Malam 25 July (Malam berlayar diperahu kita)

Posted: 26 Juli 2009 in Uncategorized
Sebuah pesan masuk kedalam ponselku, malam itu adalah kenangan panjang untuk kita berdua, sejarah yang pernah menuliskan cerita tentang kita.

“Bisa hubungi aku sebentar ?”.

Aku menghubungimu, seseorang yang pernah mengisi hari-hari dengan “kepadatan” yang sangat berarti, dan seseorang yang pernah mengisi hati ini, penuh dengan “kesesakan” hingga tak ada rongga lagi untuk bernafas. Itu kamu…

Malam itu, 11 tahun lalu, kita kembali ke waktu yang pernah kita jalani bersama. Membuka sebuah catatan kecil dan ringkas, catatan yang selama 2,5 tahun kita catat bersama.
Untuk malam ini, kita akan kembali membuka catatan kecil itu, yang telah usang dimakan oleh waktu selama 9 tahun kita berpisah.

“Kamu ingat, malam ini, 11 tahun yang lalu kita sedang apa ?”

Aku menerawang jauh kembali ke 11 tahun yang lalu. Saat itu entah apa yang aku lakukan, malam ini 11 tahun yang lalu, katamu kita sedang menjalani lembaran cerita yang benar-benar baru untukmu, katamu, 11 tahun yang lalu, kita sedang saling mencoba memahami cerita yang suatu saat, mungkin akan kita kenang.

Lalu malam ini, kita benar-benar mengenangnya.

Malam ini, kita membantah, cerita-cerita yang pernah kita alami masing-masing, selama 11 tahun berpisah, dan mengenang selama 2,5 tahun bersama. Katamu, ada kesalahpahaman. Kesalahpahaman yang hadir diantara kita akhirnya merobohkan pondasi-pondasi yang kita susun bersama, lalu kesalahpahaman itu hadir, seiring hadirnya orang ketiga diantara kita.

Lalu kamu bercerita,
“kamu ingat perahu yang kita buat bersama waktu itu ?”
“Sebuah perahu kecil, yang hanya mampu menampung 2 orang ?”
“betul, hanya menampung 2 orang.”
“tapi kita menampungnya lebih dari 2 orang,”
“itulah kesalahan kita, masing-masing diantara kita, berani memutuskan untuk menampung lebih dari 2 orang, di perahu yang telah kita buat, dengan susah payah,dengan keringat. Mungkin juga dengan airmata”.

Ada hal yang tidak pernah aku ketahui, saat itu. Berlahan aku menyakitimu, memberikan sedikit ruang bagi orang lain untuk menaiki perahu yang kita miliki bersama. Dan akhirnya kamu berusaha mengangkut orang lain untuk ikut menaiki perahu yang kita miliki. Akhirnya karam juga.

Sesaat kamu mengatakan,
“Waktu itu aku terhasut, membuat mata ini begitu benci melihat dirimu. Padahal aku tahu, mempertahankan perahu kayu berlayar di tengah badai selama 2,5 tahun adalah hal yang tersulit yang akan kita lakukan saat itu, untuk kita berdua, aku membuat gelombang kecil yang tertahan, hingga lama kelamaan gelombang itu menjadi badai yang tak mampu aku tahan lagi, lalu menghantam perahu kita, maafkan aku.”

“Aku pernah berjanji, ingin memperbaiki kapal yang akan karam saat itu, untuk kita menaiki bersama dan hanya berdua”

“Tapi badai terlalu keras, tapi ombak terlalu menerjang membuat kapal kayu yang hanya bisa menampung 2 orang tidak dapat dipertahankan oleh kita”

“Iya, oleh kita”

Kamu mengatakan,

“andai saja waktu bisa kita putar kembali, aku ingin waktu yang 11 tahun lalu itu, ada hal kecil yang ingin aku perbaiki, hal kecil. Saat dimana aku dan kamu duduk berdua, untuk pertama kalinya setelah perjanjian yang kita lakukan untuk saling menjaga, untuk saling bicara, dan untuk saling memiliki.”

“Ingin diperbaiki ? Hal kecil ? Maksud kamu?”

“Aku ingin, jika waktu itu bisa kita putar kembali. Aku sangat ingin mengatakan padamu, harusnya kita membuat kapal dari baja, dan bukan dari kayu, agar kita tahu, jika badai besar datang, kapal kita tidak akan pernah karam, betulkan ?”

“Mungkin, kamu benar.”

“Kalau saja, kita membuat kapal dari baja, mungkin sekarang kita sudah bisa berlayar berdua. Memasuki samudera yang luas, mengelilingi pantai yang indah, lalu berkeliling dunia. Dan pastinya kapal yang kita buat itu akan mampu kembali bersandar dipelabuhan terakhir yang kita inginkan saat itu.”

“Kalau kapal kita terbuat dari baja, lalu kita berlayar keliling dunia memasuki samudera yang luas, dan mampu mengelilingi pantai yang indah, itu memang baik. Tapi tahukah kamu, saat itu kita tidak membutuhkan kapal layar dari besi yang kuat, kita tidak membutuhkan kapal yang besar dengan banyak ruangan yang indah, karena itu akan membuat kita akan semakin jauh, kamu mungkin di sudut utara kapal besi yang indah itu, sedangkan aku berada di sudut timur kapal besi yang indah itu. Itu hanya membuat kita semakin parah, berada dalam satu kapal besar. Tapi kita tidak pernah bisa bertemu, makanya saat itu kita memutuskan hanya membuat perahu kecil dari kayu, yang hanya bisa menampung dua orang.”

“kamu merasa ada yang salah saat kita membuat perahu kayu tersebut ? Lalu mengapa saat itu kamu tidak mengijinkan kita membuat kapal dari besi yang besar dan indah ?”

“Kalau kita membuat kapal yang besar saat itu, akan lebih menyakitkan untuk hari ini. Sebuah sejarah yang akan kita kenang malam ini kalau kita membuat kapal yang indah, besar dan dari besi. Maka kenangan yang akan kita ceritakan bukan kapal kayu yang karam, yang masing-masing dari kita hanya mempunyai kesalahan menaiki “orang ketiga”, tapi akan lebih parah, yang akan kita ceritakan malam ini adalah, bukan karamnya kapal yang kita buat, tapi dua orang yang tidak pernah bertemu, meski dalam satu kapal mewah, indah, dan megah yang terbuat dari besi itu, lalu dua orang itu hanya menikmati sepi dalam kapal yang indah dan megah, padahal dua orang itu ingin saling memiliki, lalu hadirnya orang ketiga bukannya menenggelamkan kapal yang kita miliki, tapi lebih parah lagi, hadirnya orang ketiga, akan membuat janggal cerita di kapal mewah itu, satu kapal berisikan empat orang, yang dua orang diantaranya, sedang berusaha mengikat janji setia. Itu akan lebih menyakitkan”

“Aku mengerti, kenapa saat itu kita hanya ingin membuat kapal kayu kecil yang sederhana, kesalahan kita hanya “menaiki orang ketiga” padahal kita tahu, kapal yang kita rancang hanya mampu menampung dua orang.”

“Betul”

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, sejarah yang kita buat tetap pada alinea cerita-cerita yang kita tulis masing-masing, saat ini kita membuka satu persatu alinea yang sudah kita tulis masing-masing di lembaran cerita yang kita miliki selama ini. Membacanya, lalu mulai memikirkannya. Bahwa memang ada yang ganjil dari cerita yang pernah kita miliki.

Tapi kita berusaha menikmati cerita yang pernah kita tulis, dimana kita masih bersama. Membacanya kembali, jauh setelah kita berpisah cukup lama. Aku tertawa, kamu juga tertawa, kita sama-sama menertawakan sebuah hal yang kita sendiri tidak pernah menyangka akan mengalaminya. Tapi hari ini kita membuka kotak cerita diantara kita, lalu menemukan cerita sebuah perahu kayu sederhana, sebagai awal cerita yang kita miliki.

“Sebentar lagi kamu ingin berlayar kembali, menemukan pelabuhan terakhir untukmu, pelabuhan bernama pelaminan, betul ?”
“Betul, aku senang bisa berlayar denganmu, dengan perahu kayu yang kecil, mencoba mengarungi samudera dengan ombak yang besar, meski kita tahu, kapal kayu kecil kita itu tidak akan mampu menahan badai saat itu,aku senang bisa berlayar denganmu, meski perahu kayu kecil kita karam juga, tapi kita punya cerita yang indah, kita pernah punya kapal kayu yang indah, yang saat itu sedang kita pertahankan untuk tetap melewati samudera mesti dihantam badai, walau kita tahu, kita tak mampu menemukan pelabuhan terakhir untuk kapal perahu kayu kecil kita itu.”

“Kita tidak mampu menemukan pelabuhannya, tapi kita mampu menuliskan cerita kapal kayu itu.”

sejenak kamu diam, tidak bersuara dalam ponselku, malam itu. Lalu kamu mengatakan ;

“Kamu tahu, sejarah bukanlah sesuatu perjalanan yang pernah dialami seseorang, tapi sejarah adalah sesuatu yang pernah dituliskan. Dan kamu mampu menuliskannya sebagai hadiah terakhir di ulang tahun kita berdua, malam ini, untuk 11 tahun yang lalu, untuk masa yang pernah kita lewati, dan untuk masa depan yang akan kita ceritakan kembali, mungkin bukan denganku, mungkin bukan denganmu, tapi dengan anak-anak kita”

“Ya, dengan orang lain, kita akan berbagi kapal kayu kecil ini”

Hadiah terakhir untuk aku, untuk kamu, dan untuk masa-masa yang pernah kita lewati bersama. Untuk perahu kayu kecil yang sedang karam, di samudera yang luas, mungkin itu adalah pelabuhan terahir untuknya.

25-July-2009
Boy hidayat
Bogor

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s