<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>boyhidayat.website</title>
	<atom:link href="http://boyhidayat84.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://boyhidayat84.wordpress.com</link>
	<description>boy hidayat official website, Tempatnya cerita-cerita dan hal yang gak penting lainnya</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Oct 2009 12:09:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='boyhidayat84.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/66e0333645cd1f8230772abfd6d40c00?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>boyhidayat.website</title>
		<link>http://boyhidayat84.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>POTRET</title>
		<link>http://boyhidayat84.wordpress.com/2009/10/07/potret/</link>
		<comments>http://boyhidayat84.wordpress.com/2009/10/07/potret/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 12:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boyhidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://boyhidayat84.wordpress.com/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[“Ayolah, sudah setengah jam kita disini, kamu masih saja tidak beranjak, aku bosan dengan spot begini terus, bisa kita cari spot yang lain ?”. keluhmu
“Iya sebentar, gambar langit sorenya kita tunggu biar sedikit lebih gelap,”
Kamu tetap saja menggerutu, mengomeli diri sendiri, sementara aku masih saja asik memotret, siluet-siluet senja, burung-burung yang sengaja mampir di ranting-ranting [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=boyhidayat84.wordpress.com&blog=2931987&post=461&subd=boyhidayat84&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>“Ayolah, sudah setengah jam kita disini, kamu masih saja tidak beranjak, aku bosan dengan spot begini terus, bisa kita cari spot yang lain ?”. keluhmu</p>
<p>“Iya sebentar, gambar langit sorenya kita tunggu biar sedikit lebih gelap,”</p>
<p>Kamu tetap saja menggerutu, mengomeli diri sendiri, sementara aku masih saja asik memotret, siluet-siluet senja, burung-burung yang sengaja mampir di ranting-ranting kering diatas pohon sambil bernyanyi, meski aku tidak pernah tahu, mereka menyanyi atau menangis. Tapi aku benar-benar menikmatinya.</p>
<p>“Lagian, kenapa sih punya hobi memotret, trus kenapa kamu engga sekolah photography aja ?” “Ya gak tau, kenapa suka banget sama photography.”</p>
<p>“Tapi kalau hobi begini engga perlu ajak-ajak aku kan ? harus ikutin kamu keliling sana-sini, buat mencari spot yang bagus untuk kamu ambil.”</p>
<p>“Aku mengajakmu, supaya kalau aku bosan sama spot yang ada, kamu bisa aku foto.”</p>
<p>“Alah, palingan foto aku buat nakutin tikus di rumah, iya kan !”</p>
<p>“Ya enggalah, buat nakutin kucing lebih pantes.”</p>
<p>Tiba-tiba kamu memukul pelan pundakku, ada rasa menjalar disini, tapi dimana aku juga tidak tahu.</p>
<p>“Ayo kita cari spot-spot yang lain, mungkin ada yang lebih menarik dari ini.” Ujarku, sambil memotret dirimu, dilatari siluet senja yang mungkin enggan untuk turun di ujung langit-langit sana.</p>
<p>Kita mulai mencari tempat-tempat yang lain, berjalan berdua. Ada yang lain saat itu, kamu kalungkan tanganmu, dipergelangan tanganku. Tiba-tiba ada yang terhentak, dimana ? aku juga tidak tahu.</p>
<p>“Nanti kamu janji ya, kamu mengirimkan semua foto-foto aku.”</p>
<p>“Iya, nanti pasti aku kirimkan lewat mail, makanya kalau di foto jangan cemberut terus.”</p>
<p>Sekali lagi, kamu memukul pundakku, sambil menyandarkan kepalamu.</p>
<p>***</p>
<p>Sebuah café dipinggir danau.</p>
<p>“apa yang membuat kamu tertarik dengan photography ?”</p>
<p>Kamu memecahkan lamunanku, saat aku mulai menikmati lentik matamu, yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.</p>
<p>“Awalnya Cuma dokumentasi aja, habis itu merasa suka dengan dokumentasi-dokumentasi semasa aku SMA, yang aku kumpulkan. Aku tertarik dengan sebuah foto-foto saat itu, melihatnya, lalu mencoba membayangkan sedang apa yang kita lakukan saat proses pengambilan gambar tersebut, mengingatnya dan terus mengingat, lalu kadang-kadang tersenyum kecil, kalau-kalau ada kejadian yang lucu saat pengambilan gambar sebuah foto tersebut.”</p>
<p>“Hanya itu aja ?”</p>
<p>“Sejarah, pastinya. Aku selalu merasa setiap manusia pasti punya ceritanya masing-masing, setiap individu mempunyai kisah yang mungkin saja susah untuk dilupakan, lalu foto tersebut merekam semuanya. Sakit, pahit, manis, semua terekam dalam sebuah foto bukan ?”</p>
<p>“kenapa tidak di videokan saja, kita bisa menikmatinya lebih dari sebuah foto.”</p>
<p>“Foto, seperti mencoba menegurku, untuk tidak melupakan apa yang pernah terjadi dalam hidupku, dalam kisahku, juga dalam hatiku.”</p>
<p>“Dalam hatimu ?”</p>
<p>“hmm ,.. iya.. iya,.. persisnya seperti itu.”</p>
<p>“maksudnya ?”</p>
<p>Aku diam, lalu sesekali mengambil potret dirimu dengan mata yang lelah, tapi entah kenapa aku merasa kamu begitu lain malam itu.</p>
<p>“maksudnya ?, aku tidak mengerti.”</p>
<p>“banyak yang kamu tidak mengerti tentang kita, maksudku tentang aku.”</p>
<p>“makanya kasih tau dong, percuma aja aku selalu ada dekat denganmu.”</p>
<p>“nanti.. !”</p>
<p>“Aneh ya,..kita berdua.”</p>
<p>“Apa ?”aku kembali bertanya</p>
<p>“iya, kita aneh.”</p>
<p>“Maksudnya ?”</p>
<p>“kita bisa sama-sama terbuka, bisa sama-sama bicara, bahkan bisa sama-sama merasakan apa yang saling kita rasakan. Tapi diantara kita engga pernah ada yang bisa mengungkapkan apa maksudnya.”</p>
<p>“Kita ??”</p>
<p>“iya kita,..”</p>
<p>“Ada apa dengan kita ?”</p>
<p>“Aku ngerasa kamu menyimpan sesuatu yang sampai hari ini aku tidak pernah tahu apa yang kamu simpan dalam pikiranmu, aku juga bingung, kenapa aku juga enggan mempertanyakan padamu, mungkin kamu merasa nyaman untuk menyimpannya sendiri dan tidak pernah berbagi denganku, ya mungkin suatu saat kamu bisa menceritakannya kepadaku.”</p>
<p>Aku gugup, hmmm.. tunggu dulu, aku seperti terlihat bodoh. Culun atau apa namanya saat kamu mengatakan hal itu. seperti ada yang ingin di ucapkan, tapi.. tapi… ahh.. aku mengambil kamera kesayanganku, membidiknya tepat kearah wajahmu, kamu berusaha mengelak, lalu tersenyum.TEPAT !! aku memotretmu, diheningnya malam, aku memotretmu diantara gemerlapnya lampu-lampu jalan, lampu-lampu taman, dan lampu-lampu kolam. Aku memotretmu, tepat saat senyum bibirmu terlihat.  Aku memotretmu sekali lagi, untuk aku simpan didalam hati…</p>
<p>***</p>
<p>Disebuah pintu gerbang…</p>
<p>“Makasih ya untuk ngebuat kaki ku pegel-pegel, nemenin kamu mengambil gambar-gambar itu, makasih ya untuk makan malamnya, makasih untuk semuanya.”</p>
<p>“Oh ya, sama-sama, aku pulang ya.”</p>
<p>“hmm tunggu dulu…”  Kamu menarik lenganku, membuka sesuatu dari tasmu lalu mengeluarkan sesuatu. Sebuah kertas, iya sebuah kertas kecil.</p>
<p>“ini untukmu, mungkin lebih tepatnya untuk hasil potretmu, yang kamu simpan dalam hati.”</p>
<p>Aku seperti ingin teriak dalam hati. Bagaimana dia bisa membaca kalimat-kalimat yang mengalir dalam hatiku.</p>
<p>Segera ku tutupi ke gugupan ini.</p>
<p>“Selamat malam…”</p>
<p>“Aku pulang, selamat malam.”</p>
<p>Laju mobil, begitu cepat, tapi terasa sangat lambat bagiku. Aku buka secarik kertas ungu, tertulis sebuah puisi.</p>
<p>“Aku telah bernyanyi untukmu Tapi kau tidak juga menari Aku telah menangis di depanmu Tapi kau tidak juga mengerti Haruskah aku menangis sambil bernyanyi”</p>
<p>Untukmu, menemani hasil potret yang kamu simpan dalam hati….</p>
<p>Habis itu, yang ada hanya riak-riak kecil yang menggelitik disini…..</p>
<p>Boy Hidayat</p>
<p>7-October-2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/boyhidayat84.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/boyhidayat84.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/boyhidayat84.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/boyhidayat84.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/boyhidayat84.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/boyhidayat84.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/boyhidayat84.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/boyhidayat84.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/boyhidayat84.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/boyhidayat84.wordpress.com/461/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=boyhidayat84.wordpress.com&blog=2931987&post=461&subd=boyhidayat84&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://boyhidayat84.wordpress.com/2009/10/07/potret/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">boyhidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Reason of Love</title>
		<link>http://boyhidayat84.wordpress.com/2009/08/17/reason-of-love/</link>
		<comments>http://boyhidayat84.wordpress.com/2009/08/17/reason-of-love/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 06:19:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boyhidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://boyhidayat84.wordpress.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Cinta, seperti kumpulan sekotak permen karet yang berwarna-warni, seperti coklat cair atau batang yang ditengahnya di isi berbagai aneka rasa, kacang, strawberry, atau sejenisnya. Bahkan lebih jauh, sebagian orang memandang, cinta adalah kumpulan-kumpulan materi yang ternilai, yang bisa dihitung atau yang bisa dijumlahkan kelipatannya, semakin besar kelipatan “harga” maka akan semakin besar rasa cinta.
Jadi jangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=boyhidayat84.wordpress.com&blog=2931987&post=459&subd=boyhidayat84&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Cinta, seperti kumpulan sekotak permen karet yang berwarna-warni, seperti coklat cair atau batang yang ditengahnya di isi berbagai aneka rasa, kacang, strawberry, atau sejenisnya. Bahkan lebih jauh, sebagian orang memandang, cinta adalah kumpulan-kumpulan materi yang ternilai, yang bisa dihitung atau yang bisa dijumlahkan kelipatannya, semakin besar kelipatan “harga” maka akan semakin besar rasa cinta.</p>
<p>Jadi jangan salahkan jika aku selalu beranggapan, “cinta harus punya alasan..” bohong, jika mencintai seseorang tanpa alasan apapun. Hidup ini berwarna, dan harus diwarnai, merah putih, jingga, hitam, orange, atau biru, semua butuh biaya yang mahal ! “logika telah merusak segalanya !” kemurnian berfikir tentang perasaaan, terlalu berfikir tentang kemurnian sebuah ketulusan, logika selalu mengatakan,.. tidak akan pernah ada ketulusan yang tidak akan pernah dibayar, manis !.</p>
<p>“Aku salah, dan benar-benar salah..” mengenal dirimu, menyayangi dirimu. Ketidakberdayaan membuat logika semakin ganas berfikir, ketidakmampuan membuat “Nilai cinta” sebenarnya telah hilang. Aku salah, lalu harusnya aku telah kalah.</p>
<p>Lalu kalau bicara cinta, dan tidak ada sangkut pautnya dengan sebuah “nilai”, mengapa harus ada yang terluka ? mengapa harus ada yang kecewa ? cinta itu Cuma tembok besar yang menghadang, memisahkan semua perbedaan, hitam di sebelah kiri, lalu putih disebelah kanan.<br />
Cinta itu sebenarnya adalah jurang yang sangat dalam, jika masuk kedalamnya jangan pernah berharap untuk bisa keluar.</p>
<p>Cinta itu cermin, mengikuti setiap gerak langkah kita, cinta itu gema, bersautan antara panggilan satu dengan panggilan yang lain. Dan harusnya cinta tidak akan pernah ada yang bertepuk sebelah tangan. Kita yang membuatnya tidak bergema, kita yang membuatnya tidak bergerak, kita yang membuatnya tidak pernah bertepuk. Menimbulkan bunyi yang indah.</p>
<p>Prespektif cinta yang benar-benar salah, yang telah aku pahami.</p>
<p>***<br />
“Menikah itu menyatukan dua perbedaan yang teramat dalam,”<br />
“Iya, aku yakin, tapi ibarat berperang, jangan pernah ada di garis terdepan, jika kita tidak mempunyai senjata yang layak, begitu juga menikah, bagaimana bisa dikatakan siap jika kita tidak punya apa-apa ?”<br />
“iya, tapi kita punya cinta kan ?, perasaan yang kuat antara kita berdua,”<br />
“Menikah tidak makan cinta, sayang.” Ujarku<br />
“Tapi, dari cinta juga, yang akan menguatkan dirimu untuk memberikan nafkah bukan ?”</p>
<p>Aku diam, “Tapi, dari cinta juga, yang akan menguatkan dirimu untuk memberikan nafkah bukan ?” . ucapan itu membuat diriku bingung memutuskan sesuatu, sebuah perjalanan yang baru, yang akan aku jalani didepan nanti…</p>
<p>“Ada Tangan-Nya, yang membantu saat kita jatuh, ada cinta-Nya, yang selalu melindungi saat kita lupa, antara satu dengan yang lainnya, Ada Ikhlas-Nya, yang menjaga kamu, aku, dan mungkin anak-anak kita nanti, dikemudian hari, lalu apa yang kamu takutkan ?”</p>
<p>“Takut tak bisa membahagiakanmu..”</p>
<p>“kenapa ? jangankan besok, setahun, dua tahun, jika kita menikah. Hari ini pun aku sudah sangat bahagia denganmu, apalagi jika kita menikah ?”</p>
<p>Dia terus me-yakinkan, bahwa esok akan ada cerita yang lebih baik, akan ada cinta yang lebih baik, dibalik perjanjian suci bernama pernikahan. Dia terus me-yakinkan, bahwa menikah adalah cara terbaik menjaga cinta yang kita miliki.</p>
<p>“Cinta harus punya alasan sayang, itu yang selalu kamu bilang bukan ? itu juga sebabnya salah satu alasan kamu untuk segera menikahiku bukan ? maksudku, seharusnya..”</p>
<p>Aku diam, lalu berdoa dalam hati ;<br />
&#8220;Ya Tuhan, jika memang dia tulang rusukku yang hilang yang selama ini aku cari dalam setiap sujudku dan doaku, maka jadikanlah mahar terbaik ini, untuk menjadikannya halal bagiku, mencintai dia selamanya..amien”</p>
<p>Boy hidayat<br />
17-Agustus-2009<br />
Dalam setiap malam-malam doaku</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/boyhidayat84.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/boyhidayat84.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/boyhidayat84.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/boyhidayat84.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/boyhidayat84.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/boyhidayat84.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/boyhidayat84.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/boyhidayat84.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/boyhidayat84.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/boyhidayat84.wordpress.com/459/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=boyhidayat84.wordpress.com&blog=2931987&post=459&subd=boyhidayat84&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://boyhidayat84.wordpress.com/2009/08/17/reason-of-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">boyhidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>