Memoar kecil untuk kita

Posted: 8 Juli 2009 in Uncategorized

Nada pesan dari ponselku berbunyi, lalu aku membaca tulisan kamu disitu ;
“Aku menikah bulan November…”

Sesaat aku melihat kamu tepat di kelopak mataku, perempuan yang dulu begitu berarti, yang begitu tak pernah bisa kupahami.
Lalu waktu terasa mundur begitu cepat, melewati masa-masa yang pernah terlewatkan, aku melihat slide-slide yang begitu cepat berputar kembali ke 11 tahun yang lalu. Saat pertama aku mengenal kamu… di sebuah sekolah…

Harusnya aku tahu sejak dulu, bahwa sesaat bertemu denganmu, adalah sebuah kebahagiaan yang tak terbendung dengan perasaanku, begitu juga saat aku mulai mendekatimu, melihatmu, lalu menegurmu. Ada rasa yang bergerak begitu cepat di pembuluh darahku. Tapi tak pernah bisa kujelaskan…

Harusnya aku juga tahu, bahwa surat yang pertama kali kamu tulis, adalah surat “perintah” yang dipaksakan, karena saat itu kamu masih jadi siswa baru, tapi aku juga tidak pernah menyangka bahwa kamu akan menulis surat-surat selanjutnya saat kita bersama, kamu tahu. Sampai hari ini pun seluruh surat kamu masih tersimpan dengan rapih.

Sejak bertemu dengan kamu, ada yang berubah dalam sebuah kehidupanku, ada yang sulit dilepaskan, sulit sekali diungkapkan. Sejak bertemu dengan kamu, aku mulai belajar memahami, bahwa hidup itu berarti, hidup itu berbagi, hidup itu canda tawa. Hidup itu cinta.

Banyak yang tak pernah aku pahami, dalam setiap jejak langkah kehidupan yang saat itu aku jalani, lalu kamu mengikuti jejak langkah yang aku tinggal, berusaha menjelaskan satu – per satu setiap kotak yang kita lompati, setiap jejak yang kita lewati. Lalu jika terjatuh, kita berusaha berdiri lagi. meski kita tahu, bahwa suatu saat kita akan terjatuh selamanya.

Sejak ada kamu, banyak lagu yang aku cipta, lalu ku tinggal disana, disebuah sekolah tua untuk mengenang bahwa kita pernah bersama. Berharap jika kita sudah tidak bersama, ada sebuah cerita yang kita tinggalkan disana, ada sebuah memoar kecil yang tertulis disana, disebuah sekolah yang sudah tua.

9 tahun berlalu, kita juga sudah tidak bersama, pastinya banyak yang kita lewati sendiri-sendiri, tidak ada jejak langkah yang aku tinggal, dan juga kamu tidak mengikuti jejak tersebut. Sekarang kita bagaikan dua arah yang berbeda, kamu mungkin akan berbelok ke kanan, sementara aku bisa saja belok ke kiri, tapi masih memilih tinggal diam disini.

Bulan ini, tepat tanggal 25 july nanti aku dan kamu, berulang tahun, ulang tahun yang masih kita rayakan bersama meski kita tahu kita sudah tidak bersama lagi. mungkin ulang tahun kali ini, adalah ulang tahun kita bersama untuk yang terakhir kalinya, sebab sejak November nanti kita tidak akan pernah merayakan ulang tahun ini kembali.

Aku senang bisa mengenalmu…
Aku juga senang bisa mengenalmu lebih dalam, teramat dalam….

9 tahun, aku berusaha menepati janji kita bersama, maksudku, janji yang pernah terucap.
Lalu di tahun terakhir ini, aku ingin bertanya padamu.
Bolehkah aku mengingkari janji tersebut ?

Janji yang tersisa di satu tahun terakhir ini….

Aku ingin, kelak di seribu tahun nanti, memoar kecil ini masih kita simpan meski hanya dalam hati, dan sesekali kita baca…
Walau kita tahu, kita tak pernah hidup seribu tahun…
Kita hanya penggalan puisi sederhana, yang terpotong dibagian tengahnya.

Berdoalah, akan ada kapal ke padang untuk mengantarku melihat hari paling bahagia untukmu, namun jika waktu tak pernah mengijinkan.
“aku masih berdoa untukmu”

In memoriam “story of Luvasta”
Satu kisah rumit disebuah sekolah…
Boy Hidayat
7-July-2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s