Gue yang udah mulai keranjingan menulis cerpen & cerpen yang baru di tulis

Posted: 17 Februari 2009 in Uncategorized

Kayaknya gue udah mulai keranjingan nih menulis cerpen, ya mudh-mudahan iini bisa jadi awal yang baik buat gue menulis, tapi, gue ngerasa kenapa cerita sedinh mulu ?? sebenernya emang gue sengaja, karena gue selalu mengelompokan tulisan gue seperti puisi, cerpen atau nulis di blog.

Pertama ; Puisi ; tulisan ini sebenernya catatan kecil kehidupan gue yang gue alamin, bisa gue share dimana aja gue mau, di blog, FS, or face book,. Trus Cerpen : gue juga sebenernya bisa nulis dan nampilin ini dimana gue suka, termasuk di blog ini. Blog : kalo nulis di blog itu emang gue khususin untuk gue menulis ap aja yang gue alamin, apa aja yang ada dipikiran gue apa aja yang mau gue tulis, dengan seada-adanya dengan se jujur-jujurnya, gak pake kiasan atau apapun, termasuk pengalaman gila.

Trus Kalo cerpen ; sebenernya cerpen ini gue buat sesuai dengan kehidupan yang gue alamin juga, dari sisi lebih romantis, dari sisi lebih, sensitif, dari sisi bahwa gue sebagai seorang laki-laki juga pernah mengalami kisah yang gak selalu buat gue ketawa, gak selalu buat gue senang, bahkan lebih kepada pelajaran hidup yang gue dapetin, tapi cerita hidup itu, gue tulisan dengan bahasa yang lebih abstrak, dengan bahasa yang lebih simbolis, gak jor-joran seperti pengalaman gue yang konyol seperti yang ada di blog.

Tadi dikantor gue menulis cerpen lagi ; dan gue minta tolong kasih comment ya, dan gue pasti ngoment balik ke blog yang udah ngasih koment ke blog gue selama aksesnya gamang, kalo jaringannya lagi kucrut ya maafin gue ; ada cerpen satu lagi nih ; tlong comment ya

****

Boy Hidayat

Cerita laki-laki untuk laki-laki

 

Kalau saja aku boleh meminjam catatan langit kepada malam, aku ingin menuliskan, tangisan yang tak pernah terlihat, goresan hati yang semakin lama, semakin dalam, lalu membuat luka tersebut tak pernah bisa disembuhkan.

 

Mengapa laki-laki tidak boleh menangis? mengapa laki-laki tidak diperkenankan mengeluh, mengaduh, jika terjatuh, lalu mengapa laki-laki harus bisa menyelesaikan masalahnya tanpa diwajibkan berbagi oleh orang lain? harus setangguh itukah laki-laki ?

 

Lalu bagaimana jika kita sudah tua nanti ? ketika yang kita sayangi mulai berlahan-lahan jauh dari sisi, bagaimana jika tua nanti, kita tidak berhak untuk bernyanyi kembali, ketika tua nanti, kita harus menuruti apa yang dikehendaki orang lain meskipun itu darah daging kita sendiri, tanpa memberikan kesempatan kepada kita yang sudah mulai ringkih untuk berpendapat ?

 

Lalu adakah tempat untuk laki-laki menangis, mengadu, berbagi resah? tapi kepada siapa? Mungkin kepada malam, ketika kita, laki-laki duduk sendiri dibawah gemerlapnya bintang, ditemani hanya dengan sebatang rokok, nyanyian binatang malam, yang saling bersautan, entah mereka menyanyi atau menangis, mendengarkan kita berkeluh kesah kepada malam ?

 

Kita mulai menuliskan satu persatu, untaian keluh kesah, kita mulai menyanyikan lagu-lagu sedih yang tak boleh kita nyanyikan jika hari masih siang. Agar mereka tak pernah tahu, mengapa kita begitu rapuh. Kita rapuh jika kita sedang sendiri bukan ? memikirkan beban yang makin sarat dengan kesusahan lalu mewajibkan kita untuk tetap bertahan dihadang ombak, di hempas badai. Lalu memaksa kita untuk mengerti hitam dan merahnya jalan ini, sebagai bentuk perjuangan.

 

Kalau saja aku boleh menitipkan keluh kesah kepada ombak lalu dibawa pergi jauh ke tengah samudra sana, maka akan aku ceritakan, bagaimana laki-laki yang sangat biasa ini, dengan cinta yang biasa, menjalani hari-walau tahu tak pernah ada cinta yang mendampingi. Walau tahu, tak pernah ada seseorang yang mengerti.

 

Aku jadi teringat, laki-laki yang paling tangguh yang pernah ku kenal, atau setidaknya yang pernah aku tahu, Papa.

Pernah suatu hari aku melihatnya dalam diam, dengan sembunyi-sembunyi, ketika beliau sedang duduk membaca Koran, diteras rumahku. 

Guratan wajahnya sebagai gambaran, bagaimana ombak kehidupan, memaksanya untuk berenang lebih cepat, begitu terlihat bekas tangan yang kuat itu, dipenuhi dengan otot-otot yang tangguh, yang mungkin digunakan untuk menuntunku jika aku mulai kehilangan arah.

 

Beliau menatapku, seakan telah membaca, bahwa anak laki-lakinya sedang memperhatikannya dari tadi, lalu beliau berkata ;

 

“ Kita laki-laki kan nak ?”

“Iya pa,”

“simpan semua pertanyaan dalam hatimu itu, sampai suatu hari nanti kamu akan tahu jawabannya”

 

Aku tidak mengerti mengapa papa bicara seperti itu, lalu beliau kembali melanjutkan ;

 

“Kita laki-laki, dan kelak akan sendiri, menyelesaikan segala sesuatunya sendiri, tidak mengeluh, dan juga tidak mengaduh, bahkan bersama orang yang paling kita cintai nak, kita laki-laki, kelak akan berjalan sendiri, mungkin ditengah badai, atau guyuran hujan deras, dingin memang, tapi jangan pernah mengharapkan kehangatan, karena kita tidak akan pernah mendapatkan kehangatan yang abadi itu nak, kita hanya di tuntut untuk menghangatkan orang lain, di tuntut ada saat mereka sedih, lalu dipaksa menghilang saat mereka sedang bersenang-senang, itulah tugas kita. Bukan kita tidak boleh mengeluh, tapi justru waktu yang tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk mengeluh, sehingga kita hanya mendengarkan keluhan yang lain, lalu kemana kita akan mengeluh nak ?”

 

Aku diam, tidak bisa menjawab, diam seribu bahasa. Lalu papa melanjutkannya ;

 

“Kita hanya diperkenankan mengeluh kepada malam nak, mengeluh kepada bintang. Disaat mereka terlelap dengan mimpi-mimpi indah, dan mungkin kita tidak pernah ada dalam mimpi-mimpi indah itu, kita justru terbangun, bicara pada malam, dengarkan nyanyian binatang yang bersautan, itulah laki-laki nak, kelak kita akan sendiri, mungkin saat itu, juga tidak ada aku, dan juga tidak ada kamu, dan suatu saat nanti, kamu harus siap untuk tidak ada siapa-siapa saat kamu mengeluh, maka mengeluh lah pada malam, biarkan dia mendengarkan keluhan kita, laki-laki yang diwajibkan harus tegar pada setiap saatnya.”  

 

Aku semakin mengerti, mengapa laki-laki tidak boleh menangis, dan mungkin hanya malam yang mampu mendengarkan laki-laki untuk terus mengeluh bahkan mungkin harus menangis.

 

 

Cerita laki-laki untuk laki-laki

17-february-2009

*********

Ah, gimana menurut lo ? gak pantes ya gue nulis yang serius-serius ?? kayak orang bener aja. heheheh

cerpennya juga lagi di koreksi sama temen gue, kali aja bisa masuk ke salah satu majalah, ya mentok-mentok majalah trubus kali, atau majalah misteri. hahahaa

Iklan
Komentar
  1. bayusaja berkata:

    pertamaaaax…
    wah..bntar lg jd pnulis bgian tulisan2 serius nh…haha
    tp mantep bang.
    YM an bang, kalo ada : chiebieditcibit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s