Arsip untuk Agustus, 2009

Reason of Love

12009vUTC08bUTCMon, 17 Aug 2009 06:19:40 +0000 04,2008

Cinta, seperti kumpulan sekotak permen karet yang berwarna-warni, seperti coklat cair atau batang yang ditengahnya di isi berbagai aneka rasa, kacang, strawberry, atau sejenisnya. Bahkan lebih jauh, sebagian orang memandang, cinta adalah kumpulan-kumpulan materi yang ternilai, yang bisa dihitung atau yang bisa dijumlahkan kelipatannya, semakin besar kelipatan “harga” maka akan semakin besar rasa cinta.

Jadi jangan salahkan jika aku selalu beranggapan, “cinta harus punya alasan..” bohong, jika mencintai seseorang tanpa alasan apapun. Hidup ini berwarna, dan harus diwarnai, merah putih, jingga, hitam, orange, atau biru, semua butuh biaya yang mahal ! “logika telah merusak segalanya !” kemurnian berfikir tentang perasaaan, terlalu berfikir tentang kemurnian sebuah ketulusan, logika selalu mengatakan,.. tidak akan pernah ada ketulusan yang tidak akan pernah dibayar, manis !.

“Aku salah, dan benar-benar salah..” mengenal dirimu, menyayangi dirimu. Ketidakberdayaan membuat logika semakin ganas berfikir, ketidakmampuan membuat “Nilai cinta” sebenarnya telah hilang. Aku salah, lalu harusnya aku telah kalah.

Lalu kalau bicara cinta, dan tidak ada sangkut pautnya dengan sebuah “nilai”, mengapa harus ada yang terluka ? mengapa harus ada yang kecewa ? cinta itu Cuma tembok besar yang menghadang, memisahkan semua perbedaan, hitam di sebelah kiri, lalu putih disebelah kanan.
Cinta itu sebenarnya adalah jurang yang sangat dalam, jika masuk kedalamnya jangan pernah berharap untuk bisa keluar.

Cinta itu cermin, mengikuti setiap gerak langkah kita, cinta itu gema, bersautan antara panggilan satu dengan panggilan yang lain. Dan harusnya cinta tidak akan pernah ada yang bertepuk sebelah tangan. Kita yang membuatnya tidak bergema, kita yang membuatnya tidak bergerak, kita yang membuatnya tidak pernah bertepuk. Menimbulkan bunyi yang indah.

Prespektif cinta yang benar-benar salah, yang telah aku pahami.

***
“Menikah itu menyatukan dua perbedaan yang teramat dalam,”
“Iya, aku yakin, tapi ibarat berperang, jangan pernah ada di garis terdepan, jika kita tidak mempunyai senjata yang layak, begitu juga menikah, bagaimana bisa dikatakan siap jika kita tidak punya apa-apa ?”
“iya, tapi kita punya cinta kan ?, perasaan yang kuat antara kita berdua,”
“Menikah tidak makan cinta, sayang.” Ujarku
“Tapi, dari cinta juga, yang akan menguatkan dirimu untuk memberikan nafkah bukan ?”

Aku diam, “Tapi, dari cinta juga, yang akan menguatkan dirimu untuk memberikan nafkah bukan ?” . ucapan itu membuat diriku bingung memutuskan sesuatu, sebuah perjalanan yang baru, yang akan aku jalani didepan nanti…

“Ada Tangan-Nya, yang membantu saat kita jatuh, ada cinta-Nya, yang selalu melindungi saat kita lupa, antara satu dengan yang lainnya, Ada Ikhlas-Nya, yang menjaga kamu, aku, dan mungkin anak-anak kita nanti, dikemudian hari, lalu apa yang kamu takutkan ?”

“Takut tak bisa membahagiakanmu..”

“kenapa ? jangankan besok, setahun, dua tahun, jika kita menikah. Hari ini pun aku sudah sangat bahagia denganmu, apalagi jika kita menikah ?”

Dia terus me-yakinkan, bahwa esok akan ada cerita yang lebih baik, akan ada cinta yang lebih baik, dibalik perjanjian suci bernama pernikahan. Dia terus me-yakinkan, bahwa menikah adalah cara terbaik menjaga cinta yang kita miliki.

“Cinta harus punya alasan sayang, itu yang selalu kamu bilang bukan ? itu juga sebabnya salah satu alasan kamu untuk segera menikahiku bukan ? maksudku, seharusnya..”

Aku diam, lalu berdoa dalam hati ;
“Ya Tuhan, jika memang dia tulang rusukku yang hilang yang selama ini aku cari dalam setiap sujudku dan doaku, maka jadikanlah mahar terbaik ini, untuk menjadikannya halal bagiku, mencintai dia selamanya..amien”

Boy hidayat
17-Agustus-2009
Dalam setiap malam-malam doaku

Kisah laki tua di tengah pasar

12009vUTC08bUTCMon, 17 Aug 2009 05:21:14 +0000 04,2008

Ini duka tak terbendung
Ini luka tak terobati,..
Dalam sepi dalam sunyi.
Aku sendiri tak pernah di hargai

Dulu berlari mengangkat senjata
Demi merah putih.
Dulu meringis menahan sakit
Demi proklamasi

Lalu benteng-benteng pertahan diri
Semakin ter kikis dan rubuh.
Aku sunyi
Demi merah putih

Ini duka tak terbendung
Ini luka tak terobati
Jika terus masih di jajah-dan terus di jajah
Bukan tak cinta pada bangsa
Tapi badan sudah tak berdaya

“Apa kata dunia ?”
Jika negeri ini masih susah
Dulu makan pakai ubi di tengah hutan
Tapi sekarang malah tak dapat makan sama sekali

Bukan perang penyebabnya
Bukan tanah subur yang terjajah lagi
Hanya karna anak bangsa yang sudah tak perduli

Jika tubuh ini masih berdaya
Aku siap angkat senjata
Jika tubuh ini sudah tak keropos
Aku rela di garis terdepan

Mati lebih dulu
Daripada di jajah melulu…
Bukan untuk aku
Hanya untuk anak – cucu bangsaku

Ini duka tak terbendung
Ini luka tak terobati
Ketika merah putih bersih
Sudah tak di hormati

Dulu, lusuh pun kain itu
Kami bangga, kami hormat
Merah darah kami
Putih cinta kami
Dalam satu kesatuan

Kini hanya simbol
Yang tak pernah dihargai
Se-keji itukah zaman ?

Jika tahu seperti ini,
Mungkin aku memilih mati sebelum menikmati kemerdekaan
Mimpiku merdeka manis
Mimpiku merdeka sejahtera
Tapi maut malah makin mendekati

Ini luka yang tak terbendung
Ini luka yang tetap tak terobati….

Boy hidayat
16-agustus-2009
Kisah laki-laki tua bercerita, membuat malu diriku yang menderita