Bunga Terakhir untukku

Posted: 21 Juli 2009 in Uncategorized

“Ini buat kamu, jangan sampai mati ya..”

Aku ingat saat itu, kamu memberikan beberapa tangkai anggrek, kamu bilang “jangan sampai mati, sebab aku harus berjuang memetiknya diantara tingginya pohon-pohon mahoni,” kalau saja waktu itu aku tidak menerima beberapa tangkai anggrek dari tanganmu, mungkin itu bukan bunga yang terakhir untukku.

Kamu juga bilang, “aku tahu kamu tidak pernah suka bunga, tapi kamu harus belajar, belajar memahami bunga, makanya aku memberikan bunga ini untukmu, seperti aku sedang belajar memahami kasih yang kamu berikan”.

Kamu selalu memberikan apa yang tidak pernah aku sukai, kamu juga sering mengatakan “kalau kamu tidak pernah belajar menyukai apa yang kamu tidak sukai, maka suatu saat kamu tidak akan pernah mengerti mengapa sesuatu itu tidak kamu sukai.”

Lalu beberapa tangkai anggrek itu, kamu ambil sebagian. Kamu lipat satu persatu, membentuk sebuah lingkaran kecil, lalu kamu kenakan dijari manisku. “betulkan ? sesuatu yang tidak kamu sukai, belum tentu itu tidak indah. Aku suka kamu memakai cincin anggrek ini.”

Sore itu, kita berada di himpitan besarnya pohon-pohon mahoni, yang dipinggiran batangnya tumbuh bunga-bunga anggrek, mungkin aku tidak pernah tahu bahwa itu bunga anggrek, jika saja kamu tidak mengatakannya.

Lalu kamu bilang, ;
“2,5 tahun kita sama-sama, berada diperahu yang sama, mencoba mendayung perahu kayu yang kita bangun untuk mencoba menyebarangi lautan, meski kita tahu bahwa itu sangat sulit, kadang-kadang perahu mengalami kebocoran di salah satu sudutnya, atau mungkin suatu saat perahu kecil yang kita buat, akan benar-benar tenggelam, karena kita tahu didalam perahu itu tidak akan pernah cukup menampung tiga orang sekaligus, badai pertama telah kita lalui, lalu kamu siap menghadapi badai berikutnya ?”

Aku diam, mencoba merenungi kata-katamu disetiap baitnya, “perahu yang kita buat, tidak akan pernah mampu menampung tiga orang sekaligus !”

Aku memandangi cincin anggrek yang kamu kenakan di jariku, lalu aku mulai bertanya ;
“inikah sebuah pembuktian dirimu adalah milikku ?”
“mungkin saja, saat ini aku benar-benar milikmu”

Aku diam…

Karena saat itu aku tahu, bahwa bunga anggrek yang kamu kenakan di jari manisku, adalah bunga terakhir untukku, aku juga diam, karena saat itu aku tahu, bahwa perahu yang kita bangun, sedang mengalami kebocoran, di salah satu sudutnya, dan saat itu aku tahu perahu kita akan benar-benar tenggelam, karena kamu memaksakan menampung tiga orang sekaligus, diperahu yang telah kita buat bersama.

Akhirnya, perahu kita karam juga…
Hanya saja yang tersisa, cincin bunga anggrek yang pernah kamu kenakan di jari manisku.

Bunga terakhir untukku…

21-July-2009
Boy Hidayat
“untuk cerita, batang-batang mahoni yang dihiasi bunga anggrek,disebuah sekolah”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s