Arsip untuk ‘Uncategorized’ Kategori

Rasa yang menyebalkan, tapi saya menikmatinya

22009vUTC12bUTCTue, 29 Dec 2009 03:04:21 +0000 04,2008

Tetap bergandengan

Terkadang, kita membutuhkan sambutan dan uluran tangan orang yang kita sayangi dalam menyelesaikan masalah dalam hidup ini, karena kita sadar kita tidak akan pernah bisa hidup sendirian. Begitu juga sama dengan hidup yang saya alami. Ketika kesendirian yang berlangsung untuk waktu yang cukup lama saya selalu beranggapan saya berada di “zona kenyamanan”- zona kenyamanan yang saya buat sendiri, tanpa berbagi, tanpa bercerita dan yang [paling penting ; terbangun sendiri jika sedang terjatuh. Tanpa ada uluran tangan. 

Saya tidak bermaksud untuk bermanja ria,  karena saya sangat sadar bahwa laki-laki diciptakan bukan untuk bermanja-manja riang. Laki-laki diciptakan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, menyikapi masalahnya sendiri, namun hal yang paling penting adalah laki-laki diciptakan untuk ikut juga menyelesaikan masalah orang yang disayanginya. Itulahj kodrat seorang laki-laki.

Dulu saya sering menyelesaikan masalah saya sendiri, dengan berfikir sendiri, dengan memecahkannya sendiri. Tapi ada yang saya lupakan. Saya juga butuh berbagi dengan orang lain, bukan hanya berbagi menyelesaikan sebuah masalah. Namun juga berbagi kebahagiaan, keindahan, dan hal-hal yang menyenangkan hati dan pikiran saya.

Setelah saya sadari, bahwa menyelesaikan masalah sendiri, termasuk dengan menikmati kesenangan sendiri, adalah rasa egoisme saya sebagai seorang laki-laki. dan itu sangat tidak layak. sangat tidak pantas, dan sangat-sangat egois. Ternyata kesendirian juga membuat saya ego, ambisius negatif.

Saya tidak menyadari dan saya akan segera keluar dari “comford zone” saya dengan segala kesendiriannya.

Sekarang, saya mempunyai teman berbagi, seperti tulisan saya sebelumnya, setiap yang ada di dunia ini pasti berpasang-pasangan, kiri dengan kanan, baik dengan buruk, atau hal-hal lainnya baik berpasangan maupun berlawanan, atau apa saja yang jelas tidak ada objek apapun di dunia ini yang tidak mempunyai ”pasangan”.

Setelah memiliki dia, kebersamaan baru segera muncul dari hidup saya, ada tangan yang lembut, yang bergelayut ditangan saya yang keras ini, ada yang ikut menggenggam tangan kanan saya, selain tangan kiri saya menggenggam. ada perempuan yang melihat sorot yang mata yang sangat tajam ini, namun tiba-tiba luruh seketika. Tapi yang paling saya sadari adalah, ada sebuah perasaan yang tidak dapat diterjemahkan oleh mulut dan tulisan saya dengan kapasitas laki-laki saya ini.

Sebuah rasa yang absurd, yang cuma bisa saya jelaskan ketika saya melihat matanya. Tunggu bukan saya jelaskan, tapi saya pahami arti rasa ini maksudnya… 

Cinta ? saya sendiri juga tidak tahu, apakah rasa cinta itu.

Yang saya tahu, rasa ini mengganggu malam-malam saya, yang seharusnya tidur dengan nyenyak. Tapi rasa ini, cukup membuat saya terjaga ditengah malam untuk waktu yang cukup lama.

Rasa ini menyebalkan, namun saya ikut menikmatinya.

Kamu, lingkari tanganmu dipergelangan tanganku

12009vUTC12bUTCMon, 28 Dec 2009 06:26:37 +0000 04,2008

“Sejak kapan, kamu menyayangiku ?”. Pertanyaan bodoh yang akhirnya aku sesali, melontarkan pertanyaan itu kepadamu. Padahal aku tahu persis, perempuan tidak menyukai sikap “keragu-raguan” perempuan juga tidak suka pertanyaan yang mengarahkan dirinya bahwa apa-apa yang sudah mereka berikan dianggap belum bisa menjawab pertanyaan “keragu-raguan” seorang laki-laki.

“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung hatimu.”

Kamu hanya tersenyum, melihat mataku dalam-dalam. Di sebuah kereta yang membawa kita pulang, untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama aku tidak pernah berjalan-jalan dengan seorang perempuan dan menonton film di sebuah bioskop, hanya dengan kamu.

“Sejak aku melingkarkan tanganku dipergelangan tanganmu.”

Cuma itu jawaban yang aku terima darimu. Sebuah jawaban yang sangat bijak. Karena sejak hari kamu menjawab pertanyaanku, kamu selalu melingkarkan tanganmu di pergelangan tanganku.

Sejak hari itu juga, dan di hari-hari berikutnya. Kamu berhasil memadamkan “rasa curiga” yang berlebihan didalam hatiku. Curiga, karena aku selalu bersikap untuk terus memakai logika, tanpa mengimbanginya dengan perasaan. Sebuah perasaan, yang sekarang baru aku sadari, bahwa itu membuatmu nyaman.

Kamu juga sering berpamitan melalui pesan pendek yang kamu kirimkan kepadaku.

“Aku mau potong rambut, boleh tidak ?”

“Aku mau nonton futsal, boleh ?”

“Aku mau, makan. Kamu sudah makan ?”

Pesan-pesan pendek ini yang menghantam hatiku bertubi-tubi, pesan ini pula yang mencairkan “logika” keras ku terhadapmu. Dan kamu berhasil menaklukannya.

Namun ada hal yang benar-benar membuatku porakporanda terhadapmu, sikap mu yang ingin belajar, ingin mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui, dan sebelum kamu bertanya kepada orang lain, kamu bertanya kepadaku terlebih dahulu. Saat itu aku baru mengetahui, aku begitu berarti untukmu. Setidaknya sekarang ini.

Kamu juga menjawab saat aku tanyakan, “mengapa kamu bertanya padaku terus, Tanya saja ke orang lain yang lebih tahu”. Kamu  menjawab ; “Sebelum aku percaya atas jawaban orang lain, aku harus percaya kepada jawabanmu terlebih dahulu.”

Kamu juga yang menepiskan bayangan masa lalu kita berdua, kamu selalu bilang ; “kita dipertemukan karena banyak kesamaan di masa lalu yang kita jalani, Mungkin Tuhan sengaja mempertemukan  kita berdua. Agar kita bisa sama-sama mengobati, dan belajar.”

 Kamu, iya kamu !

Yang masih saja melingkarkan tanganmu dipergelangan tanganku.

Yang mungkin suatu saat akan memeluk tubuhku, entah untuk sebuah keabadian, atau mungkin untuk sebuah perpisahan.

 

Boy Hidayat

28-december-2009

“catatan akhir tahun”