Arsip untuk Mei, 2009

CINTA = PERHITUNGAN MATEMATIKA + PERASAAN = …
(Sebuah prespektif logika..)

Cinta, kamu pernah mendengar kata ini ? mungkin bukan Cuma sekedar mendengar, namun ikut merasakan perasaan ini. Perasaan yang sulit sekali untuk dijelaskan, bagaimana rasanya ? Indah ? sakit ? atau hampa ? semuanya sama. Kita sama-sama bisa merasakan perasaan itu semua.

Tapi yang jelas perasaan tersebut cukup membuat kita bergetar, bahkan bergetar hebat. Jauh seperti yang kita pikirkan.

Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak pernah merasakan manisnya perasaan tersebut ? hampakah mereka ? mungkin saja mereka bukan tidak pernah mau merasakan hebatnya perasaan tersebut, mungkin mereka bukan menjauhi perasaan yang bisa membuat semuanya begitu indah dilihat tersebut, tapi mereka hanya tidak pernah diberikan kesempatan untuk merasakan manisnya perasaan tersebut. Tidak pernah diberi kesempatan oleh orang yang dicintainya…

***
Siang itu aku kembali duduk bersama dia, mengulas seluruh ungkapan perasaan yang hadir diantara kita, yang mungkin saja tidak pernah diungkapkan. Sulit untuk diungkapkan karena tragisnya keadaan…

Dia : kenapa sulit sekali kita memiliki perasaan orang lain ?
Aku : maksudnya ?
Dia : lalu egoiskah kita jika kita harus memaksakan kehendak bahwa kita harus memiliki perasaan itu ?
Aku : pernahkah kita berfikir, bahwa kita sudah cukup egois untuk menyimpan perasaan, sendiri, menikmatinya, tidak pernah berbagi, sehingga tidak pernah diutarakan ?
Dia : cinta dalam hati…
Aku : menurut kamu ? egoiskah orang yang hanya mencintai dalam hati ?
Dia : Tidak… mungkin karena waktu yang belum bisa memberikan kesempatan.
Aku : bukan Cuma tidak pernah diberikan kesempatan, tapi juga begitu banyak perhitungan.
Dia : cinta harus dihitung ya ? seperti matematika ?
Aku : Bukan Cuma harus dihitung, tapi juga harus dipertimbangkan. pernah mencintai seseorang, yang bukan hak kita untuk mencintainya ?
Dia : Tak bisa memiliki ?
Aku : Persis
Dia : Pernah
Aku : Rasanya ?
Dia : Seperti perih yang menjalar ke urat nadi.lalu memecahkan seluruh kantung sel darah yang ada, sakit sekali.
Aku : Sebab itulah cinta harus dihitung, cinta bukanlah perasaan yang hadir tanpa alasan, cinta juga bukanlah pintu surga yang menjanjikan kebahagian melulu, cinta itu sebuah perjanjian diatas sebuah ikatan, jika perjanjian dibatalkan maka putuslah ikatan tersebut, lalu bagaimana menghitung perjanjian tersebut, dengan retensi waktu yang lama. Harus ada fasilitas kan ?
Dia : ya…
Aku : apa fasilitasnya ?
Dia : Aku tidak tahu.
Aku: fasilitasnya adalah hati kita, mampukah hati kita menampung beban perasaan cinta yang berat tersebut ? lalu menjadikannya ringan seketika, cinta juga bukanlah sekedar perasaan yang tidak bisa diperhitungkan, cinta adalah tanggung jawab. Tanggung jawab memperhitungkan sanggupkah kita membahagiakan orang yang kita cinta ? dengan apa ? bagaimana ? seperti apa ? semua ada caranya, meskipun setiap cara pasti berbeda, begitupun dengan hasil yang akan kita dapatkan.
Dia : Lalu dimana posisi sebuah ketulusan ?
Aku : ketulusan akan hadir, ketika semua sudah diperhitungkan. Menjadikannya mapan, untuk menopang cinta yang ada, hingga menjauhkan keruntuhan yang bukan Cuma sekedar gubuk yang dimiliki, tapi juga rumah yang indah. Ketulusan justru hadir ketika semua fasilitas dapat dilengkapi, untuk membahagiakan perasaan orang yang akan kita cintai. Dengan cara yang berbeda…
Dia : lalu bagaimana dengan cinta yang tidak dapat dimiliki ?
Aku : Cinta harus dimiliki, itu adalah pembuktian bahwa kita benar-benar menganggap serius perasaan cinta tersebut. Cinta tak harus memiliki hanyalah alasan orang-orang yang kalah dalam berperang dengan keadaan dan perasaan !
Dia : Egois ?
Aku : Bukan, hanya sebuah pembuktian.
Dia : Jika kita tidak mampu ??
Aku : Jangan pernah berharap mencintai dengan ketidakmapanan ! karena itu hanya ada didalam novel atau mimpi indah.
Dia : Seperti kamu.. ??
Aku : salah satu alasan mengapa sampai hari ini aku tidak pernah memaksakan perasaan ini, karna aku tahu, aku tidak dapat memberikan fasilitas yang layak untukmu…

Boy Hidayat
20-May-09
Jakarta

Ini adalah aturan hidup, yang sering kali kita lupakan, atau juga kita lewatkan. Ini adalah konsekwensi sebuah ucapan, yang terkadang kita tidak pernah sadar bahwa kita pernah mengucapkan, atau mungkin ini adalah hanya sebuah pemanis kata, untuk sekedar meluluhkan hatinya sementara.

 

Ungkapan itu bernama setia…

 

Cobalah kamu maknai dulu dari kata yang sederhana tersebut, lalu baru diucapkan. Kemudian pikirkanlah dalam-dalam rasuki diri, masihkah kita bisa mengatakan lalu mulai mengakui bahwa diri ini, mempunyai hati yang setia ? lalu ketika kata tersebut sudah diucapkan, tahukah kita akan seluruh resiko kata tersebut ?

 

Setia itu…

Perasaan yang mungkin akan datang ketika kita sudah mulai merasakan sakitnya dikhianati, atau perasaan yang datang saat dimana kita dilanda perasaan yang membunuh logika pikiran kita sehingga kata tersebut mudah diucapkan.

 

Kamu tahu, perasaan yang bernama setia tersebut sebenernya menyakitkan, selalu mempunyai konsekwensi dengan “menunggu”. Lalu jika kita mengetahui bahwa menunggu itu membosankan, layakkah kita mengatakan bahwa kita mempunyai perasaan bernama setia tersebut ?

 

Kamu tahu, setia menunggu mu adalah cara bagaimana aku sudah mulai memikirkan bahwa ternyata kamu lah yang terdalam, kamu tahu bahwa setia, adalah memegang janji untuk 10 tahun sendiri tanpamu atau tanpa siapa-siapa, adalah sebuah kesalahan pengucapan masa lalu, yang hingga hari ini sangat menyakitkan. Mempertahankan perasaan, lalu kita mengetahui, bahwa perasaan tersebut sudah tidak pernah bisa kamu miliki !

 

Mungkin penyesalan itu baru datang, ketika malam menghampiri, saat bayang-bayang masa lalu menghantui, saat hujan datang untuk menjemput mimpi-mimpi yang sebenarnya tidak akan pernah bisa dijemput. Antara aku dan kamu.

 

Masihkah setia ?

 

Berlari mengejar atau dikejar waktu, saat aku juga tidak pernah mengetahui kamu dimana…

Kamu tahu ?

Sebenarnya aku masih disini untuk setia…

Bersama lagu yang sama, bersama hujan yang sama…

Seperti 10 tahun yang lalu…

 

18-may-2009

Boy Hidayat

Jakarta

Stuck Opname Otak gue !

Posted: 14 Mei 2009 in Uncategorized

Udah hampir dua minggu, kerjaan dikantor gue tiba-tiba membludak banget. gue engga ngerti ! kok bisa tiba-tiba kerjaan yang gue handle jadi banyaaaak banget!

 

Ritme kerja gue tiba-tiba melaju dengan sangat cepat, dengan kapasitas yang amat terbatas ini. Kayaknya gue perlu refreshing, tapi mau refreshing kemanapun dengan keadaan kayak gini ga bakalan nyelesain masalah banget !

 

kenapa ??

Jawabannya cuma satu :

Rasanya gue mau ngulitin diri gue sendiri !!!!

KAAAAAAAAMMMMMMMMPPRRRRREEEEEEEETTTTTTT !!!!!!!!!!

Pernah kamu membaca hati yang terdalam ?.

 

Mungkin tidak, karna yang kamu tahu semua biasa saja. Biasa bagaimana aku melihat dirimu, semua dengan ketidak wajaran yang ku miliki, semua dengan ketidakwajaran bicara. Melihat atau mendengar, dengan ketidakwajaran.

 

Pernah kamu menanyakan hati yang terdalam ?

 

Jawabannya memang tidak pernah, karna jika kamu tanyakan pun aku sangat enggan mengatakan, bagaimana kamu bisa ada disana, bermain dengan ceria, lalu mulai menggelitik perasaan.

 

Jika semua yang kulakukan, hanya ingin kamu mencoba membaca, hanya ingin kamu mencoba menyimak ritme detakan jantung ini, saat kamu ada disisi, saat kamu melihat, atau bahkan saat aku tak sengaja menyentuh mu. Ini bukan cinta biasa.

 

Jika malam datang, aku tak pernah tahu, entah berapa ribu doa kulepas kepada Nya, demi mengharapkanmu, hanya mengharapkanmu… Ingat hanya mengharapkan, bukan mendapatkan. Jika disepertiga malam datang, entah berapa ribu mohon ku minta kepadaNya, jika aku mendapatkanmu, maka kamu yang terakhir.

 

Mendapatkanmu ? itu bukan hal yang biasa. Mungkin saja aku akan menghancurkan puzzle harapan yang selama ini aku bangun, menjadikan pyramid yang tinggi, lalu diatasnya hanya ada kamu, untuk ku gapai selama ini, kamu bukan cinta biasa.

 

Ingat bagaimana kamu menerobos ruang hatiku yang terdalam ?

 

Mungkin tidak akan pernah ingat, kamu menerobosnya bukan dengan yang biasa, kamu menerobosnya keras sekali, sesakan hati, tinggalkan pilu. Pilu karna ku tahu, tak akan pernah mungkin kamu ku miliki, bahkan dengan alasan apapun.

 

Sekarang alasan apalagi, yang membuatmu tidak ingat semuanya ?

Ketika aku mencoba mengharapkanmu, seseorang yang sederhana namun bukan dengan cinta yang sederhana.

 

Aku hanya ingin , kamu menemani ku, bukan untuk seribu tahun, karna kutahu itu tak akan pernah terjadi. Aku hanya ingin kamu menemani ku, sebentar saja. Lalu tulislah sekali saja, bahwa  ;

“aku ingin menggenggam tanganmu, karna ku tahu, mungkin ini yang terdalam untukmu”

 

Lalu pergilah, biarkan genggamanmu tinggal disana, ditempat yang terdalam.

 

 

11-may-2009

Untukmu, perempuan biasa yang terdalam.

Boy hidayat

Kenapa aku suka menulis ? jangan pernah bertanya, sebab aku juga tidak pernah tahu mengapa aku suka sekali menulis, memang tidak sebaik sastrawan besar, seperti kahlil gibran atau mungkin seperti AA. Navis sekalipun (yang memang beliau adalah guru menulis aku waktu SMA, saat masih di SMA INS KAYU TANAM SUMATRA BARAT).

 

 Aku suka menulis, seperti membawa kedalam alam sadar yang tak pernah tersentuh sedikitpun, meskipun hampir semua tulisan tersebut adalah sebuah kisah nyata.

 

 Aku suka menulis tentang diri kamu, dengan segala kesederhanaan yang kamu miliki, dengan segala tatapan yang kamu miliki, yang tidak pernah bisa aku miliki. Tapi jangan pernah menanyakan mengapa aku tidak pernah bisa memilikimu ? mengatakannya saja aku tidak mampu, lalu bagaimana memiliki mu ? aku suka menulis tentang dirimu, bermimpi saat kamu dekat denganku, berharap mungkin semua akan bisa lebih dekat. ada aku ada kamu. Tapi tidak semudah yang pernah kamu kira. menghampirimu, adalah atsmofer terbesar dalam hidupku, melihat matamu adalah gravitasi tertinggi yang pernah kurasakan, menarikku kedalam tatapannya. mencoba membaca pikirannya, lalu mulai menterjemahkannya, dan ketika kamu berkedip, maka lambat laun ada getar, dan entah bergetar dimana, sekujur tubuhku bergetar. aku takut sekali !

 

Jangan pernah bertanya mengapa aku suka sekali menulis, menulis tentang kamu yang entah beribu kosa kata untuk mencoba menguraikan tentang kamu. itu pun tak pernah mampu untuk memahami dirimu. lalu bagaimana lagi aku bisa memahami mu ?

seperti yang kamu utarakan !, “Pahamilah aku hanya dengan hatimu, maka kamu bisa menterjemahkan maksud ku, bahkan seluruh “Maksudku” !! ”

 

Memahami mu, seperti menerobos jaring laba-laba yang halus, tidak mungkin aku merusaknya, tapi tidak mungkin aku tidak menerobosnya. kamu terlalu lembut ! itu salah satu hal yang paling aku takutkan, takut menyakitimu, bukan ! menyinggung hatimu pun aku tidak pernah berani, apalagi menyakitimu. filosofi menulis tentang kamu, mencoba memahami bahwa, esok masih ada cerita yang akan kita bina bersama, filosofi menulis tentang kamu, adalah mencoba menitipkan sebentuk hati ini, kemudian meletakannya bersanding bersama hatimu.

 

walau aku tahu ini sulit untuk kita berdua. Sulit untuk memahami, apa yang akan terjadi diantara kita, sulit memahami bahwa berulang kali, kamu mengatakan, ; “mungkin kamu yang terbaik, tapi tak selamanya tanganmu menggengamku kan ?

 

” sejak hari itu, aku “terjatuh” !

Aku benar-benar terjatuh. Mencoba memahamimu, membaca pikiranmu, lalu menuliskannya lagi sebagai sebuah filosofi, bahwa kamu adalah perempuan yang sulit dipahami. meyakinkan bahwa kamu memang yang terbaik untuk hidup ini, lalu mencoba menuliskan jawaban kepada hatimu, bahwa “inilah aku, laki-laki yang mencoba menjadi yang terbaik dalam hidupmu”

 

“terjemahkan perasaanku, hanya dengan hatimu, lalu menulislah !”

 

Filosofi menulis tentang kamu, adalah bagaimana hati ini terus bertahan mencoba membuka pintu hatimu, sekali saja, lalu aku mencoba menuliskan maksudku didalamnya. menterjemahkan apa yang kamu mau, memahami apa yang kamu pikirkan, lalu mencoba merangkainya sebagai sebuah bunga addellewis yang indah, yang suatu saat akan kuberikan kepadamu. kepadamu, perempuan yang sedang ingin kupahami.

 

filosofi menulis tentang kamu, adalah pembuktian, bahwa aku masih bertahan “kamulah yang terbaik” filosofi menulis tentang kamu… untuk “kamu” yang ingin kutitipkan hati ini, sekali saja 03-May-2009 Boy hidayat

Udah lama banget gue ngga nge blog !..

alasannya ;
1. kerjaan dikantor banyak banget
2. Facebook, mengalihkan semuanya ; jadi ceritanya gue sering banget buat cerpen di facebook.
3.dikantor gue engga bisa buka internet (dasar katro)
4. gue seperti kehilangan inspirasi buat menulis, pengalaman-pengalaman lucu
5.Ridho irama mengalihkan semuanya,.. (oke yang ini engga deng)

pokoknya, sejak gue lulus kuliah, bareng sama orang-orang gila itu. sekarang aktivitas gue cuma satu. kerja-kerja doang. idup gue datar, pulang kerja, gue langsung pulang. Yang biasanya gue mesti kekampus dulu, kongkow-kongkow, cerita-cerita, tuker pengalaman sama temen-temen. sekarang udah ga ada lagi.

Pokoknya gue ngerasa, idup gue engga naik-turun lagi, gak ada susah-senang yang keliatan, semuanya datar aja.

Di facebook ; ceritanya gue suka nulis-nulis cerpen gitu, engga tau dateng dari mana inspirasi nulis cerpen. tiba-tiba gue bisa nulis, waktu menulis cerpen selalu ngedengerin lagu-lagu lama. apa aja, pokoknya lagu lama. engga tau kenapa, insting gue menulis waktu mendengarkan lagu itu, tiba-tiba aja melaju dengan pesat ! seperti ada dorongan yang gue juga engga pernah ngerti.

Kemarin, gue dateng ke pesta pernikahan temen gue D3 MID FIB UI ! pinan , gue engga nyangka dia bakalan married, sama pacarnya yang gue engga tau udah berapa abad mereka pacaran. Buat gue itu fantastis banget, pinan menikahi pacarnya. gue engga pernah tau kenapa, gue selalu suka dengan cerita-cerita orang yang pacaran udah lamaaaaaaaa bangeet, trus hubungan mereka berakhir dengan tragis di pelaminan,.. hehe ! gue suka banget. mudah-mudahan gue bisa kayak gitu entar, pacaran lama, langsung rumah tangga yang bakalan sampe mati entar !

Gue, masih stuck bakalan nulis apaan ? mudah-mudahan besok-besok ada cerita yang seru, misalnya gue di cium luna maya gitu.. !