Arsip untuk Juli, 2009

Menanti sampai kamu bicara

Posted: 31 Juli 2009 in Uncategorized

Ada jawaban, diatas pertanyaan yang terus kamu simpan dalam hatimu. Aku tahu, sangatlah sulit menerka, bahwa jawaban itu benar-benar seperti yang diharapkan. Aku diam, yang benar-benar membisu memikirkan, bahkan menunggu semua jawaban atas pertanyaan yang pernah aku sampaikan padamu.

Aku seperti menari tanpa alunan musik, aku seperti melukis, tapi kamu hanya memberikan satu warna yang tidak pernah aku kenal.
Lalu kamu bilang, “Waktu yang menemukan kita, sampai hati ingin saling memiliki, maka waktu juga yang tega untuk memisahkan kita.”

“Lalu jika cinta sudah terlambat ?”
“Mungkin aku yang salah memahami isi hatimu ?”
“Tidak, mungkin waktu yang salah.”
“Atau isi hati kita yang salah, dan bertepatan dengan waktu yang salah juga ?”

“Jika cinta yang sudah terlambat, maka harusnya kita tidak pernah menyalahkan waktu”.
“Sebab waktu tidak akan pernah berhenti, untuk menunggu perjalanan kita kan ?”

Kamu selalu memahami, bahwa tidak ada yang salah dengan cerita kita. Tapi mungkin waktu yang tidak mengijinkan.

“aku menunggumu bicara, saat itu diantara kita tidak memiliki siapapun,” lirih mu pelan.
“bicara yang memang sangat sulit untuk diungkapkan, sampai akhirnya aku harus membiarkan rasa itu mulai pergi.”
“Kamu merasa bersalah ?”
“Tidak sedikitpun.”
“itu yang diharapkan.”
“lalu mengapa kita tidak menciptakan waktunya sendiri ?”

Aku diam, menciptakan waktu sendiri ? ada hal lupa yang tidak pernah terpikirkan olehku saat itu, memikirkan untuk menciptakan waktu sendiri? Diantara kita ? bodohnya aku, bodohnya kamu, dan tentu bodohnya kita berdua.
Mengapa harus sampai menunggu aku atau kamu yang berbicara.

“Tapi kali ini, kita benar-benar terlambat !”
“Sangat terlambat.” Ucapmu.

Kamu diam, dan kali ini diam yang tidak pernah bisa ku mengerti maksudnya.

“Maaf aku tak pernah mengatakannya, padamu, bahkan untuk sekali saja mengatakannya padamu.”
“Harusnya waktu itu, aku memohon padamu untuk menciptakan waktu sendiri untuk kita berdua, agar kamu bisa dengan mudah mengatakannya.”
“Kita hanya kalah berlari dengan waktu, dan lupa untuk saling bergandengan saat berlari, akhirnya kita tidak pernah tahu kearah mana kita akan berlari sampai akhirnya antara aku dan kamu, kita sama-sama berlari dengan arah yang berbeda, hingga akhirnya kita semakin jauh.” ucapku
“semakin jauh, hingga kita tidak pernah bertemu kembali, sampai tiba waktu ini. Jika saja bisa diputar, aku ingin kamu mengatakannya sekarang untuk pertama dan untuk yang terakhir kali yang sangat ingin aku dengar, selama ini aku hanya menanti kamu untuk bicara, mengucapkan satu kalimat itu saja. ”

“Cinta, Sudah terlambat…” ucapku.

Seorang gadis kecil menghampiri kami, berlari dengan sangat lucu. ..
“Mama..Mama.. !”

“Ini puteriku,..”
“Cantik, lebih cantik dari bunda nya.”
“aku ingat, kamu ingin sekali memiliki anak perempuan, dalam mimpi-mimpi kita.”
“Ya, mimpi-mimpi kita itu… mimpi yang terlambat.”
“Semoga, kamu tidak akan pernah terlambat lagi, untuk mengucapkannya, menyimpannya hingga terlalu lama, sampai kamu benar-benar memahami kata-kata itu, lalu berani mengatakannya.”

“Aku hanya ingin menunggu kamu bicara, mengetahui isi hatimu saat itu, tapi aku tahu. Semua sudah terlambat.”
“Sudah sangat terlambat…”

31-July-2009
Boy Hidayat
Untuk kisah yang terlambat menghampiri

Iklan

iba-tiba, aku masuk kedalam dunia yang belum pernah aku kunjungi dimanapun selama ini. Seorang gadis kecil menarik lenganku. Digenggamnya keras sekali, lalu menarikku sambil berlari.

“Ayo cepat, sebelum kamu tidak bisa melihatnya,?”
“Melihat apa, aku dimanapun aku tak pernah tahu?”
“Nanti saja, kamu akan melihatnya.”

Aku tidak mengerti, tapi aku juga tidak pernah bisa menahan laju lari gadis kecil itu. Gadis kecil yang lucu, bermata biru.

“Kita akan kemana ?”
“Melihat sesuatu yang tidak pernah kamu lihat sebelumnya”

Disebuah pelarian, antara aku dengan gadis kecil bermata biru itu, terlalu tergesa-gesa. Hingga aku tidak pernah bisa melihat sekelilingku. Semua terasa gelap sekali. Kami terus melaju dengan cepat, napas ku tersengal, aku sesak.

“Stop, aku sudah tidak kuat,”
“Jangan, kita hampir tiba, sedikit lagi !.”

Sambil berlari aku melihat di ujung jalan didepanku, cahaya begitu menyilaukan membuat mata ini tak pernah sanggup melihatnya. Beberapa meter lagi kami akan sampai, aku menutup mata sambil berlari mengikuti suara gerak kaki si gadis kecil bermata biru.

Tiba-tiba aku merasakan, berlahan-lahan kita mulai melambat, lalu berhenti. Aku membuka mata, didepan sebuah gerbang yang sangat tinggi. Pintu dengan warna corak keemasaan tepat berada dihadapku, tinggi sekali, aku tidak pernah melihat pintu setinggi ini, indah, dilapisi emas, intan, berlian, atau apapun namanya.

“Ini pintu batas antara langit dan bumi,” gadis kecil mengatakan sesuatu.

Aku masih diam, cukup lama terpana.

“Ayo masuk, kamu akan menemukan sesuatu didalamnya,”
“Apa ?”
“Sesuatu yang tidak pernah kamu temukan dimanapun kamu cari, atau mungkin sesuatu yang akan kamu temukan, adalah sesuatu yang kamu inginkan selama ini.”

Pintu berlapis emas itu terbuka, aku melihat keindahan didalamnya. Beberapa sungai kecil, di sudut sebelah kanan, lalu lapangan yang sangat luas. Ada beberapa perempuan cantik, yang tidak pernah aku lihat kecantikannya dimanapun. Mereka tersenyum, aku diam. Bukan karena tidak bisa tersenyum, karena aku tidak pernah melihat senyum yang seindah itu dimanapun.

“Mereka bidadari-bidadari, penghuni alam ini,”
“Bidadari ? apakah ini surga ?”
“Bukan, ini bukan surga, jika kamu tahu tentang surga, maka kamu tidak akan pernah meminta untuk kembali ke dunia, ini bukan surga. Hanya pelataran kecil saja.”
“Gila, pelataran kecil ? tidak mungkin ini pasti surga !”
“Sudah kukatakan, ini bukan surga, hanya pelataran kecil saja. Ayo cepat kita akan menuju kesana,”

Gadis kecil itu menunjuk sebuah puri indah beberapa meter dihadapan kami. Puri yang berkubah berlian berlapis emas hampir mirip dengan pintu yang pertama aku masuki.

“Itu sebuah puri ?”
“Iya, sebuah puri, kamu akan menemukan sesuatu didalamnya.”
“bangunan yang indah, yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, apakah itu diciptakan dari emas ? atau dengan campuran lain ?
“Emas murni, kami menyebutnya “Puri perjalanan keabadian”, ya setidaknya seperti itulah”
“Puri perjalanan keabadian ?”
“Aku tahu kamu pasti heran, sebuah puri yang diciptakan beratus-ratus abad, sebelum peristiwa renaissance, bahkan sebelum masa dark age”
“Melalui dua masa, yang berbeda abad ?”
“Bukan Cuma berbeda masa, namun juga berbeda sejarah, apakah kamu sadar ?”

Aku mulai menikmati perjalanan misterius ini, yang sampai tahap perjalanan yang belum panjang ini, aku masih belum mengerti apakah maksud dari perjalanan ini. Kami hampir tiba di sebuah pelataran puri indah ini, hampir memasuki pintu gerbang.

Gadis kecil bermata biru itu, mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, sebuah lilin kecil dan sebuah kotak yang hampir mirip dengan korek api.

“Kamu pegang lilin ini,kita akan mengarungi perjalanan panjang, yang penuh pertanyaan dan hanya kamu yang menemukan jawabannya.”

Aku diam menuruti semua perkataannya, sampai disini aku sudah mulai berfikir. “Aku adalah makhluk bodoh, yang mau saja mengikuti permainan anak gadis, bermata biru, yang kira-kira menurut tebakanku, dia belum genap delapan tahun.”

“Ayo cepat, perjalanan kita masih panjang.”

Tiba-tiba pintu gerbang puri terbuka, didalam sangat gelap dan tidak pernah aku merasakan kegelapan ini sebelumnya, kami memasuki batas pertama pintu puri tersebut.

“Kami menyebutnya, tapal pertama.” Tanpa basa-basi gadis kecil itu menjelaskan sesuatu.
“Tapal pertama ?”
“Tempat dimana, kamu akan melihat kehidupan-kehidupan yang sudah berlalu, jauh sebelum kamu hidup, atau mungkin juga jauh sebelum kakek buyut mu hidup.”

Disebelah kiri, aku melihat lukisan fenomenal karya Leonardo Da Vinci, “Monalisa”. Lukisan yang selama ini aku anggap biasa saja, dan tidak pernah ada istimewanya, dibandingkan lukisan yang pernah dibuat oleh temen-temanku, semasa SMA dulu.

“Monalisa, Leonardo Da Vinci, kamu tahu, mengapa lukisan itu istimewa sekali ?”
“ya, lukisan diabad kegelapan, dan sebagai pemicu untuk menuju abad pencerahan. Buatku lukisan itu biasa saja, tidak ada yang istimewa.”
“Aku tahu kamu akan menganggap lukisan itu biasa saja, karena ketidaktahuanmu itu, tentang lukisan monalisa yang fenomenal itu. Lukisan itu adalah lukisan dengan objek makhluk hidup pertama kali, yang pernah ada di dunia, saat itu, manusia diharamkan untuk melukiskan objek yang mempunyai nyawa, lalu Da Vinci, memberontak, jiwa memberontaknya, persis sepertimu, “pemberontak dalam kesepian” dia melukiskan objek hidup pertama pada lukisannya, lalu diberikan nama, monalisa, tak tahu persis apakah monalisa itu nyata atau tidak.”

Gadis kecil itu terus berjalan, menyusuri puri yang sangat gelap. Kami hanya ditemani dua batang lilin kecil, dalam nalarku, kedua lilin ini tidak akan pernah bisa bertahan selama sejam, atau paling lama setidaknya lilin ini akan bertahan selama satu-setengah jam saja.

Beberapa meter kami sudah melewati pintu gerbang puri tersebut, dan lukisan monalisa tadi. Didepan sana, aku melihat patung, sebuah patung yang sedikit lusuh, berwarna kecoklatan. Aku menghampirinya, melihatnya lebih teliti lagi.

“Joan of Arc, sebuah mahakarya Fremiet, Pahlawan Prancis yang diagungkan dinegaranya, Kamu tahu sesuatu tentang dia ?”
“Ya, pahlawan revolusioner Prancis, yang memerdekakan Prancis.”
“Betul sekali, pernahkah kamu berfikiran pahlawan sekelas dia, pernah kesepian ?”

Aku diam, tidak mengerti.

“Maksudnya ? kamu menghina pahlawan Prancis itu, gadis kecil ?”
“Aku tidak menghina, aku hanya ingin mengatakan, bahwa kita terkadang melihat sesuatu kebesaran seseorang dengan kegagahannya, tanpa memperhatikan apa yang telah terjadi dipikirannya, dihatinya, dan dibalik “Jubah kebesarannya.”

Kemudian nalarku berfikir, iya, betul sekali apa yang dikatakan oleh gadis kecil ini. Mereka juga manusia, setidaknya mereka pernah menangis walaupun sekali dalam seumur hidupnya.
Kami melanjutkan perjalanan, yang aku tidak pernah mengerti akan menemukan apa disebuah perjalanan misterius ini.

Di ujung perjalanan ini, aku menemukan sebuah persimpangan yang di tutupi sebuah tirai, persimpangan yang beberapa saat lagi akan aku hadapi.
Kami membuka tirai tersebut, persis. Sebagai sebuah persimpangan, hanya ada jalan kiri dan kanan.

“Baiklah, petualang kamu akan memilih yang mana ?”
“kenapa mesti aku yang memilih, kamu Guide disini kan ?”
“Sudahlah ini perjalananmu, kamu yang menentukannya, aku hanya navigasi yang memegang peta. Tapi keputusan tetap padamu, pengendali kemudi yang handal.”
“Baiklah, kita ke kanan !”
“Pilihan yang handal.”

Gadis kecil itu berlari kecil sambil tersenyum dan memegang erat sekali tanganku.

“Mari lanjutkan perjalanan indahmu, Tuan.”
“baiklah, puteri. Apapun katamu, kamulah puterinya.”
Kami melanjutkan perjalanan yang sedikit mulai mengundang pertanyaan ini. Hal pertama yang aku lihat adalah sebuah lukisan. Lukisan yang sering sekali aku lihat, bukan di alam ini. Tapi di alam lain yang pernah ku kenal, sangat ku kenal sekali.

Sebuah lukisan tertutupi kain merah setengahnya, aku menghampirinya. Membuka bagian yang tertutup setengahnya itu. Lukisan yang sangat besar, dengan bingkai berlapis emas, bercampur intan, disetiap butirannya. Aku menyibak kain tersebut, lalu terlihat sosok perempuan yang tidak asing bagiku. Aku pernah melihatnya.

“Maria Magdalena, perempuan yang lebih kau kenal dengan nama Maryam.”

Lukisan itu memperlihatkan bahwa Maria Magdalena, sedang menangisi seseorang yang berada tepat tergantung diatasnya, mungkin itu Al-Masih, Isa Allaihi salam.

“Mengapa dia mengangis ?”
“Sejarah menuliskan, bahwa Maryam atau Maria itu adalah perempuan yang teramat suci yang diberikan mukjizat oleh Tuhan, untuk melahirkan tanpa benih yang ditanam.”
“Ya, sebuah mukjizat yang fantastis, sebagai bukti tanda Kekuasaan-Nya.”
“Dan menunjukkan betapa tegarnya seorang perempuan. Meskipun menangis, hatinya tetap tabah.”

Kami melanjutkan perjalanan, memasuki sebuah pintu kecil yang ditutupi sebuah kain putih bersih.
“Hati-hati, kamu akan sering melihat apa yang telah sering kamu lihat sebelumnya, Tuan.”
“Jangan memanggilku, dengan sebutan.Tuan.”
“Karena kaulah rajanya.”
“Aku Mohon !”
“Baiklah, Sahabat.”
“Itu lebih baik”.”

Kami memasuki, sebuah pintu kecil. Ada pengalaman berbeda saat aku memasuki pintu tersebut, aku seperti melihat kisahku sendiri. Seperti sesuatu perjalanan yang pernah aku alami, sebelumnya.

“selamat datang di puri keabadian milikmu sendiri sahabat.”
“milikku sendiri ?”
“Ya, selamanya milikmu.”
Sesaat setelah kami memasuki pintu kecil itu, aku melihat sebuah surat kecil dalam sebuah kotak kaca, bening sekali surat yang kecil. Sangat kecil, tapi masih bisa dibuka, tulisan didalamnya pun masih bisa ku baca. Sebelum aku menghampiri surat yang ada dalam kotak kaca tersebut. Ada sebuah slide, mirip pemutaran fim, dilayar besar. Aku melihat seorang gadis menangis disebuah sudut sekolah, dekat dengan tong sampah kecil dari plastic. Aku seperti mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya.

“Airin, gadis manis itu bernama Airin.”
“Airin ?”
“Kamu pernah mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya dalam hatimu.”
“Ya, aku seperti mengenalnya, nama itu, wajah itu.”
“Airin, gadis cantik, berkulit putih, seorang pelajar yang pemalu. Yang saat itu mengutarakan perasaannya padamu, melalui surat. Dan akhirnya kamu membuang surat tersebut, merobeknya, tanpa pernah kamu baca sebelumnya.”
“Ya, aku ingat. Saat itu aku masih terlalu kecil.untuk mengenal cinta, satu SMP”
“Bukan berarti kamu tidak pernah bisa menghargainya kan?”
“Iya, aku salah.”
“Sekarang bacalah surat itu.Cepat waktu kita tidak banyak.”

Aku mengambil surat yang berada dikotak kaca tersebut, membukanya lalu membacanya. Disana hanya ada tulisan sederhana, kecil, tulisan yang indah. Yang sebelumnya tidak pernah aku baca, meski aku tahu wangi dan warna suratnya sudah kukenal. Surat tersebut menuliskan.

“Aku sedang ingin mengikutimu, berjalan. Tapi kamu malah berlari. Aku sedang coba ikut mengikutimu berlari, tapi kamu semakin cepat berlari, sampai akhirnya aku tahu. Aku tidak akan pernah bisa mengejarmu berlari. Sekarang aku ingin berhenti, dan ingin mengatakan sesuatu. Tapi kamu tidak juga berhenti berlari. Bagaimana mengatakannya ? lalu tunjukkan bagaimana aku bisa mengatakannya padamu ? aku sayang padamu, meski kamu tidak pernah mengenalku, atau bahkan tak pernah mau mengenalku.”
-Airin-

“Kamu sudah membacanya ?”
“Iya, sudah. Surat yang tidak pernah aku baca saat masih dibangku SMP itu.”
“Kamu juga menyukainya kan ?”
“Iya, tapi tak pernah aku ungkapkan.”
“Masa lalu yang indah,untukmu.”
“Sangat indah, bahkan masa indah yang tragis.”
“Apakah kamu tahu, saat ini, dia sedang apa ?”
“entahlah”
“Dia sudah menikah, tapi Airin masih menyimpan surat pertamanya. Untukmu.”
“Lebih dari limabelas tahun, mana mungkin ?”
“Nanti kamu akan membuktikannya sendiri.”

Perjalanan kami lanjutkan kembali. Ada beberapa benda yang pernah aku lihat sebelumnya, Stick drum yang patah, yang dulu pernah aku pakai. Lukisan pegunungan dan sawah, lukisan yang persis seperti lukisan yang pernah aku buat, semasa dibangku SMA. Yang saat ini ada dirumahku.

Lalu ada beberapa surat yang berterbangan, aku mengambil salah satu surat tersebut. Lalu membacanya.

Kupu-kupu mungil yang menari

Aku ingin melihatmu menari,
Seperti kupu-kupu mungil yang mengitari bunga matahari
Aku ingin mendengarmu bernyanyi
Seperti dawai-dawai biola menyanyi
Seperti…
Aku ingin melihat senyummu
Sekali…
Agar aku bisa memahami
Kupu-kupu mungil yang sedang menari…

Dedicated from ”dia”
(Boy -5-january-2007)

Ah. Puisi itu lagi, Puisi yang sangat fenomenal semasa aku kuliah Di Fisip UI. Orang menyebutnya fenomenal, karena banyak dari para pembaca puisi tersebut, tidak pernah bisa tahu siapakah “Si kupu-kupu Mungil” tersebut. Mereka bertanya, dan aku tidak akan menjawab, maksudnya tidak akan pernah menjawab.

“Semua surat yang berterbangan itu, adalah surat dari orang-orang yang berarti untukmu, dan surat yang kamu tulis yang untuk orang yang berarti untukmu juga.”

“Mungkin, aku tidak tahu.”

Aku mulai menikmati perjalanan hidupku sendiri, melihat barang-barang yang pernah hilang dalam hidupku, jam tangan, cincin emas yang pernah diberikan kepadaku oleh seseorang sebagai tanda ikatan. Banyak sekali yang aku lihat. Sangat banyak sampai akhirnya aku tidak bisa menghapalnya lagi.
Tiba-tiba Lonceng berbunyi keras sekali. Gadis itu menarik aku, genggamnya semakin keras dan erat.
“Cepat, kita harus menuju ke atas puri ini.”
“Untuk apa ?”
“Nanti kamu akan melihatnya sendiri.

Aku tiba di balkon atas puri indah ini, hamparan langit cantik dengan bintang genit berkelip diatasnya. Pesona yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Benar-benar tidak pernah aku lihat.

“Inilah akhir perjalananmu, disebuah balkon puri ini. Kamu akan menemukan jawaban atas semua pertanyaan selama ini.” Ucap gadis kecil itu
“Akhir perjalanan ?”
“Ada yang menantimu disini ?”
“Siapa ?”
“Sebentar aku panggilkan.”

Aku masih menikmati bintang, selagi bisa. Gadis kecil itu entah kemana dan tiba-tiba menghilang. Ah… rasanya seperti disurga saja.

“Hey, kamu datang juga ?”

Seseorang menegurku, aku segera berbalik.

“Airin ?”
“Sudah lama tidak bertemu ya ?”
“Sangat lama sekali.”
“Kamu kemana saja ?”
“Kamu yang kemana ?”
“Ada…”
“Aku juga…Ada.”
“Tapi tidak dalam hati,”
“Aku tidak mengerti Airin, apa ini semua ?”
“Kamu dari dulu juga tidak pernah mengerti. Sejak saat itu.”
“Maaf, aku…”
“Diam, waktu kita sebentar, aku hanya ingin melihatmu saja.”
“Sebentar ?”

Tiba-tiba lonceng berbunyi keras sekali.
“Maaf, aku harus pergi.”
“Apa ? Sejauh ini perjalanan yang aku tempuh. Kamu hanya sekedar menyapa begitu saja rin ?”
“Nanti kita pasti bertemu kembali, aku janji akan tiba waktunya, sudah ya aku pergi.”

Tiba-tiba gelap sekali… gelap yang sangat amat, gelap yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
Aku terjaga…

Aku bermimpi.

***
Pagi ini, aku harus berangkat ke kampus, untuk mengurus surat-surat administrasi. Seperti biasa memakai transport yang sudah sangat akrab bagiku, kereta. Tapi beruntungnya hari ini aku menggunakan kereta AC.

Aku duduk disalah satu bangku diatas kereta, disebelah perempuan berkerudung, putih, bersih. Memakai kacamata. Sedang membaca buku, karya Kathleen McGowan, “The Expected One”. Sebuah buku yang juga sedang aku baca, dan berusaha keras menyelesaikan membaca novel tersebut.

“Bukunya bagus ya ?” spontan kukatakan hal tersebut.
Gadis berkerudung itu bingung,
“Ah ? Oh iya. Perjalanan menakjubkan.”
“Aku juga sedang baca.”
“Oh..”

Dia melanjutkan membaca kembali buku tersebut, beberapa saat kemudian. Perempuan itu memanggil namaku. Persis mengetahui nama panjangku.
“Boy Hidayat, Kelas 3E”
“Ah ? Apa ?”
“Boy hidayat, Kelas 3E kan.”
“Iya,..iya” Aku ragu, bagaimana gadis ini bisa mengetahui, nama panjangku dan nama kelas ku semasa di SMP.

“Ingat aku ?”
“seperti pernah melihat, sangat pernah melihat, baru-baru ini. Tapi aku lupa dimana.”
“Airin,”

Tiba-tiba aku ingat, mimpi itu. Airin mengatakan dalam mimpi itu “aku janji akan tiba waktunya”. Aku benar-benar terkejut. Airin yang tadi malam menghampiriku, dia sekarang ada dihadapku.

“Sudah menikah ?”
“Belum rin, kamu sendiri ?”
“Sudah..”
“Oh, tinggal dimana sekarang ?”
“Masih disini saja.”
“Dikota bogor ini.”

Aku dan dia, bicara panjang lebar, mengutarakan maksud kepergianku kali ini, pekerjaan, kuliah dan mengenang masa-masa dulu. Tertawa, bahkan menahan tawa, karena tidak enak dengan penumpang yang lain. Kereta memasuki stasiun depok. Hampir menuju Stasiun Universitas Indonesia.

“Aku segera turun rin, akan segera turun.”
“Iya, silahkan, tapi boleh aku meminta nomor ponselmu ?”
“Baiklah.”
“Aku tidak membaw ponsel, aku catat sebentar ya ?”
“Baik, silahkan.”

Setelah memberikan nomor ponselnya kepadaku, Airin membuka catatan kecil, disana, dicatatan kecil itu aku melihat secarik surat yang pernah aku kenal. Aku ingat. Aku hapal wanginya. Aku menyebutkan nomor ponselku, Airin mencatatnya. Aku bertanya pada Airin.

“Masih kamu simpan surat itu rin ?”
“Iya, masih. Surat pertama, untuk orang pertama.”
“Maafkan aku rin.”
“Pasti, karena kamu yang pertama.”
“Terima kasih.”

Airin tersenyum, saat aku turun dari kereta. Dan berharap Airin memaafkan sepenuhnya. Memaafkan yang tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi aku tahu. Airin belum berubah, masih seperti dulu, tetap bersahaja dan mudah memaafkan.

“Kelak suatu saat aku akan membahagiakanmu, rin. Untuk membayar semua kekecewaan yang pernah kamu alami, saat itu. Tidak disini, mungkin di dunia yang lain, dunia dimana kamu pernah menemuiku, seperti malam tadi.” Ujarku dalam hati.

Boy Hidayat
Untuk Airin, waktu yang harus memaafkan

ntuk balasan surat dari Vara, yang tidak bisa di terbitkan disini…
****

Vara, sahabatku sayang. Hal pertama yang aku pengen ucapin waktu baca mail dari kamu, aku pengen ketawa, dan ternyata vara yang aku kenal, bawel juga.hehehe tapi aku seneng kalo kamu bawel de, waktu baca imel dari kamu itu. Sedikitpun aku gak pernah kesinggung. Sedikitpun aku gak pernah tuh marah atau apa namanya. Karena aku tahu, aku punya sahabat, sekaligus adek yang baik banget buat aku, yaitu kamu.

Ada hal yang membuat aku memutuskan janji itu, janji yang kamu bilang akhirnya membuat aku menjadi makhluk dodol yang kamu kenal, heheh
Jadi sebenernya ada tulisan aku yang terbaru, (aku lampirkan) sambungan tentang cerita masa –SMA ku dan akhirnya membuat janji yang dodol itu. Heheh

Sesuai dengan judulnya, pada tanggal 25 july kemarin adalah hari jadi kita berdua, dia menelpon, lalu kita bicara banyak. Dan semuanya kita bicarakan, kenapa saat itu dia begitu, dan kenapa saat itu aku juga begitu. Dia juga bilang, kalo aku harus mengakhiri janji yang pernah di ucapkan itu. Dia sama seperti kamu, sama gemesnya dengan aku dia bilang kalo aku bukan berjanji tapi seakan-akan malah seperti menghukum diri sendiri, fine. Kalian berdua setuju atas istilah “menghukum diri sendiri”. Heheh

Sebenernya prespektif menghukum diri sendiri dalam hidup aku itu gak ada de, aku juga sadar atas janji bodoh yang aku buat, tapi bukan berarti aku gak bisa mengkhianatinya, gini loh. Setelah 9 tahun berpisah dengan dia, aku merasa sebenernya semua baik-baik aja, aku juga menganggap bahwa si dia itu hanya masa lalu, cerita cinta SMA, yang memang sedikit lebih berbeda dari cerita-cerita yang lainnya. Tapi bukan berarti aku terkurung dalam sangkar kesepian yang aku buat sendiri de,
Ini juga bukan sebagai pembelaan diri atas kebodohan yang kamu bilang sama aku.

Tapi selama 9 tahun ini memang belum ada perempuan yang sreek untuk “diam” dalam hati ku de. Gini loh. Aku banyak suka sama orang, termasuk dengan si “kupu-kupu mungil”. Aku suka sama dia, tapi bukan berarti dia sreek dalam hatiku khan ? ada tahapan, dimana satu persatu harus dilewati sehingga kata “sreek” itu benar-benar bulat menjadi kata yang berubah menjadi “klop”

Aku bukannya mengenang masa lalu terus, sampai akhirnya aku terpuruk sendirian de, di facebook juga banyak yang bilang, kalo aku terjerembab pada masa lalu. Gini loh, de mungkin saat aku menulis, aku memang menempatkan diri bahwa aku seakan-akan masih berada dimasa lalu, dan berharap itu bisa kembali lagi. semua aku lakuin karena aku ingin “kisahnya” kena banget dan aku ingin tulisan aku jujur, supaya yang baca, bisa tahu dan seolah-olah ada pada saat cerita itu sedang berjalan. Saat menulis itu aku juga berusaha memutar semua yang pernah aku ingat, aku keluarin semuanya, jadi seakan-akan aku masih hanyut oleh masa lalu.

Masalah pengganti dia, aku juga berfikiran. Sebenernya banyak yang bisa menggantikan dia dalam hatiku de, setiap manusia memiliki kelebihannya masing-masing. Dan aku sangat yakin masih banyak kelebihan yang lain yang dimiliki oleh perempuan lain selain diri dia.

Hanya sekarang, aku membutuhkan waktu. bukan untuk terperangkap pada masa lalu, dan mencoba keluar dari masa lalu, aku sudah keluar dari masa lalu itu, memang dia masih ada dalam hatiku, tapi bukan sebagai orang yang istimewa lagi de, hanya sebagai seorang sahabat. Aku hanya sedikit berhati-hati untuk mengenal, “mencintai” perempuan. Bukan karena masih menimbang aku merasa tersakiti akibat masa lalu itu. Aku juga gak merasa tersakiti pada masa lalu. Itu Cuma cerita, itu Cuma sejarah, itu Cuma bagian slide dari hidupku. Itu aja.

Ada yang harus kamu tahu tentang aku, masalah “suka-sukaan” sama perempuan, aku bukan cowok yang sebenernya gampang buat suka sama seseorang, cewek. Banyak pertimbangan. Begitu aku suka sama satu cewek yang udah Cuma satu itu aja yang aku suka, begitu juga kalo aku udah aku jadi sama seseorang. ya udah aku juga Cuma nyimpen dia doang, Cuma permasalahannya, aku adalah cowok yang susah suka begitu aja ama cewek, dan membuat, aku susah juga mencari penggantinya.

Seperti yang kamu bilang kalau aku jangan terjebak pada masa lalu.
Perasaan ku dengan dia sekarang itu biasa-biasa aja de, tidak istimewa lagi. tidak berwarna lagi, tapi memang dia yang pernah memberikan warna dalam hatiku, bukan juga Cuma dia yang memberikan warna dalam hidupku, ada kamu, ada vidya, ada boim, timor, jhon, mochi, nana, mericka yang ikut memberikan warna dalam hidupku. Dan semuanya memberikan warna yang berbeda-beda. Tapi mungkin Cuma dia yang memberikan warna hitam dalam hatiku, lalu kenapa dia seolah-olah istimewa dan tak tergantikan olehku. “karena warna hitam adalah warna yang pekat” yang mudah di lihat dan tidak mudah diterjemahkan. Itu aja de.

Ada yang harus kamu tahu de, aku sudah berdamai dengan masa laluku itu. Tidak ada janji yang harus ditepati lagi, tidak ada penyesalan yang harus disesali lagi, karena aku juga tidak pernah menyesal mempunyai kisah itu de.

Aku memang laki-laki dodol yang terperangkap menyebutkan sumpah dan janji de, aku sadar. tapi mulai tanggal 25 july kemarin yang bertepatan dengan hari jadi kita dulu itu., aku dan dia sudah memutuskan “mengakhiri janji” yang pernah dibuat selama ini.
Sekarang semua tinggal cerita. Semua tinggal dituliskan saja, sesuai dengan “pemikiran dan pengalaman yang aku rasakan” hmm kadang-kadang sebuah cerita harus di hiperbolis-kan de, agar pembaca merasa ada saat kejadian itu. (mungkin aku salah, tapi itu yang ingin aku lakuin)

Cerita yang kamu baca, memang kisah nyata yang pernah aku alamin, tapi gak sepenuhnya seperti yang kamu baca, seperti sekarang. Aku sudah menggantikan dia dalam hatiku, aku sudah menemukan seseorang, yang baik. Entah sebaik dia sebagai masa laluku atau engga, yang jelas aku gak mau membanding-bandingkan antara satu perempuan dengan perempuan yang lain. Buatku semua punya kebaikan sendiri-sendiri.

Cinta itu sama seperti mobil, persis seperti yang kamu bilang. Tapi mungkin ada tambahan.
“setiap mobil yang mempunyai seri terbaru pasti memiliki keindahan yang lebih daripada seri yang lama khan?” hahaha
Tenang aja de, “masih banyak mobil-mobil dengan seri yang lebih baru dan lebih baik”

“Aku Cuma sedang mengumpulkan puzzle yang pernah berantakan yang dulu telah tersusun menjadi istana, lalu tiba-tiba ambruk. Setelah 9 tahun menyusun puzzle yang berantakan itu, maka istana puzzle yang sedang kubangun, tinggal meletakkan emas di ujung kubah istana yang aku buat de, dan hampir selesai…”

Aku senang bisa bicara “lebih dalam” dengan kamu de, meski sampai hari ini, kamu satu-satunya sahabat/adek ku yang “belum aku mengerti” seperti yang aku tuliskan tentang kamu, kamu hanyalah diam yang tak pernah sepi. Hehe

Tapi aku senang, kamu baca tulisanku, komentarin tulisanku, bahkan “ngomelin” aku, karena ke “dodolan” ku. Heheh
Aku merasa, itu naluri alamiah, seorang sahabat. aku juga sedih, kalo sahabatku juga sedang sedih, tapi aku gak perlu ikut bergembira saat sahabatku sedang gembira khan de ?
Karena sahabat ada saat kita sedang sedih, dan ikhlas kalau kadang-kadang tidak di ajak untuk “kegembiraan” yang dimiliki bersama.
Aku merasa kamu seperti itu, kamu adalah salah satu sahabat terbaik yang pernah aku miliki.

Dan sebagai seorang sahabat de, aku juga ingin kamu bukan hanya mendengar, membaca. Aku pengen banget sesekali mendengarkan kamu. Heheheh
Aku gak mungkin menganggap angin lalu surat imel dari kamu ini, karena buatku, ini fantastis, “seorang vara” yang aku kenal, akhirnya memberikan saran buat aku.
Semua ucapanmu dalam imel ini, adalah referensi dalam hidupku de, dimasa depan.

Aku juga sedang memahami kamu de sebagai seorang sahabat, yang tidak pernah ketebak, seperti yang kamu katakan, hehehe
Tapi aku yakin, kamu adalah sahabat/adikku yang baik, bahkan sangaaaaat baik. Yang pernah aku kenal.

Aku senang curhat sama kamu, karena kamu memberikan solusi.
Aku juga berharap kamu gak bosen membaca-tulisan-tulisan aku.
Gak bosen tetap memberikan komentar buat aku, seperti sekarang.

Beberapa tulisan aku kirimkan lagi, mudah-mudahan kamu gak pernah bosen ngebacanya de, untuk mengisi hari-hari kamu.

“kamu selalu gak akan pernah buatku marah de, meskipun kamu kritik. Karena aku senang bisa bercerita dengan kamu”

BOY
Surat Boy, Untuk Vara
27-July-2009
Jakarta

Sebuah pesan masuk kedalam ponselku, malam itu adalah kenangan panjang untuk kita berdua, sejarah yang pernah menuliskan cerita tentang kita.

“Bisa hubungi aku sebentar ?”.

Aku menghubungimu, seseorang yang pernah mengisi hari-hari dengan “kepadatan” yang sangat berarti, dan seseorang yang pernah mengisi hati ini, penuh dengan “kesesakan” hingga tak ada rongga lagi untuk bernafas. Itu kamu…

Malam itu, 11 tahun lalu, kita kembali ke waktu yang pernah kita jalani bersama. Membuka sebuah catatan kecil dan ringkas, catatan yang selama 2,5 tahun kita catat bersama.
Untuk malam ini, kita akan kembali membuka catatan kecil itu, yang telah usang dimakan oleh waktu selama 9 tahun kita berpisah.

“Kamu ingat, malam ini, 11 tahun yang lalu kita sedang apa ?”

Aku menerawang jauh kembali ke 11 tahun yang lalu. Saat itu entah apa yang aku lakukan, malam ini 11 tahun yang lalu, katamu kita sedang menjalani lembaran cerita yang benar-benar baru untukmu, katamu, 11 tahun yang lalu, kita sedang saling mencoba memahami cerita yang suatu saat, mungkin akan kita kenang.

Lalu malam ini, kita benar-benar mengenangnya.

Malam ini, kita membantah, cerita-cerita yang pernah kita alami masing-masing, selama 11 tahun berpisah, dan mengenang selama 2,5 tahun bersama. Katamu, ada kesalahpahaman. Kesalahpahaman yang hadir diantara kita akhirnya merobohkan pondasi-pondasi yang kita susun bersama, lalu kesalahpahaman itu hadir, seiring hadirnya orang ketiga diantara kita.

Lalu kamu bercerita,
“kamu ingat perahu yang kita buat bersama waktu itu ?”
“Sebuah perahu kecil, yang hanya mampu menampung 2 orang ?”
“betul, hanya menampung 2 orang.”
“tapi kita menampungnya lebih dari 2 orang,”
“itulah kesalahan kita, masing-masing diantara kita, berani memutuskan untuk menampung lebih dari 2 orang, di perahu yang telah kita buat, dengan susah payah,dengan keringat. Mungkin juga dengan airmata”.

Ada hal yang tidak pernah aku ketahui, saat itu. Berlahan aku menyakitimu, memberikan sedikit ruang bagi orang lain untuk menaiki perahu yang kita miliki bersama. Dan akhirnya kamu berusaha mengangkut orang lain untuk ikut menaiki perahu yang kita miliki. Akhirnya karam juga.

Sesaat kamu mengatakan,
“Waktu itu aku terhasut, membuat mata ini begitu benci melihat dirimu. Padahal aku tahu, mempertahankan perahu kayu berlayar di tengah badai selama 2,5 tahun adalah hal yang tersulit yang akan kita lakukan saat itu, untuk kita berdua, aku membuat gelombang kecil yang tertahan, hingga lama kelamaan gelombang itu menjadi badai yang tak mampu aku tahan lagi, lalu menghantam perahu kita, maafkan aku.”

“Aku pernah berjanji, ingin memperbaiki kapal yang akan karam saat itu, untuk kita menaiki bersama dan hanya berdua”

“Tapi badai terlalu keras, tapi ombak terlalu menerjang membuat kapal kayu yang hanya bisa menampung 2 orang tidak dapat dipertahankan oleh kita”

“Iya, oleh kita”

Kamu mengatakan,

“andai saja waktu bisa kita putar kembali, aku ingin waktu yang 11 tahun lalu itu, ada hal kecil yang ingin aku perbaiki, hal kecil. Saat dimana aku dan kamu duduk berdua, untuk pertama kalinya setelah perjanjian yang kita lakukan untuk saling menjaga, untuk saling bicara, dan untuk saling memiliki.”

“Ingin diperbaiki ? Hal kecil ? Maksud kamu?”

“Aku ingin, jika waktu itu bisa kita putar kembali. Aku sangat ingin mengatakan padamu, harusnya kita membuat kapal dari baja, dan bukan dari kayu, agar kita tahu, jika badai besar datang, kapal kita tidak akan pernah karam, betulkan ?”

“Mungkin, kamu benar.”

“Kalau saja, kita membuat kapal dari baja, mungkin sekarang kita sudah bisa berlayar berdua. Memasuki samudera yang luas, mengelilingi pantai yang indah, lalu berkeliling dunia. Dan pastinya kapal yang kita buat itu akan mampu kembali bersandar dipelabuhan terakhir yang kita inginkan saat itu.”

“Kalau kapal kita terbuat dari baja, lalu kita berlayar keliling dunia memasuki samudera yang luas, dan mampu mengelilingi pantai yang indah, itu memang baik. Tapi tahukah kamu, saat itu kita tidak membutuhkan kapal layar dari besi yang kuat, kita tidak membutuhkan kapal yang besar dengan banyak ruangan yang indah, karena itu akan membuat kita akan semakin jauh, kamu mungkin di sudut utara kapal besi yang indah itu, sedangkan aku berada di sudut timur kapal besi yang indah itu. Itu hanya membuat kita semakin parah, berada dalam satu kapal besar. Tapi kita tidak pernah bisa bertemu, makanya saat itu kita memutuskan hanya membuat perahu kecil dari kayu, yang hanya bisa menampung dua orang.”

“kamu merasa ada yang salah saat kita membuat perahu kayu tersebut ? Lalu mengapa saat itu kamu tidak mengijinkan kita membuat kapal dari besi yang besar dan indah ?”

“Kalau kita membuat kapal yang besar saat itu, akan lebih menyakitkan untuk hari ini. Sebuah sejarah yang akan kita kenang malam ini kalau kita membuat kapal yang indah, besar dan dari besi. Maka kenangan yang akan kita ceritakan bukan kapal kayu yang karam, yang masing-masing dari kita hanya mempunyai kesalahan menaiki “orang ketiga”, tapi akan lebih parah, yang akan kita ceritakan malam ini adalah, bukan karamnya kapal yang kita buat, tapi dua orang yang tidak pernah bertemu, meski dalam satu kapal mewah, indah, dan megah yang terbuat dari besi itu, lalu dua orang itu hanya menikmati sepi dalam kapal yang indah dan megah, padahal dua orang itu ingin saling memiliki, lalu hadirnya orang ketiga bukannya menenggelamkan kapal yang kita miliki, tapi lebih parah lagi, hadirnya orang ketiga, akan membuat janggal cerita di kapal mewah itu, satu kapal berisikan empat orang, yang dua orang diantaranya, sedang berusaha mengikat janji setia. Itu akan lebih menyakitkan”

“Aku mengerti, kenapa saat itu kita hanya ingin membuat kapal kayu kecil yang sederhana, kesalahan kita hanya “menaiki orang ketiga” padahal kita tahu, kapal yang kita rancang hanya mampu menampung dua orang.”

“Betul”

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, sejarah yang kita buat tetap pada alinea cerita-cerita yang kita tulis masing-masing, saat ini kita membuka satu persatu alinea yang sudah kita tulis masing-masing di lembaran cerita yang kita miliki selama ini. Membacanya, lalu mulai memikirkannya. Bahwa memang ada yang ganjil dari cerita yang pernah kita miliki.

Tapi kita berusaha menikmati cerita yang pernah kita tulis, dimana kita masih bersama. Membacanya kembali, jauh setelah kita berpisah cukup lama. Aku tertawa, kamu juga tertawa, kita sama-sama menertawakan sebuah hal yang kita sendiri tidak pernah menyangka akan mengalaminya. Tapi hari ini kita membuka kotak cerita diantara kita, lalu menemukan cerita sebuah perahu kayu sederhana, sebagai awal cerita yang kita miliki.

“Sebentar lagi kamu ingin berlayar kembali, menemukan pelabuhan terakhir untukmu, pelabuhan bernama pelaminan, betul ?”
“Betul, aku senang bisa berlayar denganmu, dengan perahu kayu yang kecil, mencoba mengarungi samudera dengan ombak yang besar, meski kita tahu, kapal kayu kecil kita itu tidak akan mampu menahan badai saat itu,aku senang bisa berlayar denganmu, meski perahu kayu kecil kita karam juga, tapi kita punya cerita yang indah, kita pernah punya kapal kayu yang indah, yang saat itu sedang kita pertahankan untuk tetap melewati samudera mesti dihantam badai, walau kita tahu, kita tak mampu menemukan pelabuhan terakhir untuk kapal perahu kayu kecil kita itu.”

“Kita tidak mampu menemukan pelabuhannya, tapi kita mampu menuliskan cerita kapal kayu itu.”

sejenak kamu diam, tidak bersuara dalam ponselku, malam itu. Lalu kamu mengatakan ;

“Kamu tahu, sejarah bukanlah sesuatu perjalanan yang pernah dialami seseorang, tapi sejarah adalah sesuatu yang pernah dituliskan. Dan kamu mampu menuliskannya sebagai hadiah terakhir di ulang tahun kita berdua, malam ini, untuk 11 tahun yang lalu, untuk masa yang pernah kita lewati, dan untuk masa depan yang akan kita ceritakan kembali, mungkin bukan denganku, mungkin bukan denganmu, tapi dengan anak-anak kita”

“Ya, dengan orang lain, kita akan berbagi kapal kayu kecil ini”

Hadiah terakhir untuk aku, untuk kamu, dan untuk masa-masa yang pernah kita lewati bersama. Untuk perahu kayu kecil yang sedang karam, di samudera yang luas, mungkin itu adalah pelabuhan terahir untuknya.

25-July-2009
Boy hidayat
Bogor

Bunga Terakhir untukku

Posted: 21 Juli 2009 in Uncategorized

“Ini buat kamu, jangan sampai mati ya..”

Aku ingat saat itu, kamu memberikan beberapa tangkai anggrek, kamu bilang “jangan sampai mati, sebab aku harus berjuang memetiknya diantara tingginya pohon-pohon mahoni,” kalau saja waktu itu aku tidak menerima beberapa tangkai anggrek dari tanganmu, mungkin itu bukan bunga yang terakhir untukku.

Kamu juga bilang, “aku tahu kamu tidak pernah suka bunga, tapi kamu harus belajar, belajar memahami bunga, makanya aku memberikan bunga ini untukmu, seperti aku sedang belajar memahami kasih yang kamu berikan”.

Kamu selalu memberikan apa yang tidak pernah aku sukai, kamu juga sering mengatakan “kalau kamu tidak pernah belajar menyukai apa yang kamu tidak sukai, maka suatu saat kamu tidak akan pernah mengerti mengapa sesuatu itu tidak kamu sukai.”

Lalu beberapa tangkai anggrek itu, kamu ambil sebagian. Kamu lipat satu persatu, membentuk sebuah lingkaran kecil, lalu kamu kenakan dijari manisku. “betulkan ? sesuatu yang tidak kamu sukai, belum tentu itu tidak indah. Aku suka kamu memakai cincin anggrek ini.”

Sore itu, kita berada di himpitan besarnya pohon-pohon mahoni, yang dipinggiran batangnya tumbuh bunga-bunga anggrek, mungkin aku tidak pernah tahu bahwa itu bunga anggrek, jika saja kamu tidak mengatakannya.

Lalu kamu bilang, ;
“2,5 tahun kita sama-sama, berada diperahu yang sama, mencoba mendayung perahu kayu yang kita bangun untuk mencoba menyebarangi lautan, meski kita tahu bahwa itu sangat sulit, kadang-kadang perahu mengalami kebocoran di salah satu sudutnya, atau mungkin suatu saat perahu kecil yang kita buat, akan benar-benar tenggelam, karena kita tahu didalam perahu itu tidak akan pernah cukup menampung tiga orang sekaligus, badai pertama telah kita lalui, lalu kamu siap menghadapi badai berikutnya ?”

Aku diam, mencoba merenungi kata-katamu disetiap baitnya, “perahu yang kita buat, tidak akan pernah mampu menampung tiga orang sekaligus !”

Aku memandangi cincin anggrek yang kamu kenakan di jariku, lalu aku mulai bertanya ;
“inikah sebuah pembuktian dirimu adalah milikku ?”
“mungkin saja, saat ini aku benar-benar milikmu”

Aku diam…

Karena saat itu aku tahu, bahwa bunga anggrek yang kamu kenakan di jari manisku, adalah bunga terakhir untukku, aku juga diam, karena saat itu aku tahu, bahwa perahu yang kita bangun, sedang mengalami kebocoran, di salah satu sudutnya, dan saat itu aku tahu perahu kita akan benar-benar tenggelam, karena kamu memaksakan menampung tiga orang sekaligus, diperahu yang telah kita buat bersama.

Akhirnya, perahu kita karam juga…
Hanya saja yang tersisa, cincin bunga anggrek yang pernah kamu kenakan di jari manisku.

Bunga terakhir untukku…

21-July-2009
Boy Hidayat
“untuk cerita, batang-batang mahoni yang dihiasi bunga anggrek,disebuah sekolah”

Air Mata (Bunda mu) Naya.

Posted: 16 Juli 2009 in Uncategorized

Naya, Malaikat kecilku…
Dengarkan ini.

***
Kamu tahu Naya, apa yang paling berarti dalam hidupku, selama perjalanan hidup ini aku jalani?, banyak Naya, yang ingin aku ceritakan kepadamu, mungkin kamu belum bisa mendengarkannya. Tapi aku yakin, jika air mata Bundamu yang berbicara, kamu pasti paham apa yang ingin kuceritakan padamu Naya.

Dia, salah satu sahabatku, Vidya. Jauh sebelum kamu mengenal dia Naya. Aku sudah mengenalnya, mencoba memahami jalan pikirannya, menterjemahkan kehidupannya yang saat itu nyaris tak pernah tersentuh olehku Naya. Ingat Naya, tak pernah tersentuh…

Sampai hari bahagia itu datang menghampirinya, saat itu aku tahu, bahwa kamu adalah perempuan yang paling beruntung yang aku kenal, mempunyai kehidupan yang hampir sempurna, Vidya menikah Naya.

Kamu juga malaikat yang paling beruntung Naya, mempunyai Bunda yang air matanya tidak pernah bisa tergantikan olehku, dengan apapun Naya. Aku ingat saat itu, kami sama-sama berjuang untuk “meraih hidup yang lebih baik”.

Aku menjadi sejarah perjuangan Bundamu, Naya.

Sebuah pesan masuk, didalam ponselku ;
“Vidya sidang hari ini..”

Tanpa pikir panjang saat itu Naya, aku langsung turun dari sebuah kereta yang ingin mengantarku pulang, berlari dan berharap agar Vidya belum selesai mengadakan perhelatan “perjuangan sidang” untuk dirinya.

“Bagaimana Vidya ?”
“Dia Masih didalam”

Aku tak habis pikir Naya, Vidya saat itu sedang mengandung dirimu, dan harus menghadapi perjuangan yang sangat berat. Aku jadi teringat, Ibuku, mungkin ini adalah salah satu perjuangan kecil yang akan dihadapi semua ibu, meskipun dengan cerita yang berbeda.

Kamu tahu Naya, Vidya saat itu adalah perempuan yang paling tegar yang pernah aku lihat.

Beberapa saat aku melihat vidya, keluar dari “ruang Neraka” itu.

“Bagaimana Vid ?”
“Aduh aku gak tahu, semua yang dipersiapkan tiba-tiba hilang, aku seperti buta”
“Kamu pasti lulus Vid”

Kamu tahu Naya, akhirnya Vidya mengakhiri masa studynya dengan sangat menggembirakan Naya, lebih menggembirakan lagi ketika dia menanti dirimu hadir ke dunia Naya. Itu adalah hadiah terbesar yang pernah dia miliki.

“Kamu kapan sidang”
“Lebih baik tidak usah datang saat aku sidang Vid”

Kamu tahu Naya, 18 Desember 2009 adalah hari yang sangat berarti buatku, bukan sebab saat itu aku mengalami kegoncangan dalam hidup, dan itu bukanlah satu-satunya kegoncangan hidup yang aku alami Naya. Saat itu aku melihat sebuah ketulusan Naya,.. ketulusan yang dimiliki oleh Bundamu Naya, sebagai seorang sahabat yang berarti.

“Gimana ?”
“Sidangku di undur menjadi tanggal 30 desember.hari ini aku gagal.”

Kamu tahu Naya, saat itu aku tegar, sangat tegar sebagai seorang laki-laki. Aku menjalani apa yang sanggup aku jalani, dan meninggalkan yang tidak akan pernah sanggup aku jalani, kamu tahu Naya, saat itu aku hampir tidak sanggup menjalani.

Vidya menangis Naya, Perempuan yang amat kamu cintai itu menangis dihadapanku Naya. Saat itu, aku benar-benar tidak mengerti, mengapa dia menangis Naya.

“Bukan ini yang aku harapkan”
“Sudahlah vid, aku baik-baik saja”
“Aku ingin kita menyelesaikan ini sama-sama, kamu janji kalau kamu sanggup ?”
Kamu tahu Naya, air mata Bundamu yang mengaliri seluruh tubuhku menjadi doa Naya, kamu tahu Naya, air mata bundamu juga yang menguatkan kaki ini terus melangkah Naya, sendiri, dan terus sendiri Naya, mencoba membalas air mata itu Naya, meski aku tahu sampai mati pun aku tidak akan pernah bisa membalasnya Naya.

Air mata bundamu, menjadi doa dalam penggalan cerita hidupku Naya.
Yang tidak pernah bisa terbalaskan.

Naya, sekarang kamu bidadari mungil yang sangat bahagia, mempunyai bunda layaknya malaikat. Kelak jika kamu besar nanti, dan mulai bisa membaca cerita ini, serta memahami cerita hidupmu Naya, aku mohon.
“berdoalah untuk Bundamu dengan air mata Naya di seperempat malam, untuk membalas semua kebaikan Bundamu yang tidak pernah terbalas, berdoalah dengan air mata Naya, hanya untuk bundamu, lalu titipkanlah doa dariku Naya, untuk Bundamu, Semoga bahagia mengiringi perjalanan hidupnya, Naya”

16-July-2009
Boy Hidayat
“Untuk sahabat ; Untuk air mata Vidya, yang tak pernah bisa terbalas Naya”

Tiba-tiba aku ingat dia, Vara. Perempuan yang belakangan ini sering aku telpon setiap paginya, hanya ingin membicarakan; “Hey, bagaimana skripsimu ?” tiba-tiba saja dia mengirimkan pesan untukku,:”Aku sudah lulus, terima kasih dukungan dan doanya ya”.

Vara, perempuan yang tak pernah aku sadari, aku menariknya kedalam rongga kehidupanku, sebagai seorang sahabat yang begitu berarti. Entah sejak kapan aku mengenalnya, aku tidak tahu. Tapi yang aku ingat, ada janji kecil yang pernah kusebutkan, jauh sebelum aku mengenal dirinya ;

Siang itu dikantin Fakultas sastra.

“Jangan terlalu dalam melihatnya”

Aku heran, “kenapa ?”

“Sebab dia tidak mudah diraih”

Sebab dia tidak mudah diraih, itu yang aku ingat, pesan dari sahabatku, beberapa tahun, jauh sebelum aku mengenal kamu, Vara.

Dan entah, apakah takdir yang menyapa, atau memang lingkungan yang terlalu akrab dengan kita, 3 tahun kemudian, aku melihatmu. Tepat melihatmu didepan mataku, itu sebab kamu masuk di ruang yang sama.

Ada yang berbisik dalam hatiku, pikiranku,
“Hey, itu.. dia..”

Sejak itu aku tahu, kamu sangat dekat denganku, dan entah siapa yang memulai, dan bagaimana caranya, kita memulai “ritual” menelpon kamu tiap paginya.

Aku jadi ingat dia, Vara. Perempuan yang memberikan begitu banyak pelajaran tentang “diam” yang berarti untukku, aku pernah terjatuh, dan sangat terjatuh. Begitu bangkit mulai menghampiri, aku bertanya padanya, Vara.

“Kamu tahu kalau aku pernah jatuh ?”
“Tahu, lalu kenapa ?”
“Ah engga, aku pikir kamu gak tahu, kalau saat itu aku gagal”
“aku, Cuma ingin diam sejenak, memberikan waktu kepadamu, untuk berfikir. Lalu mulai bangkit kembali, untuk berusaha tahu, bahwa kamu mampu berjalan dengan kaki mu sendiri, sebab aku yakin kamu pasti mampu”

Aku juga ingat, bahwa kamu yang begitu banyak mengajarkan “diam”. Diam dalam sakit, diam dalam pedih, dan juga diam waktu kita pernah merasa bahagia, kamu selalu bilang, “kita hanya bisa menikmati apa yang kita rasakan itu, hanya sendiri. Dan kesendirian itu bisa kita rasakan Cuma dengan diam, memikirkannya..betul kan ?”

Vara, kamu hanyalah diam yang tak pernah sepi, dalam hidupku, dalam jalanku, dalam malamku, dalam hatiku.
Vara kamu hanyalah diam, yang tak pernah sepi, yang sampai hari ini tidak pernah aku mengerti.
Vara kamu hanyalah diam, yang tak pernah sepi…
Sahabat…

Boy Hidayat
13-July-2009
Untuk Vara, Diam yang tak pernah sepi.