Kisah laki tua di tengah pasar

12009vUTC08bUTCMon, 17 Aug 2009 05:21:14 +0000 04,2008 oleh boyhidayat

Ini duka tak terbendung
Ini luka tak terobati,..
Dalam sepi dalam sunyi.
Aku sendiri tak pernah di hargai

Dulu berlari mengangkat senjata
Demi merah putih.
Dulu meringis menahan sakit
Demi proklamasi

Lalu benteng-benteng pertahan diri
Semakin ter kikis dan rubuh.
Aku sunyi
Demi merah putih

Ini duka tak terbendung
Ini luka tak terobati
Jika terus masih di jajah-dan terus di jajah
Bukan tak cinta pada bangsa
Tapi badan sudah tak berdaya

“Apa kata dunia ?”
Jika negeri ini masih susah
Dulu makan pakai ubi di tengah hutan
Tapi sekarang malah tak dapat makan sama sekali

Bukan perang penyebabnya
Bukan tanah subur yang terjajah lagi
Hanya karna anak bangsa yang sudah tak perduli

Jika tubuh ini masih berdaya
Aku siap angkat senjata
Jika tubuh ini sudah tak keropos
Aku rela di garis terdepan

Mati lebih dulu
Daripada di jajah melulu…
Bukan untuk aku
Hanya untuk anak – cucu bangsaku

Ini duka tak terbendung
Ini luka tak terobati
Ketika merah putih bersih
Sudah tak di hormati

Dulu, lusuh pun kain itu
Kami bangga, kami hormat
Merah darah kami
Putih cinta kami
Dalam satu kesatuan

Kini hanya simbol
Yang tak pernah dihargai
Se-keji itukah zaman ?

Jika tahu seperti ini,
Mungkin aku memilih mati sebelum menikmati kemerdekaan
Mimpiku merdeka manis
Mimpiku merdeka sejahtera
Tapi maut malah makin mendekati

Ini luka yang tak terbendung
Ini luka yang tetap tak terobati….

Boy hidayat
16-agustus-2009
Kisah laki-laki tua bercerita, membuat malu diriku yang menderita

Plaaak…!!, ini sebuah tamparan untukmu.

52009vUTC08bUTCFri, 14 Aug 2009 11:41:23 +0000 04,2008 oleh boyhidayat

“Perlu sedikit “Tamparan”dihatinya agar dia mengetahui, bahwa kamu ada disisinya, mas.”

Sebuah catatan kecil, aku anggap sebagai pesan dari seorang sahabat yang berarti buatku, mungkin dia benar, atau mungkin juga dia salah. Aku tidak pernah tahu.
Sebuah “Tamparan” dihatinya, mungkin itu yang tidak pernah sanggup aku lakukan, membuatnya sadar bahwa selama ini aku ada disisinya, membuatnya sedikit berfikir, bahwa selama ini akulah tempat segala keluhannya tertumpah.

Sebuah “tugas” penting yang harus aku lakukan, sebenarnya aku juga tahu bahwa mungkin hal itu tidak akan pernah sanggup aku lakukan. Membuat “tamparan-tamparan” kecil dihatinya bertubi-tubi seperti tugas yang sangat berat untukku. Lagipula apa susahnya membuat hal-hal kecil yang sedikit menyadarkan dia, bahwa ingin sekali merebut hatinya ?

Kadang-kadang aku berfikir, apa yang harus dilakukan lagi untuk menunjukkan bahwa memang mengatakan sebuah perasaan itu tidak mudah bagiku, mengatakan kejujuran perasaan itu bagai mengangkat seonggok batu yang sangat berat. Aku Cuma terlalu takut, menerima sedikit kenyataan bahwa menikmati cinta yang bertepuk sebelah tangan itu, terlalu menyakitkan. Kejadian ini berulang – dan terus berulang.

Sampai saat fase ini mulai dijalani, aku bosan…
Bosan menunggu kamu bicara, bosan menunggu waktu yang tepat, bosan menunggu bahwa suatu hari nanti, kamu akan meletakkan hatimu berdampingan dengan hatiku, bukan untuk selamanya, tapi untuk saat ini saja.

Aku bahkan tidak pernah punya mimpi merebut hatimu, ber-angan terlalu jauh bahwa suatu saat kita akan menapaki jalan bersama, apalagi bergandengan tangan. Untuk sekedar “menampar” hatimu yang masih bisu saja belum aku lakukan.

Seharusnya, “Misi penting” ini bisa aku jalani dengan baik, sebagai seorang laki-laki pada umumnya, atau mungkin aku harus banyak belajar, kepada “bajingan-bajingan” tengik itu, belajar bagaimana merangkai kata-kata, menjadi sebuah kalimat yang indah, sampai akhirnya sebuah kata yang sangat singkat meluncur cepat dari mulutku, “aku suka padamu”.
Bodohnya aku. Lagi apa susahnya mengatakan tiga suku kata yang sangat singkat itu, meluncur dari bibirku, dan ketika sudah kamu dengarkan, aku pura-pura lupa bahwa aku pernah mengucapkan tiga suku kata itu, agar malu tak mulai menjalar diseluruh tubuhku, jika memang kamu tidak menginginkannya.

Ketika tigapuluh menit aku punya waktu yang panjang untukmu, aku masih saja tidak bisa merangkai kata, mulai besok aku harus kursus bagaimana mengatakan tiga suku kata itu ; hanya sekedar mengucapkan ; “Aku suka padamu”.
Arrgghh… lagi-lagi gugup menyerang, menyerbu hebat diriku, menembaki hati dan mengunci bibir ini.

Aku ditertawakan, oleh hati ini, oleh waktu yang terus berputar, atau oleh dirimu, yang sudah melihat gelagat bahwa ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Aku harus benci tentang semua ini, tentang bagaimana jujurnya perasaan kepadamu.

Baiklah, sekarang bagaimana aku harus mengatakannya kepadamu ? bagimana aku menemukan waktu yang tepat ? bahwa kamu benar-benar ingin mendengarkan tentang semua ini ? atau haruskah aku mengatakannya hanya lewat puisi-puisi ? tidak ! aku ingin belajar mengatakan tiga suku kata itu.

Mungkin benar, harusnya aku sudah mulai “Menampar” hatimu sejak dulu, bukan dalam waktu dekat dan singkat, tapi salahkah jika perasaan ini hadir baru-baru ini ?

Ini hanya permainan merangkai sebuah kata untuk bicara kepadamu, ini hanya sebuah pelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan ini hanya pelajaran menentukan waktu dalam sebuah angka-angka matematika, menemukan waktu yang tepat, menyusun bahasa yang singkat dan jelas, dengan sejelas-jelasnya, untuk menunjukkan bahwa aku ingin sekali kamu tahu perasaan ini.

Tapi lagi-lagi, aku diam, aku bisu, aku tidak berkutik didepanmu. Saat melihat matamu, melihat senyummu, dan membuat semuanya, lidahku gugup dan terus gugup tak bergerak. Tapi hati ini memaksa, “cepat katakan !”
Lagi-lagi bodohnya aku !!

Membuatmu sadar, bahwa aku selalu ada saat kamu butuh, membuatmu mengerti bahwa aku mengorbankan banyak waktu saat kamu ingin mencuri waktukku yang seharusnya bukan untukmu, itu bisa aku lakukan. Tapi membuatmu sadar ini semua untukmu, misi tersulit yang pernah aku jalani.

“Aku akan menjadi badut, agar membuatmu selalu tersenyum saat kamu sedih
Aku menggenggam tanganmu, saat dingin mulai menjalar, lalu menular penyakit untukmu,
Aku mampu berjalan, menjagamu disaat malam gelap.
Tapi aku belum mampu untuk mengatakan; aku senang padamu.”

Perlu berapa “tamparan”-kah yang akan kulayangkan dihatimu, agar kamu mulai tersadar aku menunggumu untuk waktu yang cukup lama dan membosankan. Perlu berapa “tamparan”-kah, yang akan ku layangkan dihatimu, agar kamu mulai terhentak dan membaca pikiranku.

Kamu tidak membutuhkan apa-apa, kamu hanya menunggu “bisu hati” ini, untuk bisa mengatakan sesuatu kepadamu, untuk bisa jujur padamu.

Plaaak !!, ini sebuah “tamparan” untukmu…
Agar kamu mengetahui sedikit saja, bahwa aku ada disisimu.
Plaaak !!, ini sebuah “tamparan” untukmu…
Agar kamu segera mengganti status kita, dari sahabat terbaik, menjadi yang “lebih baik…”

Plaaak !!, ini sebuah “tamparan” untukmu…!!
Masihkah kamu tidak mengerti ??

Boy Hidayat
13-Augustus-2009