanpa dipaksakan. Tapi berilah sedikit waktu…

Bagaimana sebelum kamu ludahi diriku, duduklah denganku, menikmati apa yang bisa kita nikmati, bukan dengan ribuan bintang dilangit, tempat yang indah, hanya sepasang bangku kecil sederhana untuk kita berdua, lalu ceritalah, aku pasti bisa membuatmu bahagia, lain dari laki-laki bodoh lainnya yang selalu berharap mereka ada selalu disisimu. Tapi berilah sedikit waktu untukku ..

Cinta ada karena terbiasa… maka mulai-lah terbiasa menikmati tingkah-tingkah bodohku, untuk bisa membuat kamu tertawa dan mulai melupakan laki-laki bodoh lainnya yang terus berharap bisa merebut hatimu.

Buatku kamu biasa saja, tidak secantik yang seperti laki-laki bodoh lain katakan. Tapi aku sudah mulai terbiasa mengilhami ke-“Biasa”-an mu itu lalu mulai merobek hatiku. Baiklah cobalah berikan waktu sedikit untukku. Aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku… meski saat ini aku tahu kamu belum memiliki rasa yang sama, tak apa. Pikirkanlah kembali baik-baik…

Kamu boleh tertawa, boleh bahagia, dan boleh apa saja dengan mereka sesuka hatimu, dimana saat kenyamanan kamu temukan, tapi kemarilah, dan bersandar dipelukku ketika kamu jatuh dan butuh. Maka berilah sedikit waktu untuk aku merebut hatimu, bukan saat bahagia menghampiri, tapi saat duka menyelimuti. Aku bisa membuatmu jatuh dalam pelukan yang sangat dalam…

Aku tak pernah pupus, maka tak akan pernah memupuskan hatimu… Aku disini untukmu, melihatmu tertawa, bahagia, dan yakin kamu akan jatuh ke pelukan saat kamu membutuhkan.

Aku sedang memburu hatimu, dengan sangat perlahan ingin menaklukan… Kamu masih diam, kamu masih bisu, kamu masih lengah… Tapi berikan sedikit waktu, dan tak perlu menilai semua Aku bisa menaklukan dan membuatmu jatuh ke gejolak yang sama dengan apa yang aku rasakan.

Aku disini untukmu, ketika semua laki-laki bodoh lainnya mulai meninggalkanmu satu persatu…

Dan ingatlah itu…

Boy Hidayat 11-Aug-09

Letih mengejarmu

Aku lelah pada setiamu…

Posted: 12 Agustus 2009 in Uncategorized

Aku lelah pada setiamu…

Kamu tahu…
Aku lelah pada setia mu, yang selalu kamu ucapkan untuk selalu setia dan terus setia. Aku juga bosan dengan cintamu, yang hidup dan terus hidup dihatiku, kamu tak pernah berani mengambil resiko.

Katamu janji tak boleh ingkar, kamu salah sayang. Janji tak harus sering diucapkan, itu yang tepat bukan ? semakin kamu sering mengucapkan, ragu semakin menjadi-jadi di benakku. Kamu selalu menanyakan adakah kamu dalam hatiku ? seharusnya tak layak kamu tanyakan hal itu. Semakin kamu menanyakan hal itu, aku menjadi semakin mengerti, bahwa mendua begitu indah. Aku tahu ini tak pernah adil untukmu, tapi salahkan jika kebosanan mulai datang dihatiku ?

Aku lelah pada janjimu…
Janji yang sering kali kamu ucapkan, untuk tidak pernah mendua, maafkan aku, seandainya kamu tahu betapa hebatnya mendua, maka aku yakin kamu akan semakin ragu pada kesetian yang terus kamu ucapkan dan kamu jaga tersebut.

Maafkan aku, tapi ini benar adanya. Aku sangat-sangat lelah pada setiamu… hidup berdua denganmu, tapi janji harus ingkar, janji harus tak ditepati, resiko terbesar adalah, salah satu diantara kita akan mengkhianati, dan satu lainnya merasa disakiti. Aku mengerti, tapi.. ini terjadi karena aku bosan pada janji-janjimu, pada kata setiamu, untuk kali ini meskipun tak pernah kamu ijinkan, tapi berilah sekali waktu, agar aku tak hanya denganmu, agar aku tak mendengar janjimu, ada dia yang hadir. Ditengah kemelut hati yang bosan menghadapimu.

Inikah indah mendua ?

Aku juga tak pernah tahu, tapi untuk kali ini cobalah pergi jauh dan bawa jauh cintamu, jangan pernah bertanya lagi, karena kamu harus yakin bahwa disini, dihatiku masih ada kamu.

Malam ini, kita duduk berdua disofa biasa, menikmati malam dengan penuh bintang. Lagi-lagi kamu mengatakan janjimu, aku diam dan masih tetap diam, bukan karena aku takjub dengan janjimu, aku sangat bosan dengan muntahan janji yang seringkali kamu ucapkan begitu saja.

“aku janji tak akan pernah meninggalkanmu, apakah kamu bisa menyanggupinya ?”

Aku diam cukup lama, lalu…

“Aku juga janji tak akan pernah meninggalkanmu.” Ucapku.

Kamu bersandar dipundakku, dan memeluk erat, mengecup keningku. Lalu kembali bersandar dipundakku…

“Aku bahagia..”
“Aku juga bahagia..”

Hati kecilku berjanji ;
“Aku berjanji, dan sangat berjanji tak akan pernah meninggalkanmu, sedetikpun manis. Tapi maaf aku tidak pernah bisa berjanji untuk tidak mengkhianatimu, hanya itu yang bisa aku berikan padamu, selebihnya aku tak pernah mampu.”

Boy Hidayat
10-Agustus-09
Perasaan cinta adalah milik manusia, manis..tapi kamu jangan lupa, kebosanan juga sebuah perasaan yang manusiawi…

Aku disini untukmu…

Posted: 12 Agustus 2009 in Uncategorized

Coba beri sedikit waktu, dan sisakan untukku. Maka aku akan membuat kamu terbiasa dengan apa yang ingin aku lakukan kepadamu. Supaya kamu terbiasa, supaya kamu cepat berfikir. Lalu cepat mengambil keputusan. Tidak kah kamu lelah ?
Coba sambut apa yang ingin aku berikan kepadamu, lalu kamu akan merasakan apa yang tidak pernah kamu rasakan dari laki-laki lain yang mencoba merebut hatimu.

Aku tidak berikan mawar, aku tidak berikan pelangi. Aku hanya ingin ada saat kamu ada. Bahkan aku tidak suka merayu, seperti laki-laki bodoh lainnya, membohongi diri sendiri, mengatakan kamu cantik, buatku kamu biasa saja.
Itu sebab aku luluh lantak karenamu…

Aku juga tidak punya lagu sendu untuk ku mainkan kepadamu, supaya kamu merasa kasihan, lalu mulai mencintaiku. Buatku tidak berguna sama sekali.
Aku Cuma ingin menyempurnakan keinginan-keinginan kamu yang sederhana, lalu mulai menyanggupinya tanpa dipaksakan.
Tapi berilah sedikit waktu…

Bagaimana sebelum kamu ludahi diriku, duduklah denganku, menikmati apa yang bisa kita nikmati, bukan dengan ribuan bintang dilangit, tempat yang indah, hanya sepasang bangku kecil sederhana untuk kita berdua, lalu ceritalah, aku pasti bisa membuatmu bahagia, lain dari laki-laki bodoh lainnya yang selalu berharap mereka ada selalu disisimu.
Tapi berilah sedikit waktu untukku ..

Cinta ada karena terbiasa… maka mulai-lah terbiasa menikmati tingkah-tingkah bodohku, untuk bisa membuat kamu tertawa dan mulai melupakan laki-laki bodoh lainnya yang terus berharap bisa merebut hatimu.

Buatku kamu biasa saja, tidak secantik yang seperti laki-laki bodoh lain katakan. Tapi aku sudah mulai terbiasa mengilhami ke-“Biasa”-an mu itu lalu mulai merobek hatiku. Baiklah cobalah berikan waktu sedikit untukku.
Aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku… meski saat ini aku tahu kamu belum memiliki rasa yang sama, tak apa. Pikirkanlah kembali baik-baik…

Kamu boleh tertawa, boleh bahagia, dan boleh apa saja dengan mereka sesuka hatimu, dimana saat kenyamanan kamu temukan, tapi kemarilah, dan bersandar dipelukku ketika kamu jatuh dan butuh.
Maka berilah sedikit waktu untuk aku merebut hatimu, bukan saat bahagia menghampiri, tapi saat duka menyelimuti.
Aku bisa membuatmu jatuh dalam pelukan yang sangat dalam…

Aku tak pernah pupus, maka tak akan pernah memupuskan hatimu…
Aku disini untukmu, melihatmu tertawa, bahagia, dan yakin kamu akan jatuh ke pelukan saat kamu membutuhkan.

Aku sedang memburu hatimu, dengan sangat perlahan ingin menaklukan…
Kamu masih diam, kamu masih bisu, kamu masih lengah…
Tapi berikan sedikit waktu, dan tak perlu menilai semua
Aku bisa menaklukan dan membuatmu jatuh ke gejolak yang sama dengan apa yang aku rasakan.

Aku disini untukmu, ketika semua laki-laki bodoh lainnya mulai meninggalkanmu satu persatu…

Dan ingatlah itu…

Boy Hidayat
11-Aug-09
Letih mengejarmu