Mampu menunggu ?

Posted: 28 Oktober 2008 in Uncategorized

Tiba-tiba gue kangen,  setelah gue sadar udah lama gue engga pernah bertemu dia, seseorang yang pernah mengisi hari-hari, tanpa harapan, tapi masih menanti sebuah jawaban. Jawaban yang gue harus jawab sendiri. Tiba-tiba gue kangen, di mana masa lembaran-lembaran puisi kecil tertulis saat mencoba berkenalan dengan seseorang yang di harapkan. Gue kangen masa-masa dimana harus menunggu dia pagi-pagi, untuk melihat dia berangkat ke sekolah. Gue kangen.

Berapa tahun yang lalu, gue pernah kenal dia, sebagai seorang yang harusnya gue harapkan. Tapi tetap engga bisa. Waktu mengejar kita berdua, mengejar sampai akhirnya gue letih dikejar.

Cinta tak terbalas, semua orang pernah mengalami ini, perasaan yang sulit untuk diterjemahkan, bahkan bisa membuat tak sadar air mata mulai jatuh ditengah perasaan yang kian menggebu-gebu, berusaha memiliki dirinya dengan segala kesempurnaa yang dia miliki, tapi tanpa sadar kita tidak cukup sempurna untuk memiliki dirinya, bahkan berharap sekecil apapun kita tidak mampu.

Metamorfose perasaan yang kian menjalar, semakin menghinggapi, dikeramaian mungkin hilang, tapi ketika sepi perasaan semula bisa datang kembali, lalu kadang kita menyesalinya. Hingga timbul pertanyaan yang sebenarnya semakin membuat sakit hati : “Kenapa Gue bisa mencintai lo ?”

Lalu tanpa sadar, kita menyesali rasa jatuh cinta tersebut, rasa yang seharusnya bisa kita ukir dengan indah, namun harus kita kikis dengan ganas. Lalu timbul, pertanyaan ; “Kenapa gue gak bisa memiliki elo ?”

Langit malam jadi teman bicara,  menuliskan semua cerita yang gue inget tiap fase, mencoba mengingat kembali, dan menuliskan kembali, mengingat lagi lalu menulis kembali, ternyata dia masih tersimpan rapih dalam dekapan yang tidak pernah bisa dipeluk. dalam harapan yang masih tertunda, dan dalam menanti sebuah jawaban yang tidak pernah terjawab.

Udah lama gue gak keluar dari perasaan nyaman, dan akhirnya gue merasakan ke tidaknyaman itu, ketidaknyamanan hati yang menunggu, ketidaknyamanan laki-laki tentang harapan. Ketidaknyamanan mengakui bahwa dia yang diharapkan masih berada dalam hati.

Gue menulis dan terus menulis, sampai capek menulis. lalu mulai menatap langit-langit malam, bicara pada bintang, gue sendirian, merenung. : Disinilah gue. ribuan kilometer dari jarak terpisah dengan seseorang yang diharapkan, masih berharap, masih mencoba mengulurkan tangan, lalu mencoba membawa terbang tinggi ke sebuah harapan hati yang harusnya tidak pernah menunggu.

Namun sampai hari ini, gue hanya mampu untuk menunggu…. 

Meski sadar kadang sakit hati membuat semua perasaan harus bisa dikalahkan. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s