Untuk Airin (Telah tiba waktunya..rin)

Posted: 29 Juli 2009 in Uncategorized

iba-tiba, aku masuk kedalam dunia yang belum pernah aku kunjungi dimanapun selama ini. Seorang gadis kecil menarik lenganku. Digenggamnya keras sekali, lalu menarikku sambil berlari.

“Ayo cepat, sebelum kamu tidak bisa melihatnya,?”
“Melihat apa, aku dimanapun aku tak pernah tahu?”
“Nanti saja, kamu akan melihatnya.”

Aku tidak mengerti, tapi aku juga tidak pernah bisa menahan laju lari gadis kecil itu. Gadis kecil yang lucu, bermata biru.

“Kita akan kemana ?”
“Melihat sesuatu yang tidak pernah kamu lihat sebelumnya”

Disebuah pelarian, antara aku dengan gadis kecil bermata biru itu, terlalu tergesa-gesa. Hingga aku tidak pernah bisa melihat sekelilingku. Semua terasa gelap sekali. Kami terus melaju dengan cepat, napas ku tersengal, aku sesak.

“Stop, aku sudah tidak kuat,”
“Jangan, kita hampir tiba, sedikit lagi !.”

Sambil berlari aku melihat di ujung jalan didepanku, cahaya begitu menyilaukan membuat mata ini tak pernah sanggup melihatnya. Beberapa meter lagi kami akan sampai, aku menutup mata sambil berlari mengikuti suara gerak kaki si gadis kecil bermata biru.

Tiba-tiba aku merasakan, berlahan-lahan kita mulai melambat, lalu berhenti. Aku membuka mata, didepan sebuah gerbang yang sangat tinggi. Pintu dengan warna corak keemasaan tepat berada dihadapku, tinggi sekali, aku tidak pernah melihat pintu setinggi ini, indah, dilapisi emas, intan, berlian, atau apapun namanya.

“Ini pintu batas antara langit dan bumi,” gadis kecil mengatakan sesuatu.

Aku masih diam, cukup lama terpana.

“Ayo masuk, kamu akan menemukan sesuatu didalamnya,”
“Apa ?”
“Sesuatu yang tidak pernah kamu temukan dimanapun kamu cari, atau mungkin sesuatu yang akan kamu temukan, adalah sesuatu yang kamu inginkan selama ini.”

Pintu berlapis emas itu terbuka, aku melihat keindahan didalamnya. Beberapa sungai kecil, di sudut sebelah kanan, lalu lapangan yang sangat luas. Ada beberapa perempuan cantik, yang tidak pernah aku lihat kecantikannya dimanapun. Mereka tersenyum, aku diam. Bukan karena tidak bisa tersenyum, karena aku tidak pernah melihat senyum yang seindah itu dimanapun.

“Mereka bidadari-bidadari, penghuni alam ini,”
“Bidadari ? apakah ini surga ?”
“Bukan, ini bukan surga, jika kamu tahu tentang surga, maka kamu tidak akan pernah meminta untuk kembali ke dunia, ini bukan surga. Hanya pelataran kecil saja.”
“Gila, pelataran kecil ? tidak mungkin ini pasti surga !”
“Sudah kukatakan, ini bukan surga, hanya pelataran kecil saja. Ayo cepat kita akan menuju kesana,”

Gadis kecil itu menunjuk sebuah puri indah beberapa meter dihadapan kami. Puri yang berkubah berlian berlapis emas hampir mirip dengan pintu yang pertama aku masuki.

“Itu sebuah puri ?”
“Iya, sebuah puri, kamu akan menemukan sesuatu didalamnya.”
“bangunan yang indah, yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, apakah itu diciptakan dari emas ? atau dengan campuran lain ?
“Emas murni, kami menyebutnya “Puri perjalanan keabadian”, ya setidaknya seperti itulah”
“Puri perjalanan keabadian ?”
“Aku tahu kamu pasti heran, sebuah puri yang diciptakan beratus-ratus abad, sebelum peristiwa renaissance, bahkan sebelum masa dark age”
“Melalui dua masa, yang berbeda abad ?”
“Bukan Cuma berbeda masa, namun juga berbeda sejarah, apakah kamu sadar ?”

Aku mulai menikmati perjalanan misterius ini, yang sampai tahap perjalanan yang belum panjang ini, aku masih belum mengerti apakah maksud dari perjalanan ini. Kami hampir tiba di sebuah pelataran puri indah ini, hampir memasuki pintu gerbang.

Gadis kecil bermata biru itu, mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, sebuah lilin kecil dan sebuah kotak yang hampir mirip dengan korek api.

“Kamu pegang lilin ini,kita akan mengarungi perjalanan panjang, yang penuh pertanyaan dan hanya kamu yang menemukan jawabannya.”

Aku diam menuruti semua perkataannya, sampai disini aku sudah mulai berfikir. “Aku adalah makhluk bodoh, yang mau saja mengikuti permainan anak gadis, bermata biru, yang kira-kira menurut tebakanku, dia belum genap delapan tahun.”

“Ayo cepat, perjalanan kita masih panjang.”

Tiba-tiba pintu gerbang puri terbuka, didalam sangat gelap dan tidak pernah aku merasakan kegelapan ini sebelumnya, kami memasuki batas pertama pintu puri tersebut.

“Kami menyebutnya, tapal pertama.” Tanpa basa-basi gadis kecil itu menjelaskan sesuatu.
“Tapal pertama ?”
“Tempat dimana, kamu akan melihat kehidupan-kehidupan yang sudah berlalu, jauh sebelum kamu hidup, atau mungkin juga jauh sebelum kakek buyut mu hidup.”

Disebelah kiri, aku melihat lukisan fenomenal karya Leonardo Da Vinci, “Monalisa”. Lukisan yang selama ini aku anggap biasa saja, dan tidak pernah ada istimewanya, dibandingkan lukisan yang pernah dibuat oleh temen-temanku, semasa SMA dulu.

“Monalisa, Leonardo Da Vinci, kamu tahu, mengapa lukisan itu istimewa sekali ?”
“ya, lukisan diabad kegelapan, dan sebagai pemicu untuk menuju abad pencerahan. Buatku lukisan itu biasa saja, tidak ada yang istimewa.”
“Aku tahu kamu akan menganggap lukisan itu biasa saja, karena ketidaktahuanmu itu, tentang lukisan monalisa yang fenomenal itu. Lukisan itu adalah lukisan dengan objek makhluk hidup pertama kali, yang pernah ada di dunia, saat itu, manusia diharamkan untuk melukiskan objek yang mempunyai nyawa, lalu Da Vinci, memberontak, jiwa memberontaknya, persis sepertimu, “pemberontak dalam kesepian” dia melukiskan objek hidup pertama pada lukisannya, lalu diberikan nama, monalisa, tak tahu persis apakah monalisa itu nyata atau tidak.”

Gadis kecil itu terus berjalan, menyusuri puri yang sangat gelap. Kami hanya ditemani dua batang lilin kecil, dalam nalarku, kedua lilin ini tidak akan pernah bisa bertahan selama sejam, atau paling lama setidaknya lilin ini akan bertahan selama satu-setengah jam saja.

Beberapa meter kami sudah melewati pintu gerbang puri tersebut, dan lukisan monalisa tadi. Didepan sana, aku melihat patung, sebuah patung yang sedikit lusuh, berwarna kecoklatan. Aku menghampirinya, melihatnya lebih teliti lagi.

“Joan of Arc, sebuah mahakarya Fremiet, Pahlawan Prancis yang diagungkan dinegaranya, Kamu tahu sesuatu tentang dia ?”
“Ya, pahlawan revolusioner Prancis, yang memerdekakan Prancis.”
“Betul sekali, pernahkah kamu berfikiran pahlawan sekelas dia, pernah kesepian ?”

Aku diam, tidak mengerti.

“Maksudnya ? kamu menghina pahlawan Prancis itu, gadis kecil ?”
“Aku tidak menghina, aku hanya ingin mengatakan, bahwa kita terkadang melihat sesuatu kebesaran seseorang dengan kegagahannya, tanpa memperhatikan apa yang telah terjadi dipikirannya, dihatinya, dan dibalik “Jubah kebesarannya.”

Kemudian nalarku berfikir, iya, betul sekali apa yang dikatakan oleh gadis kecil ini. Mereka juga manusia, setidaknya mereka pernah menangis walaupun sekali dalam seumur hidupnya.
Kami melanjutkan perjalanan, yang aku tidak pernah mengerti akan menemukan apa disebuah perjalanan misterius ini.

Di ujung perjalanan ini, aku menemukan sebuah persimpangan yang di tutupi sebuah tirai, persimpangan yang beberapa saat lagi akan aku hadapi.
Kami membuka tirai tersebut, persis. Sebagai sebuah persimpangan, hanya ada jalan kiri dan kanan.

“Baiklah, petualang kamu akan memilih yang mana ?”
“kenapa mesti aku yang memilih, kamu Guide disini kan ?”
“Sudahlah ini perjalananmu, kamu yang menentukannya, aku hanya navigasi yang memegang peta. Tapi keputusan tetap padamu, pengendali kemudi yang handal.”
“Baiklah, kita ke kanan !”
“Pilihan yang handal.”

Gadis kecil itu berlari kecil sambil tersenyum dan memegang erat sekali tanganku.

“Mari lanjutkan perjalanan indahmu, Tuan.”
“baiklah, puteri. Apapun katamu, kamulah puterinya.”
Kami melanjutkan perjalanan yang sedikit mulai mengundang pertanyaan ini. Hal pertama yang aku lihat adalah sebuah lukisan. Lukisan yang sering sekali aku lihat, bukan di alam ini. Tapi di alam lain yang pernah ku kenal, sangat ku kenal sekali.

Sebuah lukisan tertutupi kain merah setengahnya, aku menghampirinya. Membuka bagian yang tertutup setengahnya itu. Lukisan yang sangat besar, dengan bingkai berlapis emas, bercampur intan, disetiap butirannya. Aku menyibak kain tersebut, lalu terlihat sosok perempuan yang tidak asing bagiku. Aku pernah melihatnya.

“Maria Magdalena, perempuan yang lebih kau kenal dengan nama Maryam.”

Lukisan itu memperlihatkan bahwa Maria Magdalena, sedang menangisi seseorang yang berada tepat tergantung diatasnya, mungkin itu Al-Masih, Isa Allaihi salam.

“Mengapa dia mengangis ?”
“Sejarah menuliskan, bahwa Maryam atau Maria itu adalah perempuan yang teramat suci yang diberikan mukjizat oleh Tuhan, untuk melahirkan tanpa benih yang ditanam.”
“Ya, sebuah mukjizat yang fantastis, sebagai bukti tanda Kekuasaan-Nya.”
“Dan menunjukkan betapa tegarnya seorang perempuan. Meskipun menangis, hatinya tetap tabah.”

Kami melanjutkan perjalanan, memasuki sebuah pintu kecil yang ditutupi sebuah kain putih bersih.
“Hati-hati, kamu akan sering melihat apa yang telah sering kamu lihat sebelumnya, Tuan.”
“Jangan memanggilku, dengan sebutan.Tuan.”
“Karena kaulah rajanya.”
“Aku Mohon !”
“Baiklah, Sahabat.”
“Itu lebih baik”.”

Kami memasuki, sebuah pintu kecil. Ada pengalaman berbeda saat aku memasuki pintu tersebut, aku seperti melihat kisahku sendiri. Seperti sesuatu perjalanan yang pernah aku alami, sebelumnya.

“selamat datang di puri keabadian milikmu sendiri sahabat.”
“milikku sendiri ?”
“Ya, selamanya milikmu.”
Sesaat setelah kami memasuki pintu kecil itu, aku melihat sebuah surat kecil dalam sebuah kotak kaca, bening sekali surat yang kecil. Sangat kecil, tapi masih bisa dibuka, tulisan didalamnya pun masih bisa ku baca. Sebelum aku menghampiri surat yang ada dalam kotak kaca tersebut. Ada sebuah slide, mirip pemutaran fim, dilayar besar. Aku melihat seorang gadis menangis disebuah sudut sekolah, dekat dengan tong sampah kecil dari plastic. Aku seperti mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya.

“Airin, gadis manis itu bernama Airin.”
“Airin ?”
“Kamu pernah mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya dalam hatimu.”
“Ya, aku seperti mengenalnya, nama itu, wajah itu.”
“Airin, gadis cantik, berkulit putih, seorang pelajar yang pemalu. Yang saat itu mengutarakan perasaannya padamu, melalui surat. Dan akhirnya kamu membuang surat tersebut, merobeknya, tanpa pernah kamu baca sebelumnya.”
“Ya, aku ingat. Saat itu aku masih terlalu kecil.untuk mengenal cinta, satu SMP”
“Bukan berarti kamu tidak pernah bisa menghargainya kan?”
“Iya, aku salah.”
“Sekarang bacalah surat itu.Cepat waktu kita tidak banyak.”

Aku mengambil surat yang berada dikotak kaca tersebut, membukanya lalu membacanya. Disana hanya ada tulisan sederhana, kecil, tulisan yang indah. Yang sebelumnya tidak pernah aku baca, meski aku tahu wangi dan warna suratnya sudah kukenal. Surat tersebut menuliskan.

“Aku sedang ingin mengikutimu, berjalan. Tapi kamu malah berlari. Aku sedang coba ikut mengikutimu berlari, tapi kamu semakin cepat berlari, sampai akhirnya aku tahu. Aku tidak akan pernah bisa mengejarmu berlari. Sekarang aku ingin berhenti, dan ingin mengatakan sesuatu. Tapi kamu tidak juga berhenti berlari. Bagaimana mengatakannya ? lalu tunjukkan bagaimana aku bisa mengatakannya padamu ? aku sayang padamu, meski kamu tidak pernah mengenalku, atau bahkan tak pernah mau mengenalku.”
-Airin-

“Kamu sudah membacanya ?”
“Iya, sudah. Surat yang tidak pernah aku baca saat masih dibangku SMP itu.”
“Kamu juga menyukainya kan ?”
“Iya, tapi tak pernah aku ungkapkan.”
“Masa lalu yang indah,untukmu.”
“Sangat indah, bahkan masa indah yang tragis.”
“Apakah kamu tahu, saat ini, dia sedang apa ?”
“entahlah”
“Dia sudah menikah, tapi Airin masih menyimpan surat pertamanya. Untukmu.”
“Lebih dari limabelas tahun, mana mungkin ?”
“Nanti kamu akan membuktikannya sendiri.”

Perjalanan kami lanjutkan kembali. Ada beberapa benda yang pernah aku lihat sebelumnya, Stick drum yang patah, yang dulu pernah aku pakai. Lukisan pegunungan dan sawah, lukisan yang persis seperti lukisan yang pernah aku buat, semasa dibangku SMA. Yang saat ini ada dirumahku.

Lalu ada beberapa surat yang berterbangan, aku mengambil salah satu surat tersebut. Lalu membacanya.

Kupu-kupu mungil yang menari

Aku ingin melihatmu menari,
Seperti kupu-kupu mungil yang mengitari bunga matahari
Aku ingin mendengarmu bernyanyi
Seperti dawai-dawai biola menyanyi
Seperti…
Aku ingin melihat senyummu
Sekali…
Agar aku bisa memahami
Kupu-kupu mungil yang sedang menari…

Dedicated from ”dia”
(Boy -5-january-2007)

Ah. Puisi itu lagi, Puisi yang sangat fenomenal semasa aku kuliah Di Fisip UI. Orang menyebutnya fenomenal, karena banyak dari para pembaca puisi tersebut, tidak pernah bisa tahu siapakah “Si kupu-kupu Mungil” tersebut. Mereka bertanya, dan aku tidak akan menjawab, maksudnya tidak akan pernah menjawab.

“Semua surat yang berterbangan itu, adalah surat dari orang-orang yang berarti untukmu, dan surat yang kamu tulis yang untuk orang yang berarti untukmu juga.”

“Mungkin, aku tidak tahu.”

Aku mulai menikmati perjalanan hidupku sendiri, melihat barang-barang yang pernah hilang dalam hidupku, jam tangan, cincin emas yang pernah diberikan kepadaku oleh seseorang sebagai tanda ikatan. Banyak sekali yang aku lihat. Sangat banyak sampai akhirnya aku tidak bisa menghapalnya lagi.
Tiba-tiba Lonceng berbunyi keras sekali. Gadis itu menarik aku, genggamnya semakin keras dan erat.
“Cepat, kita harus menuju ke atas puri ini.”
“Untuk apa ?”
“Nanti kamu akan melihatnya sendiri.

Aku tiba di balkon atas puri indah ini, hamparan langit cantik dengan bintang genit berkelip diatasnya. Pesona yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Benar-benar tidak pernah aku lihat.

“Inilah akhir perjalananmu, disebuah balkon puri ini. Kamu akan menemukan jawaban atas semua pertanyaan selama ini.” Ucap gadis kecil itu
“Akhir perjalanan ?”
“Ada yang menantimu disini ?”
“Siapa ?”
“Sebentar aku panggilkan.”

Aku masih menikmati bintang, selagi bisa. Gadis kecil itu entah kemana dan tiba-tiba menghilang. Ah… rasanya seperti disurga saja.

“Hey, kamu datang juga ?”

Seseorang menegurku, aku segera berbalik.

“Airin ?”
“Sudah lama tidak bertemu ya ?”
“Sangat lama sekali.”
“Kamu kemana saja ?”
“Kamu yang kemana ?”
“Ada…”
“Aku juga…Ada.”
“Tapi tidak dalam hati,”
“Aku tidak mengerti Airin, apa ini semua ?”
“Kamu dari dulu juga tidak pernah mengerti. Sejak saat itu.”
“Maaf, aku…”
“Diam, waktu kita sebentar, aku hanya ingin melihatmu saja.”
“Sebentar ?”

Tiba-tiba lonceng berbunyi keras sekali.
“Maaf, aku harus pergi.”
“Apa ? Sejauh ini perjalanan yang aku tempuh. Kamu hanya sekedar menyapa begitu saja rin ?”
“Nanti kita pasti bertemu kembali, aku janji akan tiba waktunya, sudah ya aku pergi.”

Tiba-tiba gelap sekali… gelap yang sangat amat, gelap yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
Aku terjaga…

Aku bermimpi.

***
Pagi ini, aku harus berangkat ke kampus, untuk mengurus surat-surat administrasi. Seperti biasa memakai transport yang sudah sangat akrab bagiku, kereta. Tapi beruntungnya hari ini aku menggunakan kereta AC.

Aku duduk disalah satu bangku diatas kereta, disebelah perempuan berkerudung, putih, bersih. Memakai kacamata. Sedang membaca buku, karya Kathleen McGowan, “The Expected One”. Sebuah buku yang juga sedang aku baca, dan berusaha keras menyelesaikan membaca novel tersebut.

“Bukunya bagus ya ?” spontan kukatakan hal tersebut.
Gadis berkerudung itu bingung,
“Ah ? Oh iya. Perjalanan menakjubkan.”
“Aku juga sedang baca.”
“Oh..”

Dia melanjutkan membaca kembali buku tersebut, beberapa saat kemudian. Perempuan itu memanggil namaku. Persis mengetahui nama panjangku.
“Boy Hidayat, Kelas 3E”
“Ah ? Apa ?”
“Boy hidayat, Kelas 3E kan.”
“Iya,..iya” Aku ragu, bagaimana gadis ini bisa mengetahui, nama panjangku dan nama kelas ku semasa di SMP.

“Ingat aku ?”
“seperti pernah melihat, sangat pernah melihat, baru-baru ini. Tapi aku lupa dimana.”
“Airin,”

Tiba-tiba aku ingat, mimpi itu. Airin mengatakan dalam mimpi itu “aku janji akan tiba waktunya”. Aku benar-benar terkejut. Airin yang tadi malam menghampiriku, dia sekarang ada dihadapku.

“Sudah menikah ?”
“Belum rin, kamu sendiri ?”
“Sudah..”
“Oh, tinggal dimana sekarang ?”
“Masih disini saja.”
“Dikota bogor ini.”

Aku dan dia, bicara panjang lebar, mengutarakan maksud kepergianku kali ini, pekerjaan, kuliah dan mengenang masa-masa dulu. Tertawa, bahkan menahan tawa, karena tidak enak dengan penumpang yang lain. Kereta memasuki stasiun depok. Hampir menuju Stasiun Universitas Indonesia.

“Aku segera turun rin, akan segera turun.”
“Iya, silahkan, tapi boleh aku meminta nomor ponselmu ?”
“Baiklah.”
“Aku tidak membaw ponsel, aku catat sebentar ya ?”
“Baik, silahkan.”

Setelah memberikan nomor ponselnya kepadaku, Airin membuka catatan kecil, disana, dicatatan kecil itu aku melihat secarik surat yang pernah aku kenal. Aku ingat. Aku hapal wanginya. Aku menyebutkan nomor ponselku, Airin mencatatnya. Aku bertanya pada Airin.

“Masih kamu simpan surat itu rin ?”
“Iya, masih. Surat pertama, untuk orang pertama.”
“Maafkan aku rin.”
“Pasti, karena kamu yang pertama.”
“Terima kasih.”

Airin tersenyum, saat aku turun dari kereta. Dan berharap Airin memaafkan sepenuhnya. Memaafkan yang tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi aku tahu. Airin belum berubah, masih seperti dulu, tetap bersahaja dan mudah memaafkan.

“Kelak suatu saat aku akan membahagiakanmu, rin. Untuk membayar semua kekecewaan yang pernah kamu alami, saat itu. Tidak disini, mungkin di dunia yang lain, dunia dimana kamu pernah menemuiku, seperti malam tadi.” Ujarku dalam hati.

Boy Hidayat
Untuk Airin, waktu yang harus memaafkan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s