Ngutang tulisan di blog dan Gue dimarahin Bayu ! dua buah cerpen yang gue buat

Posted: 16 Februari 2009 in Uncategorized

Gue di protes bayu, salah satu sahabat blogger gue yang ada di Padang sana, gara-gara gue nulis, tapi tulisan nya malahan gue masukin ke facebook, hahaha … gue jadi sadar, ternyata gue salah ya. seakan-akan ggue mengkhianati blog gue sendiri, tenang aja, buat gue blog masih nomor satu dihati…kayak sandra dewi,. hehehheh.

Gue lagi belajar nulis cerpen, dan gue menikmatinya, kalo boleh jujur, ini adalah cerpen pertama gue, sebenernya cerpen ini adalah kisah nyata gue, gak dilebih-lebihinuntuk konteks isi, tapi untuk gaya bahasa, gue sedikit romantis,.. oke,..oke sangat romantis dan terlalu romantis hahaha, gue ternyata bisa juga, sok jadi pujangga, biasanya lebih pantes jadi tukang bajigur. Gue sendiri mau share salah dua tulisan yang udah gue buat. bagi yang mau baca, harap sediakan kantong plastik disamping tempat duduk anda, ada kemungkinan bakalan muntah setelah baca tulisan gue,.. hahahah, gue sih cuma mau commentnya, baik buruknya gue terima, tolong ya comment untuk tahap belajar gue selanjutnya.

Buat bayu,.. nih gue taro sekalian dua ; jangan lo ludahin ya,..heheeh

***

TULISAN 1

Misteri kupu-kupu mungil

 

Sore ini, aku duduk sendiri. memikirkan banyak hal yang terlintas dibenakku, salah satunya dia, dia yang pernah ada dalam hidup, merangkai bersama rajutan mimpi yang tak terbeli lalu hilang disapu badai ringan. sebentar saja aku sudah bisa mengingat apa yang seharusnya terjadi saat itu, percakapan itu.

 

telphon genggamku berbuyi. lalu suara indah itu mulai menghujam jantungku

 

Dia : Kakak apa kabar

Aku : baik, kamu apa kabar ?

Dia : Baik, hanya sedikit flu ringan

Aku : Pasti kecapen, makanya tidurnya jangan malam-malam. makan yang bener, jangan kecapen.

 

Sejenak dalam heningku saat itu, aku mulai menghitung, entah berapa ribu kali aku menyampaikan pesan itu kepadanya, mungkin telah beratus-ratus ribu, sejak pertama kali aku mulai mencintainya, sampai hari ini, saat dia tidak pernah bisa aku miliki kembali. 

 

Dia : Kakak, aku mau minta izin, seseorang telah melamar ku lalu aku…

sejenak hening sebentar, lalu dia kembali melanjutkan

Dia: aku telah menerimanya,

Aku : memang seharusnya begitu, kamu menerimanya. tanpa ada paksaan, tanpa ada beban.

Dia : tapi aku memikirkan kakak.

Aku : kenapa ?

Dia : aku telah mengkhianati janji itu, dan sekarang aku mendahului kakak

Aku : tidak pernah ada yang merasa tersakiti disini. cerita kita cerita lalu, meski kadang masih terbesit, sebuah janji yang harus aku tuntaskan.

Dia : sudahi janji itu kak, cari penggantiku, apakah selama ini kakak tidak pernah mencintai orang lain ?

 

aku diam, seribu slide masa lalu kembali berputar di otak ini, kemudan berlahan bergerak, menemukan album-album masa lalu, dengan cerita-ceritanya. menangis, jatuh cinta, tertawa, semangatnya, lalu,.. JATUH CINTA KEMBALI… aaah terlalu sulit rasanya. bukan untuk menciptakan rasa yang sudah ada, tapi terlalu sulit mengungkapkan rasa tersebut. Aku jadi teringat.. aku pernah jatuh cinta, aku pernah menyimpan seseorang dalam mimpi lalu ku puja dengan seribu bahasa… tapi itu akan hilang seketika ketika aku berhadapan dengan dirinya, aku gagu.. aku tuli.. aku diam seribu bahasa. MENGENASKAN ! pernah aku dengar seorang teman mengatakan, “Laki-laki yang paling bodoh adalah laki-laki yang tidak pernah bisa mengungkapkan perasaan kepada wanita yang dicintainya” teringat diriku, lalu aku ??

 

Aku tidak pernah bisa mengungkapkan rasa kepadanya, aku tidak pernah memberikan bunga untuknya, aku tidak pernah…

namun aku pernah membuat sebuah puisi untuknya, menceritakan dirinya yang ada dalam relung hati ini, dengan kata-kata yang abstrak. dengan kata-kata yang… ahh susah untuk dipahami. susah untuk di selami. bahkan susah untuk dimengerti, aku semakin merasa akulah laki-laki yang paling bodoh itu !!!.

 

Sebuah puisi berjudul “Kupu-kupu mungil”.

 

sebuah puisi berjudul kupu-kupu mungil, tercipta untuknya, dihadapan meja kantor, didepan sebuah komputer, dan terlalu banyak waktu yang terpakai untuk membuat puisi se-singkat itu. masih ingat saat itu tanggal 5 januari-2007, beberapa hari sebelum aku ulang tahun. aku menciptakan sebuah puisi yang paling fantastis menurutku, paling aku banggakan, dan menurutku, saat itulah aku menjadi romantis seketika. Aku ingat  bait dalam puisi yang ku buat ;

 

Aku ingin melihatmu menari,

Seperti kupu-kupu mungil yang mengitari bunga matahari

 Aku ingin mendengarmu bernyanyi

Seperti dawai-dawai biola menyanyi

Seperti… Aku ingin melihat senyummu Sekali…

Agar aku bisa memahami Kupu-kupu mungil yang sedang menari…

 

 

Tulisan inilah, yang membuatku merasa inilah tulisanku yang paling jujur.

 

hari ini, dua tahun kemudian, aku berdiri di sebuah pusara indah, disebuah pusara yang terakhir kali aku melihatnya untuk selamanya. aku tak pernah kuasa…

mana ada pusara yang indah? pusara adalah kuburan, tempat terakhir kita berteduh selamanya. hanya menunggu waktu. dan hari ini aku ada di depanmu.. tempat dimana terakhir kali aku genggam tanganmu.

 

tempat terakhir kali dimana aku mengatakan bahwa aku mencintaimu, bahwa aku telah lama memendam dirimu, menyimpan mu diam-diam dalam mimpiku. maafkan aku yang tidak pernah bisa mengungkapkannya, kepadamu.

Padahal aku tahu. kamu masih menunggu…

 

Aku tidak pernah bisa mengungkapkan perasaan ini,  karena sebuah janji. janji untuk tidak mengganti seseorang dalam hidupku, selama sepuluh tahun, ditengah perjalanan janji, kamu datang, coba mengetuk relung hati yang paling dalam. terlalu dalam. sampai akhirnya aku tak mampu mengungkapkan bahwa aku terlalu mencintaimu.

 

Aku terlambat, memiliki mu… padahal kamu pernah bilang, kalau kamu mencintai seseorang, segera katakan, karena mungkin suatu saat dia tidak bersama lagi, denganmu.

 

hari ini, aku bersama seseorang yang aku cintai, hari ini aku berdiri disini, dengan menangis dalam hati, bukan untuk menyesali, namun untuk merenungkan, mengapa aku bisa mencintaimu ? lalu mengapa tak pernah bisa mengatakannya kepadamu, hingga kamu berada disini tak pernah bisa bertemu lagi.

 

Selamat jalan kupu-kupu mungilku.

selamanya…

 

 

 

TULISAN 2

Laki-laki yang kalah

 

Malam itu, aku dan dia duduk bersama, dibawah ribuan bintang, dibawah pandangan bulan. Indah sekali, tapi tak seindah kejujuran hati yang telah kami sepakati. Malam itu aku mencoba menguatkan hati yang semakin bimbang akan kehadiran dirinya, malam itu aku mencoba menepis semua prasangka yang buruk, tetap positive thinking, tetap tenang. Ucapku dalam hati.

 

2,5 tahun kami lewati bersama, mencoba mengukir kenangan bersama, lalu menguntaikannya satu persatu dilembaran putih yang kami miliki, hanya berdua, dan tetap berdua. Sampai badai itu menerpa sebuah gubuk yang telah kami bangun bersama, dengan cinta, dengan senyuman bahkan sesekali dengan air mata. Gubuk itu nyaris rubuh bersamaan dengan cerita didalamnya. Mungkin akan rubuh karena dihantam dari dalam.

 

Dia : Kenapa kakak diam ? bukannya akan ada yang disampaikan kak ?

Aku : Iya, tapi aku takut menyinggung perasaan kamu, bahkan aku takut melukai hatimu.

Dia : Kenapa ? apa ada tindakan yang aku perbuat, lalu membuat kakak tersinggung ?

Aku : gak, tapi ada sebuah perasaan, perasaan yang terus mengganggu selama aku di Jakarta.

Dia : apa ? boleh tau ?

Aku : tapi kamu gak akan marah kan ?

Dia : Apa dulu, baru aku setuju gak akan marah.

Aku : beneran ?

Dia : iya, makanya cerita…

Aku: aku merasakan kehadiran seseorang dalam cerita kita, dalam perjalanan hubungan kita, aku merasakan dia datang dengan pelan-pelan tapi pasti, tidak mencoba merebut hati kamu, tapi tidak juga membiarkan kamu tetap di “pelukku”, aku merasakan semakin lama, dia semakin menghampiri kehidupan kita, menghampiri hati kamu, yang mungkin belum atau tidak mungkin aku jamah, aku merasakan dia memberikan kenyamanan yang lebih, yang tak pernah kita rasakan berdua, aku merasakan hak kasih sayang yang aku punya, telah direbut, bahkan sesekali, aku merasakan bahwa aku kehilangan kamu. Kalau memang boleh jujur, kakak ingin bertanya, adakah yang lain, selain kakak ?

Dia : Kakak apaan sih ? kenapa ngomong kayak gitu ? aku gak suka.

Aku : ada yang lain de ? bicara dengan kejujuran, bukan dengan cara menghibur aku.

 

Sejenak suasana hening, diam membisu, tatapannya tidak pernah berani melihatku lagi, yang ada hanya pandangan kosong, yang ada hanya sebuah kejujuran, dari perempuan yang sangat aku sayangi itu.

 

Aku : jujur, bicaralah…

Dia : Kakak janji gak akan marah ? janji tidak akan mengakhiri hubungan ini ?

Aku : Janji.

Dia : dia datang, saat kakak tidak hadir dalam hatiku, dia datang saat aku lengah menjaga kakak  dalam hatiku, bahkan terkadang dia berani datang pada malam-malam mimpiku, dia hadir membawa suasana yang tidak pernah kita rasakan bersama kak, sebuah suasana yang aku tidak pernah mengerti. Mengapa tak pernah kita dapatkan bersama.  

 

Aku melihat butiran airmata halus mengalir dari pipinya, baru kali ini aku merasakan bahwa dia benar-benar merasakan cinta yang begitu dalam, cinta yang terpendam untuk sementara waktu. Aku melihat tatapannya yang begitu teduh, aku mendengar bicaranya yang begitu lembut, yang tidak pernah aku dengar selama 2,5 tahun kebersamaan kita berdua. Aku merasakan getaran dihatinya, jantungnya yang berdegup kencang, lalu tangan yang menggenggam tanganku begitu erat, begitu kuat, dibalik kelembutan dan lentik jemarinya.

 

Sementara, jantungku bedegup kencang, nadi-nadiku serta merta keluar seakan–akan akan menembus kulit, hatiku kian panas, aku cemburu. Ada hal yang dia tidak pernah tahu, aku paling tidak suka jika segala sesuatu yang telah menjadi milikku direbut, dirampas, dihilangkan dari apa yang telah aku miliki selama ini.

 

Dengan wajah yang masih setenang tadi, menutupi emosi, aku membuka kembali pembicaraan itu ;

 

Aku : lalu, siapa dia de ? apakah aku kenal ? kalau memang aku tidak kenal maka kenalkan aku pada laki-laki yang bisa merebut hati seseorang yang aku sayang.

Dia : gak, aku takut kakak marah dan bertindak ceroboh.

Aku : gak akan, kakak tidak sebodoh itu, kakak tidak se egois itu.

 

Padahal dalam hati aku bicara, “jika ku tahu siapa yang merebutnya, akan ku cincang dia.

 

 

Dia : Kakak janji ? setelah aku katakan siapa dia, kakak gak akan mengakhiri hubungan ini ? kakak janji, setelah aku sebutkan siapa dia, kakak tidak akan bertindak ceroboh ? janji kak,..

 

Aku diam, diam seribu bahasa, entah karena emosi atau mungkin aku tidak tega untuk berkata tidak kepadanya, aku hanya diam, diam seribu bahasa

 

Dia : Kak janji kan ? kakak tadi sudah janji

Aku : iya, aku janji.

 

Aku selalu tidak pernah bisa melihat dia meminta sesuatu kepadaku dengan cara menangis. Aku lemah, selalu lemah jika melihat perempuan menangis, lalu sekarang seseorang yang ada dihadapanku adalah perempuan yang aku sayangi memohon untuk memaafkan dirinya atas tindakan yang ceroboh yang telah dia lakukan. Lalu aku ? diam ? tidak mungkin aku terlalu lemah melihatnya menangis.

 

Dia : Nofki kak, dia yang diam-diam hadir dalam mimpiku, dia yang melengkapi apa yang tidak pernah kita punya berdua, dia datang dengan segala keunikan yang dimilikinya, yang tidak pernah kita temukan bersama. Dia….

 

Aku hanya diam, tidak percaya, Nofki adalah sahabatnya, Nofki adalah seseorang yang telah aku percayai untuk menjaga dia, disaat aku tidak ada disisinya, Nofki adalah sahabat aku dan dia, Nofki adalah.. adik angkatku sendiri.

 

Seketika emosiku mendadak hilang, seketika tatapanku kosong, pikiranku melayang, aku tidak percaya apa yang telah dikatakannya tadi. Aku… Ahhh, aku pasrah.

 

Dia : Kakak jangan marah ya ? jangan mengakhiri hubungan ini, jangan marah sama nofki.

 

Aku masih diam, dan dia terus menangis, di kejauhan aku melihat Ustad, Pembina asrama kami, berdiri mematung, memperhatikan kami yang sedari tadi bicara berdua, sambil berpegangan erat, tapi aneh dia tidak marah seperti biasanya, atau mencoba menghampiri kami berdua.

 

Aku : Masuk asrama yuk de, sudah jam 10:30, nanti ustad marah

Dia : kakak marah ? kalau kakak marah aku pasrah, jika kakak ingin mengakhiri hubungan ini

Aku : gak, aku gak marah, aku juga tidak akan mengakhiri hubungan ini.

Dia : terima kasih kak, maafin aku ya.

 

Aku hanya diam. Mengantarkannya kedepan pintu asrama puteri, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa, tetap melanjutkan kebiasaanku selama ini, yaitu mengantarkannya sampai pintu asrama, melihat matanya, lalu mengelus kepala dan keningnya, sambil berpesan; “Jangan tidur malam-malam de, nanti kamu sakit, besok pagi kita harus sekolah,..”

 

Dia tersenyum, masih dengan air mata. Aku kembali ke asrama meninggalkannya, sejenak sebelumku beranjak ;

 

Dia : Kak, terima kasih ya

Aku : Untuk apa ?

Dia : untuk lebih mengerti  dari apa yang telah aku mau, untuk semua perhatian yang telah tercurah selama ini, untuk kesabaran kakak yang begitu besar, untuk cinta yang kakak miliki.

 

Aku diam, bukan karena bangga, tapi aku bingung harus menjawab apa, disaat hati ini sebenarnya sedang remuk, sedang hancur, sedang berantakan menjadi puing-puing yang berserakan dan sulit untuk mengumpulkannya kembali.

 

Aku berjalan menerobos malam, menembus dinginnya malam angina Sumatra saat itu, melewati ruang makan, ditengah gerimis yang mungkin sebentar lagi akan menjadi badai yang besar. Aku tetap berjalan dan tidak pernah berlari.

 

Ternyata Ustad masih menungguku, diam dan tetap berdiri ditempat yang tadi. Aku melewatinya ;

Ustad : Kamu merasa kalah nak ? ada kesedihan dimata anak ustad yang satu ini

Aku : gak tahu..

Ustad : kamu belum kalah nak, terkadang cinta sulit dimengerti. Terkadang hadir saat kita luka, tapi justru itulah sebuah keindahan cinta anakku, hadir ketika kita luka dan berusaha menyembuhkan kembali luka itu.

Aku : Saya kalah ustad.

Ustad : Tidak, kamu tidak kalah, kamulah yang menang karena masih mempertahankan cinta kalian disaat kamu sedang diterjang badai pengkhianatan.

Aku : ya mungkin ustad, mudah-mudahan…

Ustad : cinta itu indah nak, meskipun terkadang disaat kita luka.

 

Aku diam… lalu pamit..

Didalam hati, aku berkata, setidaknya aku adalah laki-laki yang kalah menjaga apa yang aku punya ustad, setidaknya aku adalah laki-laki yang kalah, menjaga perasaan perempuan yang aku sayangi. Hingga dia kini telah berpaling. Iya,… aku adalah laki-laki yang kalah…

 

Sejak saat itu badai mulai menghantam gubuk yang telah kita bangun, lalu mulai merobohkan pondasi-pondasi yang lemah itu….

 

 

 

Sebuah kisah nyata ditahun 2001, disebuah sekolah yang penuh kenangan  

Boy Hidayat 16-feb-2009

 

 

********************

Oke,..oke yang mau muntah silahkan di plastik yang anda sediakan masing-masing..hehehhehee, tolong comment ya. cerpen diatas sebenernya adalah kisah nyata gue juga, tapi dideskripsikan dengan tata bahasa yang sedikit lebih “SOK” ROMANTIS buat gue..hheheh eheh

Semua cerpen yang ada diatas adalah pengalaman pribadi gue juga, sama seperti pengalaman yang konyol-konyol itu.Jadi tolong comment ya,.. fakir comment kan gue.

Udah dulu ah… bay..

Iklan
Komentar
  1. mahdavi berkata:

    *salam kenal ya

    *Saya mengundang anda tuk bc Novel sy yg berjudul HEXVERSTOONE di blog saya, harap di follow juga ya, mohon dukungannya

    *Salam hormat

  2. bayusaja berkata:

    jiaaah..gue dikatain marah. kpn gue marah bang? hehe..ah jd g enak.
    cerpenya keren, gue kalo bc jd g bosen, jd pnsran klanjutanya apa..artinya tlisanya t berasa gue jd saksi bnren. hahaha..
    pkoknya mantep bang.
    eh, kadang2 gw manggil mas, abang, atau uda. haha..
    jd pgn nulis pake aku aku jg nh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s