Just ordinary poem

Posted: 28 Juli 2008 in Uncategorized

Dari dulu gue emang suka nulis, sebelum gue punya blog ini, gue selalu nyimpen tulisan – tulisan, yang terutama isinya cuma puisi doang, hari gue ngerasa gue kangen banget menulis puisi setelah 16 abad engga nulis-nulis puisi, mhehhee

Terlepas dari itu semua, setiap habis menulis puisi-puisi itu, gue selalu ketawa-ketawa sendiri, engga ngerti kenapa gue mesti ketawa, yang jelas, kalo habis gue nulis puisi terus ngebaca lagi tulisan itu sendiri, gue langsung ngomong; “Anjrit nulis apaan gue ??” kok bisa kayak gini ? gue nih ?? Anjrit gue eek di celana !!!” Mhehehehe engga deng.

Kayak hari ini, gue nulis dua puisi seperti ini ;

Aku hanya ingin pulang

 

Aku ingin pulang,

Pulang pada kerinduan

Kerinduan yang tak pernah nyata

Tersentuh,terlihat,terasa lalu hilang

 

Aku ingin pulang,

Karena letih menghinggapi hati

Bukan karena cinta yang tak punya

Tapi karena hati ini tak pernah tahu

Bagaimana bentuk cinta ?

 

Aku ingin pulang

Tak pernah kembali

Entah pada siapa atau kemana ?

Rumah ku, tapi dimana ?

 

Tersesat diantara sekat-sekat

Terikat diantara rumput-rumput liar

Berbaring diantara kesepian

Lalu lelap dalam mimpi

 

Aku ingin pulang,

Pada cinta yang tulus

Pada setiap hati yang menerima

Tanpa harus meminta

 

Tapi pada siapa ?

Pada angin tak berbentuk ?

Atau pada hujan yang terus menangis ?

Tak bisa lagi menipu diri dengan hangatnya cinta

 

Aku ingin pulang

Tapi tak pernah menemukan jalannya…

 

 

 

Boy Hidayat

Wisma mulia

28 july-2008

Puisi ini gue tulis pas gue lagi kesurupan,…

 

ada lagi satu puisi yang gue tulis hari ini juga, setelah bemeditasi dan bertapa memohon petunjuk  selama empat menit, akhirnya gue bisa menyelesaikan tulisan gue ini, kayak dibawah ini ;

 

Rumah bercat putih ternoda tinta hitam

 

Rumah bercat putih ternoda tinta hitam

Terletak untaian bunga melati layu diteras

Menorehkan luka dalam hati

Lukisankan kesedihan dilangit jingga

 

Kemanakah kasih sayang ?

Pergi tak pernah kembali, hinggapi sunyi-sunyi dinding hati

Hanya ada retak dibelahan cermin-cermin

Lalu hilang di sisi-sisi hati

 

Rumah bercat putih ternoda tinta hitam

Kini sunyi, belahan taman hijau tak ada lagi

Tiba saat malam, tak pernah ku lihat kerlipnya bintang

Bersama…

 

Satu yang telah pasti..

Tak ada lagi cerita cinta didalamnya

Tak pernah ada dawai biola kedamaian lagi…

Karena Cuma kenangan yang terkubur dalam-dalam

 

Rumah bercat putih ternoda tinta hitam

Kemanakah akan dibawa, rintihan hati ?

Tempat mengadupun tak ada lagi

Aku diam…

 

Entah menyembuhkan luka

Atau malah menggoreskan luka baru ?

Entah…

 

Hanya sepi yang pantas menemani

Berjalan menyusup urat nadi

Lalu mati tak pernah tinggal

 

Hujan itu turun kembali..

Lalu sayup-sayup ku dengar rintihan jiwa

Teriakan kemarahan

Sambil berlalu tinggalkan mimpi

 

Karena ku tahu

Tak pernah ada mimpi disana

Itu sebab aku tak menemukan

Dalam rumah bercat putih ternoda tinta hitam

 

                             Boy Hidayat

Wisma mulia,

28-july-2008

Mungin gue lagi kesurupan Jin yang engga tau jalan pulang !!??

Ya, gue bangga… gue bisa nulis pusi-puisi lagi, ternyata selain berbakat bermain gundu dan ngangkat jemuran tetangga gue juga berbakat menulis puisi.

Eniwei, gue bingung apa yang mau di tulis, tolong commentnya aja deh ya

see you 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s