Menanti sampai kamu bicara

Posted: 31 Juli 2009 in Uncategorized

Ada jawaban, diatas pertanyaan yang terus kamu simpan dalam hatimu. Aku tahu, sangatlah sulit menerka, bahwa jawaban itu benar-benar seperti yang diharapkan. Aku diam, yang benar-benar membisu memikirkan, bahkan menunggu semua jawaban atas pertanyaan yang pernah aku sampaikan padamu.

Aku seperti menari tanpa alunan musik, aku seperti melukis, tapi kamu hanya memberikan satu warna yang tidak pernah aku kenal.
Lalu kamu bilang, “Waktu yang menemukan kita, sampai hati ingin saling memiliki, maka waktu juga yang tega untuk memisahkan kita.”

“Lalu jika cinta sudah terlambat ?”
“Mungkin aku yang salah memahami isi hatimu ?”
“Tidak, mungkin waktu yang salah.”
“Atau isi hati kita yang salah, dan bertepatan dengan waktu yang salah juga ?”

“Jika cinta yang sudah terlambat, maka harusnya kita tidak pernah menyalahkan waktu”.
“Sebab waktu tidak akan pernah berhenti, untuk menunggu perjalanan kita kan ?”

Kamu selalu memahami, bahwa tidak ada yang salah dengan cerita kita. Tapi mungkin waktu yang tidak mengijinkan.

“aku menunggumu bicara, saat itu diantara kita tidak memiliki siapapun,” lirih mu pelan.
“bicara yang memang sangat sulit untuk diungkapkan, sampai akhirnya aku harus membiarkan rasa itu mulai pergi.”
“Kamu merasa bersalah ?”
“Tidak sedikitpun.”
“itu yang diharapkan.”
“lalu mengapa kita tidak menciptakan waktunya sendiri ?”

Aku diam, menciptakan waktu sendiri ? ada hal lupa yang tidak pernah terpikirkan olehku saat itu, memikirkan untuk menciptakan waktu sendiri? Diantara kita ? bodohnya aku, bodohnya kamu, dan tentu bodohnya kita berdua.
Mengapa harus sampai menunggu aku atau kamu yang berbicara.

“Tapi kali ini, kita benar-benar terlambat !”
“Sangat terlambat.” Ucapmu.

Kamu diam, dan kali ini diam yang tidak pernah bisa ku mengerti maksudnya.

“Maaf aku tak pernah mengatakannya, padamu, bahkan untuk sekali saja mengatakannya padamu.”
“Harusnya waktu itu, aku memohon padamu untuk menciptakan waktu sendiri untuk kita berdua, agar kamu bisa dengan mudah mengatakannya.”
“Kita hanya kalah berlari dengan waktu, dan lupa untuk saling bergandengan saat berlari, akhirnya kita tidak pernah tahu kearah mana kita akan berlari sampai akhirnya antara aku dan kamu, kita sama-sama berlari dengan arah yang berbeda, hingga akhirnya kita semakin jauh.” ucapku
“semakin jauh, hingga kita tidak pernah bertemu kembali, sampai tiba waktu ini. Jika saja bisa diputar, aku ingin kamu mengatakannya sekarang untuk pertama dan untuk yang terakhir kali yang sangat ingin aku dengar, selama ini aku hanya menanti kamu untuk bicara, mengucapkan satu kalimat itu saja. ”

“Cinta, Sudah terlambat…” ucapku.

Seorang gadis kecil menghampiri kami, berlari dengan sangat lucu. ..
“Mama..Mama.. !”

“Ini puteriku,..”
“Cantik, lebih cantik dari bunda nya.”
“aku ingat, kamu ingin sekali memiliki anak perempuan, dalam mimpi-mimpi kita.”
“Ya, mimpi-mimpi kita itu… mimpi yang terlambat.”
“Semoga, kamu tidak akan pernah terlambat lagi, untuk mengucapkannya, menyimpannya hingga terlalu lama, sampai kamu benar-benar memahami kata-kata itu, lalu berani mengatakannya.”

“Aku hanya ingin menunggu kamu bicara, mengetahui isi hatimu saat itu, tapi aku tahu. Semua sudah terlambat.”
“Sudah sangat terlambat…”

31-July-2009
Boy Hidayat
Untuk kisah yang terlambat menghampiri

Iklan
Komentar
  1. bayusaja berkata:

    gue udah baca… hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s