Tiba-tiba aku ingat dia, Vara. Perempuan yang belakangan ini sering aku telpon setiap paginya, hanya ingin membicarakan; “Hey, bagaimana skripsimu ?” tiba-tiba saja dia mengirimkan pesan untukku,:”Aku sudah lulus, terima kasih dukungan dan doanya ya”.
Vara, perempuan yang tak pernah aku sadari, aku menariknya kedalam rongga kehidupanku, sebagai seorang sahabat yang begitu berarti. Entah sejak kapan aku mengenalnya, aku tidak tahu. Tapi yang aku ingat, ada janji kecil yang pernah kusebutkan, jauh sebelum aku mengenal dirinya ;
Siang itu dikantin Fakultas sastra.
“Jangan terlalu dalam melihatnya”
Aku heran, “kenapa ?”
“Sebab dia tidak mudah diraih”
Sebab dia tidak mudah diraih, itu yang aku ingat, pesan dari sahabatku, beberapa tahun, jauh sebelum aku mengenal kamu, Vara.
Dan entah, apakah takdir yang menyapa, atau memang lingkungan yang terlalu akrab dengan kita, 3 tahun kemudian, aku melihatmu. Tepat melihatmu didepan mataku, itu sebab kamu masuk di ruang yang sama.
Ada yang berbisik dalam hatiku, pikiranku,
“Hey, itu.. dia..”
Sejak itu aku tahu, kamu sangat dekat denganku, dan entah siapa yang memulai, dan bagaimana caranya, kita memulai “ritual” menelpon kamu tiap paginya.
Aku jadi ingat dia, Vara. Perempuan yang memberikan begitu banyak pelajaran tentang “diam” yang berarti untukku, aku pernah terjatuh, dan sangat terjatuh. Begitu bangkit mulai menghampiri, aku bertanya padanya, Vara.
“Kamu tahu kalau aku pernah jatuh ?”
“Tahu, lalu kenapa ?”
“Ah engga, aku pikir kamu gak tahu, kalau saat itu aku gagal”
“aku, Cuma ingin diam sejenak, memberikan waktu kepadamu, untuk berfikir. Lalu mulai bangkit kembali, untuk berusaha tahu, bahwa kamu mampu berjalan dengan kaki mu sendiri, sebab aku yakin kamu pasti mampu”
Aku juga ingat, bahwa kamu yang begitu banyak mengajarkan “diam”. Diam dalam sakit, diam dalam pedih, dan juga diam waktu kita pernah merasa bahagia, kamu selalu bilang, “kita hanya bisa menikmati apa yang kita rasakan itu, hanya sendiri. Dan kesendirian itu bisa kita rasakan Cuma dengan diam, memikirkannya..betul kan ?”
Vara, kamu hanyalah diam yang tak pernah sepi, dalam hidupku, dalam jalanku, dalam malamku, dalam hatiku.
Vara kamu hanyalah diam, yang tak pernah sepi, yang sampai hari ini tidak pernah aku mengerti.
Vara kamu hanyalah diam, yang tak pernah sepi…
Sahabat…
Boy Hidayat
13-July-2009
Untuk Vara, Diam yang tak pernah sepi.