Arsip untuk Mei, 2009

CINTA = PERHITUNGAN MATEMATIKA + PERASAAN = …

32009vUTC05bUTCWed, 20 May 2009 11:39:21 +0000 04,2008

CINTA = PERHITUNGAN MATEMATIKA + PERASAAN = …
(Sebuah prespektif logika..)

Cinta, kamu pernah mendengar kata ini ? mungkin bukan Cuma sekedar mendengar, namun ikut merasakan perasaan ini. Perasaan yang sulit sekali untuk dijelaskan, bagaimana rasanya ? Indah ? sakit ? atau hampa ? semuanya sama. Kita sama-sama bisa merasakan perasaan itu semua.

Tapi yang jelas perasaan tersebut cukup membuat kita bergetar, bahkan bergetar hebat. Jauh seperti yang kita pikirkan.

Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak pernah merasakan manisnya perasaan tersebut ? hampakah mereka ? mungkin saja mereka bukan tidak pernah mau merasakan hebatnya perasaan tersebut, mungkin mereka bukan menjauhi perasaan yang bisa membuat semuanya begitu indah dilihat tersebut, tapi mereka hanya tidak pernah diberikan kesempatan untuk merasakan manisnya perasaan tersebut. Tidak pernah diberi kesempatan oleh orang yang dicintainya…

***
Siang itu aku kembali duduk bersama dia, mengulas seluruh ungkapan perasaan yang hadir diantara kita, yang mungkin saja tidak pernah diungkapkan. Sulit untuk diungkapkan karena tragisnya keadaan…

Dia : kenapa sulit sekali kita memiliki perasaan orang lain ?
Aku : maksudnya ?
Dia : lalu egoiskah kita jika kita harus memaksakan kehendak bahwa kita harus memiliki perasaan itu ?
Aku : pernahkah kita berfikir, bahwa kita sudah cukup egois untuk menyimpan perasaan, sendiri, menikmatinya, tidak pernah berbagi, sehingga tidak pernah diutarakan ?
Dia : cinta dalam hati…
Aku : menurut kamu ? egoiskah orang yang hanya mencintai dalam hati ?
Dia : Tidak… mungkin karena waktu yang belum bisa memberikan kesempatan.
Aku : bukan Cuma tidak pernah diberikan kesempatan, tapi juga begitu banyak perhitungan.
Dia : cinta harus dihitung ya ? seperti matematika ?
Aku : Bukan Cuma harus dihitung, tapi juga harus dipertimbangkan. pernah mencintai seseorang, yang bukan hak kita untuk mencintainya ?
Dia : Tak bisa memiliki ?
Aku : Persis
Dia : Pernah
Aku : Rasanya ?
Dia : Seperti perih yang menjalar ke urat nadi.lalu memecahkan seluruh kantung sel darah yang ada, sakit sekali.
Aku : Sebab itulah cinta harus dihitung, cinta bukanlah perasaan yang hadir tanpa alasan, cinta juga bukanlah pintu surga yang menjanjikan kebahagian melulu, cinta itu sebuah perjanjian diatas sebuah ikatan, jika perjanjian dibatalkan maka putuslah ikatan tersebut, lalu bagaimana menghitung perjanjian tersebut, dengan retensi waktu yang lama. Harus ada fasilitas kan ?
Dia : ya…
Aku : apa fasilitasnya ?
Dia : Aku tidak tahu.
Aku: fasilitasnya adalah hati kita, mampukah hati kita menampung beban perasaan cinta yang berat tersebut ? lalu menjadikannya ringan seketika, cinta juga bukanlah sekedar perasaan yang tidak bisa diperhitungkan, cinta adalah tanggung jawab. Tanggung jawab memperhitungkan sanggupkah kita membahagiakan orang yang kita cinta ? dengan apa ? bagaimana ? seperti apa ? semua ada caranya, meskipun setiap cara pasti berbeda, begitupun dengan hasil yang akan kita dapatkan.
Dia : Lalu dimana posisi sebuah ketulusan ?
Aku : ketulusan akan hadir, ketika semua sudah diperhitungkan. Menjadikannya mapan, untuk menopang cinta yang ada, hingga menjauhkan keruntuhan yang bukan Cuma sekedar gubuk yang dimiliki, tapi juga rumah yang indah. Ketulusan justru hadir ketika semua fasilitas dapat dilengkapi, untuk membahagiakan perasaan orang yang akan kita cintai. Dengan cara yang berbeda…
Dia : lalu bagaimana dengan cinta yang tidak dapat dimiliki ?
Aku : Cinta harus dimiliki, itu adalah pembuktian bahwa kita benar-benar menganggap serius perasaan cinta tersebut. Cinta tak harus memiliki hanyalah alasan orang-orang yang kalah dalam berperang dengan keadaan dan perasaan !
Dia : Egois ?
Aku : Bukan, hanya sebuah pembuktian.
Dia : Jika kita tidak mampu ??
Aku : Jangan pernah berharap mencintai dengan ketidakmapanan ! karena itu hanya ada didalam novel atau mimpi indah.
Dia : Seperti kamu.. ??
Aku : salah satu alasan mengapa sampai hari ini aku tidak pernah memaksakan perasaan ini, karna aku tahu, aku tidak dapat memberikan fasilitas yang layak untukmu…

Boy Hidayat
20-May-09
Jakarta

SETIA…(Sebuah Monolog kesunyian perasaan)

12009vUTC05bUTCMon, 18 May 2009 04:10:57 +0000 04,2008

Ini adalah aturan hidup, yang sering kali kita lupakan, atau juga kita lewatkan. Ini adalah konsekwensi sebuah ucapan, yang terkadang kita tidak pernah sadar bahwa kita pernah mengucapkan, atau mungkin ini adalah hanya sebuah pemanis kata, untuk sekedar meluluhkan hatinya sementara.

 

Ungkapan itu bernama setia…

 

Cobalah kamu maknai dulu dari kata yang sederhana tersebut, lalu baru diucapkan. Kemudian pikirkanlah dalam-dalam rasuki diri, masihkah kita bisa mengatakan lalu mulai mengakui bahwa diri ini, mempunyai hati yang setia ? lalu ketika kata tersebut sudah diucapkan, tahukah kita akan seluruh resiko kata tersebut ?

 

Setia itu…

Perasaan yang mungkin akan datang ketika kita sudah mulai merasakan sakitnya dikhianati, atau perasaan yang datang saat dimana kita dilanda perasaan yang membunuh logika pikiran kita sehingga kata tersebut mudah diucapkan.

 

Kamu tahu, perasaan yang bernama setia tersebut sebenernya menyakitkan, selalu mempunyai konsekwensi dengan “menunggu”. Lalu jika kita mengetahui bahwa menunggu itu membosankan, layakkah kita mengatakan bahwa kita mempunyai perasaan bernama setia tersebut ?

 

Kamu tahu, setia menunggu mu adalah cara bagaimana aku sudah mulai memikirkan bahwa ternyata kamu lah yang terdalam, kamu tahu bahwa setia, adalah memegang janji untuk 10 tahun sendiri tanpamu atau tanpa siapa-siapa, adalah sebuah kesalahan pengucapan masa lalu, yang hingga hari ini sangat menyakitkan. Mempertahankan perasaan, lalu kita mengetahui, bahwa perasaan tersebut sudah tidak pernah bisa kamu miliki !

 

Mungkin penyesalan itu baru datang, ketika malam menghampiri, saat bayang-bayang masa lalu menghantui, saat hujan datang untuk menjemput mimpi-mimpi yang sebenarnya tidak akan pernah bisa dijemput. Antara aku dan kamu.

 

Masihkah setia ?

 

Berlari mengejar atau dikejar waktu, saat aku juga tidak pernah mengetahui kamu dimana…

Kamu tahu ?

Sebenarnya aku masih disini untuk setia…

Bersama lagu yang sama, bersama hujan yang sama…

Seperti 10 tahun yang lalu…

 

18-may-2009

Boy Hidayat

Jakarta