Air Mata (Bunda mu) Naya.

Posted: 16 Juli 2009 in Uncategorized

Naya, Malaikat kecilku…
Dengarkan ini.

***
Kamu tahu Naya, apa yang paling berarti dalam hidupku, selama perjalanan hidup ini aku jalani?, banyak Naya, yang ingin aku ceritakan kepadamu, mungkin kamu belum bisa mendengarkannya. Tapi aku yakin, jika air mata Bundamu yang berbicara, kamu pasti paham apa yang ingin kuceritakan padamu Naya.

Dia, salah satu sahabatku, Vidya. Jauh sebelum kamu mengenal dia Naya. Aku sudah mengenalnya, mencoba memahami jalan pikirannya, menterjemahkan kehidupannya yang saat itu nyaris tak pernah tersentuh olehku Naya. Ingat Naya, tak pernah tersentuh…

Sampai hari bahagia itu datang menghampirinya, saat itu aku tahu, bahwa kamu adalah perempuan yang paling beruntung yang aku kenal, mempunyai kehidupan yang hampir sempurna, Vidya menikah Naya.

Kamu juga malaikat yang paling beruntung Naya, mempunyai Bunda yang air matanya tidak pernah bisa tergantikan olehku, dengan apapun Naya. Aku ingat saat itu, kami sama-sama berjuang untuk “meraih hidup yang lebih baik”.

Aku menjadi sejarah perjuangan Bundamu, Naya.

Sebuah pesan masuk, didalam ponselku ;
“Vidya sidang hari ini..”

Tanpa pikir panjang saat itu Naya, aku langsung turun dari sebuah kereta yang ingin mengantarku pulang, berlari dan berharap agar Vidya belum selesai mengadakan perhelatan “perjuangan sidang” untuk dirinya.

“Bagaimana Vidya ?”
“Dia Masih didalam”

Aku tak habis pikir Naya, Vidya saat itu sedang mengandung dirimu, dan harus menghadapi perjuangan yang sangat berat. Aku jadi teringat, Ibuku, mungkin ini adalah salah satu perjuangan kecil yang akan dihadapi semua ibu, meskipun dengan cerita yang berbeda.

Kamu tahu Naya, Vidya saat itu adalah perempuan yang paling tegar yang pernah aku lihat.

Beberapa saat aku melihat vidya, keluar dari “ruang Neraka” itu.

“Bagaimana Vid ?”
“Aduh aku gak tahu, semua yang dipersiapkan tiba-tiba hilang, aku seperti buta”
“Kamu pasti lulus Vid”

Kamu tahu Naya, akhirnya Vidya mengakhiri masa studynya dengan sangat menggembirakan Naya, lebih menggembirakan lagi ketika dia menanti dirimu hadir ke dunia Naya. Itu adalah hadiah terbesar yang pernah dia miliki.

“Kamu kapan sidang”
“Lebih baik tidak usah datang saat aku sidang Vid”

Kamu tahu Naya, 18 Desember 2009 adalah hari yang sangat berarti buatku, bukan sebab saat itu aku mengalami kegoncangan dalam hidup, dan itu bukanlah satu-satunya kegoncangan hidup yang aku alami Naya. Saat itu aku melihat sebuah ketulusan Naya,.. ketulusan yang dimiliki oleh Bundamu Naya, sebagai seorang sahabat yang berarti.

“Gimana ?”
“Sidangku di undur menjadi tanggal 30 desember.hari ini aku gagal.”

Kamu tahu Naya, saat itu aku tegar, sangat tegar sebagai seorang laki-laki. Aku menjalani apa yang sanggup aku jalani, dan meninggalkan yang tidak akan pernah sanggup aku jalani, kamu tahu Naya, saat itu aku hampir tidak sanggup menjalani.

Vidya menangis Naya, Perempuan yang amat kamu cintai itu menangis dihadapanku Naya. Saat itu, aku benar-benar tidak mengerti, mengapa dia menangis Naya.

“Bukan ini yang aku harapkan”
“Sudahlah vid, aku baik-baik saja”
“Aku ingin kita menyelesaikan ini sama-sama, kamu janji kalau kamu sanggup ?”
Kamu tahu Naya, air mata Bundamu yang mengaliri seluruh tubuhku menjadi doa Naya, kamu tahu Naya, air mata bundamu juga yang menguatkan kaki ini terus melangkah Naya, sendiri, dan terus sendiri Naya, mencoba membalas air mata itu Naya, meski aku tahu sampai mati pun aku tidak akan pernah bisa membalasnya Naya.

Air mata bundamu, menjadi doa dalam penggalan cerita hidupku Naya.
Yang tidak pernah bisa terbalaskan.

Naya, sekarang kamu bidadari mungil yang sangat bahagia, mempunyai bunda layaknya malaikat. Kelak jika kamu besar nanti, dan mulai bisa membaca cerita ini, serta memahami cerita hidupmu Naya, aku mohon.
“berdoalah untuk Bundamu dengan air mata Naya di seperempat malam, untuk membalas semua kebaikan Bundamu yang tidak pernah terbalas, berdoalah dengan air mata Naya, hanya untuk bundamu, lalu titipkanlah doa dariku Naya, untuk Bundamu, Semoga bahagia mengiringi perjalanan hidupnya, Naya”

16-July-2009
Boy Hidayat
“Untuk sahabat ; Untuk air mata Vidya, yang tak pernah bisa terbalas Naya”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s